Akar Leluhur

Sibuk.  Kata itu tertulis di pintu rumahnya. Beberapa hari ini ia memang jarang kelihatan. Ia tak pernah lagi berkumpul dengan warga lainnya. Apalagi menerima tamu di rumahnya. Daeng Kulle dan keluarg...

Akar Leluhur
Bacakan Artikel

[irp]

Aku menarik napas, ketika ingin melangkah masuk ke halaman rumah Daeng Kulle. Sempat kudengar ibuku marah-marah terhadap pemerintah yang menghilangkan minyak tanah seenaknya .

“Ia pikir rakyat telah kaya semua,” begitulah yang kudengar sekilas. Kalau ibuku mengeluh begitu, maka ayahku hanya akan terus mengeluarkan pandangan-pandangan cemerlangnya. “Kita ini selalu saja menyalahkan pemerintah, menyumpahi, tapi kalau ia datang ke kampung kita, semua yang enak-enak disuguhkan, bendera dinaikkan, lalu bagaimana mereka tahu kalau hidup kita melarat,” ungkap ayahku, aku hanya tersenyum sambil berlalu.

Dengan perasaan deg-degan, aku melangkah masuk kehalaman belakang rumah Daeng kulle, mataku terbelalak menyaksikan tumpukan kayu bakar yang sudah di ikat dengan nama warga di desaku tertempel pada tiap ikatan kayu bakar itu. Ada juga nama ayahku ditumpukan kayu itu.

Di salah satu bangku yang ada di pojok agak tersembunyi kulihat Salmia menggerak-gerakkan sesuatu diwajahnya untuk mengusir  panas dan peluhnya. Ia tersenyum ketika melihatku, aku tertunduk. “Jadi ini yang membuat keluarga ini sibuk,” simpulku.

Makassar, 09 Agustus 2009

[irp]

Pilih Halaman: