Akar Leluhur

Sibuk.  Kata itu tertulis di pintu rumahnya. Beberapa hari ini ia memang jarang kelihatan. Ia tak pernah lagi berkumpul dengan warga lainnya. Apalagi menerima tamu di rumahnya. Daeng Kulle dan keluarg...

Akar Leluhur
Bacakan Artikel

[irp]

*****

Ibuku duduk lesuh di kursi plastik yang telah kusam warnanya. Ia mengurut keningnya. Mungkin dalam pikirinnya. Asap tak bisa lagi mengepul di dapur, lalu kami makan apa?.

Aku harus mencari cara, mencari kayu bakar di kampung seberang, karena di desaku kayu bakar juga semakin susah seperti halnya minyak tanah. Pohon-pohon diganti dengan tanaman bunga dan pohon yang tidak di izinkan ditebang oleh pemerintah.

Kian rumit saja permasalahan yang menderah warga, banyak warga mengeluh dan merasa dikerjai oleh pemerintah. “Apakah pemerintah tidak punya lagi kerjaan sehingga yang dikerjakan menyusahkan warganya sendiri,” kata-kata seperti itu tidak asing lagi kudengar dari warga sejak minyak tanah mulai langka.

Untunglah beberapa bulan sebelum minyak tanah langka, pembagian tabung kompor gas kecil berwarna hijau muda telah dijadikan penawar kecewa, meski anggarannya ada juga yang disunat. Tidak ada jalan lain, lorong dan bahkan jalan setapak pun tertutup, warga harus menggunakan kompor gas bertabung hijau itu. Rasa takut harus dilawan.

Kini hampir semua warga tidak lagi bisa berkumpul di balai-balai atau di taman desa yang sudah didesain sedemikian rupa indahnya. Sejak warga menggunakan kompor gas bertabung kecil, waktunya nyaris terkuras untuk menjaga kompor itu agar tidak meledak.

Tak ada lagi perbincangan tentang Daeng kulle. Warga larut dalam kobaran si mungil hijau itu. Warga mungkin mengerti kenapa Daeng Kulle jarang kelihatan keluar rumah. Atau kalau keluar selalu pagi buta dan pulang dini hari. Tak ada tanya itu lagi. Warga mengira Daeng Kulle dan keluarganya juga sibuk menjaga kobaran kompor hijau itu.

Kini di rumah warga termasuk di rumahku bergantungan tulisan lagi sibuk menjaga kompor gas mungil bertabung hijau, agar tidak meledak. Ahh, aku selalu ketawa ketika membaca tulisan itu. Benar-benar warga telah dibuat takut oleh tabung kompor mungil itu.

[irp]

*****

Lalu bagaimana dengan Daeng Kulle, benarkah beliau hanya tinggal di rumah untuk menjaga tabung kompor tersebut agar tidak meledak?. Kalau hanya begitu, aku ingin menemui Salmia sebentar senja di banggu panjang belakang rumahnya, aku ingin mengganggunya. Aku harus ketemu dengannya, biar bagaimanapun ada rindu yang terus mengetuk relung hatiku. Rasanya aku telah jatuh cinta pada anak tunggal Daeng Kulle tersebut.

Aku menjadi lelaki yang terpasung dalam sepi. Teman kanak-kanakku telah banyak yang menikah, belum lagi yang merantau, belum lagi yang melanjutkan pendidikannya di ibukota provinsi. Aku tak bisa melanjutkan pendidikan karena persoalan ekonomi keluarga. Jadilah aku lelaki penunggu pos ronda. Kesepian itu kian terasa ketika Salmia yang baru duduk di kelas tiga esema menghilang.

*****

Senja ini kuturuti rencanaku untuk mendatangi rumah Daeng Kulle, beberapa hari yang lalu aku selalu ingin ke sana, hanya di desaku ada tradisi yang tidak boleh memasuki pekerangan orang lain kalau penghuninya tidak ada di rumahnya. Tapi senja ini aku ingi melanggar tradisi ini. Demi rindu yang merongrongku. Aku harus ketemu dengan Salmia, aku ingin menatap lesung pipinya yang rekah. Menikmati parasnya yang menawan. Tutur sapanya yang teratur dan terjaga.

Ia memang mewarisi sifat-sifat ibunya yang lemah lembut. Ternyata tidak ada yang berarti selama ia masih berada di sisi kita. Sesuatu baru terasa berarti ketika ia telah melangkah jauhi tapak dan pandangan kita seperti Salmia bagiku.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: