Seperti Pernah

Rumpun bambu itu telah ada, jauh sebelum Puang Lamintang lahir, lelaki paling tua di kampung itu. Tak ada yang tahu sejak kapan tumbuh. Tak ada juga saksi mata yang melihat siapa yang menanamnya atau...

Seperti Pernah
Bacakan Artikel

Merasa kecewa karena aku tak pernah lagi menemukan perempuan itu. aku berniat menjual kembali kebun kopi seluas setengah hektar itu. Aku juga ingin meninggalkan kampungโ€”kembali merantau. Aku akan menjualnya beserta rumpun bambu itu. Ada orang kota ingin membelinya. Orang kota tak percaya mitos. Hanya jadi kendala karena aku tak memiliki sertifikat tanah dan akta jual beli. Orang kota selalu mempermasalahkan kedua hal itu.

Pada malam Jumat yang gerimis pula, saat aku berniat menjual kebun kopi ย dengan rumpun bambunya. Aku bermimpi aneh, perempuan itu datang mencekik leherku. Ketika bangun leherku sakit. Aku ingin menceritakannya kepada Puang Kamaruddin apa yang kualami.

Paginya, aku bergegas menuju rumahnya. Beberapa warga bertanya kepadaku. Apakah semalam aku mendengar jeritan tangis dari rumpun bambu itu?. Aku hanya menggeleng, suaraku tak bisa lolos, tertahan saja di tenggorokan.

[irp]

Pilih Halaman: