Berbagi Kisah Sebagai Dokter di Pulau Terpencil di “Bacarita Yakobi”

Klikhijau.com - Subuh yang begitu dingin dan hening, tetiba saya tergerak untuk menuliskan pengalaman Bacarita Yakobi yang diadakan (Sabtu 6 Juni 2020) via "meeting room zoom". Ketika saya diajak o...

Berbagi Kisah Sebagai Dokter di Pulau Terpencil di “Bacarita Yakobi”
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Subuh yang begitu dingin dan hening, tetiba saya tergerak untuk menuliskan pengalaman Bacarita Yakobi yang diadakan (Sabtu 6 Juni 2020) via "meeting room zoom".

Ketika saya diajak oleh Yayasan Komunitas Belajar (Yakobi) untuk share pengalaman hidup, saya langsung memilih topik perihal menulis, pengalaman ketika bertugas sebagai dokter gigi PTT di daerah sangat terpencil. Juga ulasan tentang kesehatan gigi sebagai episentrum kehidupan.

Ketiga aspek di atas menurut saya cukup relevan untuk disampaikan. Ini juga tentu sesuai dengan harapan Yakobi untuk mengajak setiap orang menyampaikan kisah-kisah inspiratifnya.

Tujuannya agar kisah-kisah yang tersampaikan dapat menjadi amunisi baru membangun retakan impian Indonesia yang mungkin masih sengkarut. Saya juga bermaksud untuk setidaknya dapat menebar jiwa optimisme bagi para pemuda Indonesia.

[irp]

Pengalaman jadi dokter di daerah terpencil

Tak ada yang paling berkesan ketika mengabdikan diri sebagai dokter yang bertugas di tempat sangat terpencil. Kehidupan akan seperti pelangi. Penuh warna, tantangan dan beberapa dapat dikatakan sebagai sebuah tragedi.

Tepatnya di Kepualau Aru!

Saya diantar oleh seorang staff Dinas Kesehatan Kepulauan Aru. Dari kota Dobo yang kecil itu sebuah speed boath dengan mesin 40 Pk berjejer empat buah pada buritan speed. Saya bersusah payah mengangkat koper yang cukup besar, duduk di samping motoris dan tidak bisa lagi bercakap-cakap tanpa teriak ketika laju speed mulai membelah laut menuju pulau mesiang. Sebuah pulau yang harus ditempuh sekitar 4 jam dari kota dobo, ibu kota kabupaten Kepulauan Aru.

Ketika sore hari menjelang magrib, kami tiba di sebuah dermaga kayu yang hening. Hanya ombak-ombak kecil dan beberapa kepiting kurus bertengger pada tiang-tiang dermaga yang mulai berlumut.

Saya Melangkahkan kaki dan dibantu oleh abang motoris yang baik hati membawakan koper yang berat itu. Kami memasuki sebuah kampung kecil. Rumah-rumah sangat sederhana berjejer tidak beraturan memenuhi kiri kanan jalan setapak menuju puskesmas mesiang. Tempat saya akan bertugas selama enam bulan ke depan.

[irp]

Di sebuah bukit agak pinggir dari pusat kampung, tiga buah gedung kecil berjejer. Gedung Puskesmas, Rumah dinas perawat yang memperihatinkan, dan rumah dinas dokter yang kecil tapi senyap dan terkunci. Dokter umum sebagai partner saya ternyata berangkat ke kota.

Staff dari Dinkes dan Motoris pamit pulang. Situasi yang membuat saya kaget karena saya pikir mereka akan bermalam dan tetap mengarahkan saya, setidaknya hingga esok hari.

Sore yang masih menampakkan matahari belum begitu mendekati bibir senja. Tapi burung-burung malam menyergap dengan suaranya yang beraroma rimba hutan belantara, kesunyian dan entah apa yang akan terjadi setelah melewati malam yang gelap dalam kamar. Tak ada suara kecuali suara jankrik dan episode kerinduan yang akan dimulai detik itu juga.

Titik balik perasaan sunyi malam pertama di pulau itu adalah jawaban dari sebuah pilihan dan risiko terhadap keinginan dokter gigi seperti saya yang ingin mencari tempat tugas paling jauh.

Niat itu sudah ada sejak dulu ketika hiruk pikuk kota Makassar memberikan kejenuhan luar biasa. Ingin rasanya merantau jauh dari keramaian.

[irp]

***

Orang-orang dewasa pulau mesiang sebagaian besar memiliki kisah sebagai nelayan yang terdampar di perairan di Australia. Mereka ditangkap dan dipenjara di negeri tersebut karena melakukan pembatantaian ikan hiu, mengambil siripnya dan menjualnya dengam harga mahal.

Australia walaupun geram, mereka tetap mendapatkan perlakuan baik di penjara. Diberi makanan bergizi, diobati ketika sakit, berolahraga bahkan pada situasi tertentu diajak jalan-jalan keliling kota darwin.

Kisah mereka membuat saya tertegun. Betapa hidup adalah sebuah teka teki dengan pengalaman-pengalaman unik. Masyarakat di pulau terpencil ini sungguh jauh dari kota. Mereka memiliki tempat yang entah karena alasan apa harus sejauh ini.

Akses kesehatan yang minim, sekolah yang hanya memiliki satu orang guru dan harga-harga bahan pokok yang mahal.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: