Gerakan Perempuan Menanam Perkuat Ketahanan Pangan

Klikhijau.com – Gerakan perempuan menanam dapat berkontribusi pada ketahanan pangan. Ini bisa didorong sebagai gaya hidup keluarga Indonesia, di desa-desa dan terutama di perkotaan. Hal ini penting...

Gerakan Perempuan Menanam Perkuat Ketahanan Pangan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Gerakan perempuan menanam dapat berkontribusi pada ketahanan pangan. Ini bisa didorong sebagai gaya hidup keluarga Indonesia, di desa-desa dan terutama di perkotaan.

Hal ini penting mengingat ancaman krisis pangan menghantui kita. Lihat saja, jika zaman dulu bahan pangan bisa dengan mudah didapatkan dari halaman, pekarangan rumah, sawah atau kebun sendiri, saat ini masyarakat mendapatkannya dengan cara lebih praktis; beli.

Perilaku masyarakat modern yang ingin serba praktis semacam ini ternyata juga mendorong pemenuhan kebutuhan pangan yang juga serba ingin mudah. Namun di sisi lain, masyarakat tidak lagi cukup sabar untuk menanam bahan pangan lokal sendiri sedari menyemai hingga siap panen.

Mereka cukup sedia uang dan tinggal menunggu atau bertandang sejenak ke jajakan tukang sayur.

Di desa-desa sekarang, tanaman singkong, umbi-umbian, sayur, dan buah sudah mulai jarang kita temukan. Berganti menjadi tanaman keras, tanaman tahunan, atau dikonversi menjadi pemukiman dan industri. Sebagian lahan justru malah dijual untuk modal mengadu nasib menjadi pekerja di negara lain.

Luas lahan untuk tanam singkong, misalnya. Berdasarkan Data Kementerian Pertanian (2014-2018) turun dari 1,003 juta hektar menjadi 792.952 hektar. Luas tanam umbi jalar dari 156.758 hektar jadi 106.226 hektar.

Data dan realitas tersebut menunjukkan bahwa cara masyarakat memenuhi kebutuhan bahan pangan sehari-hari masyarakat pedesaan saat ini sama dengan masyarakat urban. Bedanya hanya harga jual dan harga beli.

Akses pangan dan pandemi

Dalam situasi pandemi Covid -19 seperti sekarang ini, perubahan perilaku dasar dalam mengakses sumber bahan pangan masyarakat yang ”serba beli” tentu akan sangat memengaruhi ketahanan pangan nasional. Masyarakat juga musti terpaksa mengencangkan ikat pinggangnya untuk tetap bertahan hidup.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperingatkan negara anggotanya untuk menjaga ketersediaan pangan nasional masing-masing.

Mengutip Hermas E Prabowo dalam tulisannya di Kompas 27 April 2020 bertajuk Mengantisipasi Ancaman Kelaparan Nasional di Era Pandemi Covid-19, kebijakan pangan Kementerian Pertanian yang business as usual, seperti jaminan ketersediaan pangan, jaminan harga, dan stabilitas pasokan saja tidaklah cukup, baik stoknya dari lokal maupun impor.

Ancaman ketahanan pangan merupakan problema multidimensi dan sangat kompleks. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Bukan semata menyoal stok dan harga, melainkan juga soal daya beli yang turun drastis. Bahkan bisa mencapai Rp 0, juga bagaimana pemerintah mempunyai otoritas untuk mengatur ikhwal rantai pasok bahan pangan dengan kalkulasi yang tepat (Aulia Putri Pandamsari, 2020).

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2