Berbagi Kisah Sebagai Dokter di Pulau Terpencil di “Bacarita Yakobi”

Klikhijau.com - Subuh yang begitu dingin dan hening, tetiba saya tergerak untuk menuliskan pengalaman Bacarita Yakobi yang diadakan (Sabtu 6 Juni 2020) via "meeting room zoom". Ketika saya diajak o...

Berbagi Kisah Sebagai Dokter di Pulau Terpencil di “Bacarita Yakobi”
Bacakan Artikel

Peristiwa lain yang patut dikenang adalah sebuah kondisi menakutkan yang saya alami. Sebagai dokter gigi saya harus melakukan ekpedisi dari beberapa Puskesmas yang dipisahkan oleh lautan bebas. Dari mesiang misalnya, saya harus ke Pulau Longgar Apara.

[irp]

Saya dan seorang teman sejawat dokter gigi dari UI ikut menumpang perahu nelayan pada suatu sore yang cerah. Kami membawa tas di punggung masing-masing dengan setumpuk alat pencabutan gigi yang tidak lengkap.

Bodi perahu yang agak buncit itu dikategorikan sebagai perahu buatan orang buton, agak berbeda dengan perahu bugis yang agak ramping. setidaknya ini informasi dari nelayan yang kami tumpangi.

Perlahan bunyi mesin perahu katinting ini menderu. Baling-baling kecil itu berputar dan mendorong perahu perlahan-lahan. Tiga orang nelayan yang baik hati itu berbincang dengan hangat, mereka senang kami ikut menumpang.

Ketika perjalanan kami tempuh sekitar satu jam, tiba-tiba di ufuk barat segumpal awan hitam pekat perlahan muncul, semakin lama semakin besar memenuhi langit di tengah lautan bebas. Angin kencang tiba-tiba muncul dan perahu yang dari awal membelah ombak-ombak kecil tiba-tiba terguncang oleh hentakan gelombang air yang tidak lagi biru.

Pantulan cuaca buruk hitam berkombinasi dengan langit yang kelihatan ganas membuat saya dengan drg.Ari saling menoleh.

[irp]

Tak ada suara yang keluar di antara kami. Pada titik ini saya pada suatu kesadaran yang paling terendah. Betapa kecil manusia yang kerap lupa diri ini. Perasaan ekskatologis itu menyertai membuat tubuh seolah-olah kehilangan energi dan jiwa tak lagi memikirkan tentang harapan-harapan yang akan dicapai. Sebuah perasaan yang sangat sulit saya defenisikan saat itu.

Interaksi kami yang harmonis dengan para nelayan itu lebih banyak tercipta dengan sinyal bahasa tubuh. Senyum dan tertawa bersama.

Satu hal yang membawa saya ciut ketika mereka bertiga menegak bergantian sebuah minuman jernih yang entah apa isinya. Teman saya berbisik mungkin itu adalah cap tikus, minuman alkohol lokal yang pupuler di tempat ini.

Cuaca buruk itu kami hadapi dengan diam. Tubuh kami terguncang hebat setidaknya berlangsung kisaran hampir satu jam, atau entahlah situasi tersebut kami tunggu cepat berlalu ketika itu.

Satu-satunya perasaan terhibur ketika melihat wajah nelayan itu yang tak menampakkan kekhwatiran. Entahlah karena cuaca buruk ini adalah hal biasa atau karena pengaruh minuman yang mereka teguk bergantian itu.

[irp]

Peristiwa itu begitu mendalam dan tak pernah terlupakan. Walaupun ketika perahu yang kami tumpangi berhasil tiba di dermaga kampung Longgar Apara. Disambut dengan langit yang kuning keemasan kombinasi biru yang indah. Tapi langkah kami antara lunglai dan semangat menyusuri jalan setapak kampung menuju Puskesmas yang juga posisinya di pinggiran,cukup jauh dari jantung perkampungan.

***

Desa long peso Kabupaten Bulungan adalah tempat kedua usai bertugas di Aru. Long Peso adalah sebuah desa yang sangat terpencil, untuk sampai di sana satu-satunya cara adalah naik speed boath atau perahu.

Ketika dari Tanjung Selor menuju tempat itu maka yang terjadi adalah melewati banyak jiram dan arus deras. Bebatuan kecil dan besar memenuhi sungai yang panjang itu, dan ditempuh dengan waktu yang cukup lama. Dua sampai tiga jam dari kota.

Hal yang paling berkesan adalah ketika harus melakukan pelayanan puskesmas keliling ke kampung-kampung. Sungai dengan arus yang menanjak, jiram-jiram yang ganas itu hanya bisa ditaklukkan oleh motoris berpengalaman.

Untuk bisa lolos dari perjalanan sungai yang terjal dan penuh risiko, seorang motoris harus bisa mengambil keputusan secara cepat untuk meliukkan speed, menghindar dari batu-batu besar dan melakukan manuver ketika bertemu dengan pusaran air di tengah sungai.

[irp]

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: