Protes Keras Koalisi Masyarakat Sipil untuk Alih Fungsi Lahan Gambut di Kalteng

Klikhijau.com – Protes keras diajukan koalisi masyarakat sipil untuk proyek cetak sawah atau food estate di lahan gambut di Kalimantan Tengah. Proyek yang rencana pengerjaannya berlangsung mulai ta...

Protes Keras Koalisi Masyarakat Sipil untuk Alih Fungsi Lahan Gambut di Kalteng
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Protes keras diajukan koalisi masyarakat sipil untuk proyek cetak sawah atau food estate di lahan gambut di Kalimantan Tengah.

Proyek yang rencana pengerjaannya berlangsung mulai tahun 2020 hingga 2022 ini menargetkan sawah baru seluas 165.000 hektare. Selain Kementerian Pertanian, program food estate juga akan digarap oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan Kementerian BUMN.

Koalisi masyarakat sipil tersebut terdiri dari WALHI, Auriga, Greenpeace, Pusaka, Save Our Borneo, JPIC Kalimantan dan LBH Palangkaraya. Mereka menilai proyek ini sebagai kebijakan yang keliru yang berkedok di balik isu ancaman krisiss pangan.

Pemerintah dianggap tidak belajar pada kegagalan masa lalu. Selain itu, proyek ini dianggap minim kajian ilmiah dan partisipasi masyarakat.

Dalam pernyataan sikapnya yang masuk ke meja redaksi Klikhijau, koalisi mengajukan tuntutan tegas dengan 3 analisis, berikut penjelasanya:

Pertama, Proyek ini akan menambah kerugian negara!

Karena itu, proyek ini harus dihentikan mengingat sejarah masa lalu.

Sejarah mencatat bahwa Negara pernah gagal pada program yang sama di lahan gambut seluas sejuta hektar  yakni di masa pemerintahan orde baru, tahun 1995.

Proyek yang ditetapkan melalui Keppres no 82/95 yang diterbitkan oleh Presiden Soeharto yang akhirnya  diputuskan berakhir dan gagal pada tahun 1998 melalui keppres 33/98 di masa pemerintahan BJ Habibie.

Kegagalan tersebut, menurut  Koalisi masyarakat sipil, dilatarbelakangi ketidakpahaman dan kurangnya kajian sosio-ekologis pada ekosistem gambut. Padahal proyek tersebut telah menyedot APBN hingga 1,6 Triliun.

Selain gagal total, sebagian wilayahnya telah berganti menjadi perkebunan sawit hingga saat ini. Ironisnya proyek ini dibangun dengan menggunakan Dana Reboisasi (DR)  yang diperuntukan untuk  pemulihan hutan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2