Berbagi Pengalaman Menulis di Bacarita Yakobi

Klikhijau.com โ€“ Menulis adalah sebuah pergulatan dan pengalaman panjang untuk belajar dan terus belajar. Begitu pesan kunci saya saat diminta membahas tentang pengalaman menulis di sebuah diskusi d...

Berbagi Pengalaman Menulis di Bacarita Yakobi
Bacakan Artikel

Anak muda ini punya ambisi agar tulisan opininya dapat terbit di Kompas. Koran prestisius, koran yang untuk menaikkan satu opini harus mendapat persetujuan empat orang redaktur opini sekaligus. Tiga orang setuju dan satu orang tidak berkenan maka tulisan tersebut tidak akan terbit.

Cita-citanya agar tulisan terbit di Kompas membuahkan hasil setelah berjuang mati-matian. Berkecimpung dengan membaca banyak sekali buku, perasaan kecewa yang kerap diterima ketika tulisanya dianggap sebelah mata.

Pada sisi yang lain, Gus Muh sebagai manusia biasa adalah jiwa yang mecintai. Dia juga membutuhkan jalan lain untuk mengagumi seorang perempuan. Tempat dia menggantungkan harapan dan keindahan .

[irp]

Sepotong sajak cinta adalah narasi yang menegaskan, tentang hati yang merindukan seorang gadis. Tempat segala kegelisahan dan pemberontakkanya berhenti, mencari titik keseimbangan.

Buku ini memberikan energi besar buat saya ketika itu -setidaknya tidak terlalu terlambat untuk memulai menulis sesuatu.

Sejak kecil ketika masih SD saya hanya dibekali dengan membaca buku-buku cerita di perpustakaan sekolah. Tentang hikayat lima sekawan dan buku yang lain serupa dengan itu.

Seringkali bertumpuk-tumpuk buku itu saya pinjam dan membawanya pulang ke rumah.

Satu-satunya pengalaman menulis, adalah lomba mengarang yang kerap diadakan pada tingkat SD, pernah juara dan sudah lupa berapa kali saya mengikuti perlombaan tersebut.

[irp]

Pengalaman menulis di media

Ketika tahun 1999, pengalaman magang seminggu di Identitas, penerbitan Koran kampus Unhas membuat saya sedikit punya bekal tentang ilmu Jurnalistik.

Namun celaka, lepas dari magang tersebut saya membuat tulisan dengan nama samaran. Isi tulisan tersebut adalah mengkritik teman-teman saya dan diri saya sendiri tentang fenomena praktikum Laboratorium Dental. Dan hasilnya hanya menimbulkan situasi yang heboh bagi teman-teman saya sendiri.

Pada Tahun 2001, saya dan tiga orang teman menulis kritik tentang infrastruktur pendidikan di Fakultas . Dan hasilnya kami harus berhadapan dengan birokrasi kampus. Tulisan dan kejadian itu hingga kini tetap abadi dalam benak saya, sejarah itu saya pahami sebagai militansi yang tak mudah dilakukan.

Setelah itu beberapa tulisan yangย  saya kirim ke Identitas memberikan energi baru, seperti artikel dalam kolom cermin "Cinta", sebuah ulasan tentang The Art Of Loving. Cerpen "Aku Ingin Sekolah" dan beberapa tulisan yang judulnya sudah terlupakan.

[irp]

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: