Seperti Pernah

Rumpun bambu itu telah ada, jauh sebelum Puang Lamintang lahir, lelaki paling tua di kampung itu. Tak ada yang tahu sejak kapan tumbuh. Tak ada juga saksi mata yang melihat siapa yang menanamnya atau...

Seperti Pernah
Bacakan Artikel

โ€œKampung ini pernah dilanda musim kemarau berkepanjangan. Air berhenti mengalir, semua sumber mata air kering kecuali sumur yang ada di bawa rumpun bambu itu. Setiap hari orang datang berbondong-bondong mengambil air, tapi tak pernah habis bahkan keruh,โ€ terang Puang Gani, sang Ketua RT.

โ€œKenapa tak dipasangi dinamo, mesin air, hingga warga tak perlu repot ke sana mengambil air, kan kasihan?โ€ tanyaku

โ€œItu pernah dicoba, dinamo yang dipasang rusak, telah berkali-kali, tapi tak pernah berhasil, barangkali arwah Puang Majakarra tak rela,โ€ jawab Puang Gani sambil mengelus jenggotnya yang mulai memutih.

[irp]

Magis perempuan

Pada hari Jumat yang gerimis. Di pagi hari aku ke kebun kopi itu untuk menebang pisang. Suasana gigil dan cekam kuabaikan, lagi pula jarak dari rumah ke kebun kopi tak terlalu jauh. Hanya ditempuh sepuluh menit jalan kaki. Cerita mistik rumpun bambu tersebut tak membuatku gentar. Barangkali karena aku sudah terbiasa ke sana. Faktor terbiasa akan menghilangkan rasa takut.

Ketika mendekati sumur itu, suara gemericik air serupa orang sedang mandi terdengar. Aku abai saja, paling warga setempat yang mengambil air. Tapi, semakin dekat, semakin terdengar riciknya yang aneh. Rasa penasaranku membukit, aku mendekatinya. Dari jarak tujuh meter, aku melihat seorang perempuan sedang memandikan anaknya.

Ketika ia menyadari kehadiranku, perempuan itu menoleh dan tersenyum kepadaku. Aku juga tersenyum meski kikuk karena kedapatan mengintip. Rambut perempuan itu diikat seperti ekor kuda, kulitnya putih mengilap. Sorot matanya tajam, ia tak berlesung pipi. Alisnya tebal, hidungnya kecil serasi dengan wajahnya yang imut. Bibirnya tipis.

Hemmm, aku tak tahu, kenapa aku bisa mendeskripsikan sedetail itu parasnya, padahal kami bertemu pandang tak cukup dari lima menit dengan jarak tak terlalu dekat. Tapi, ada daya magis perempuan itu yang tak pernah kutemui pada perempuan lain.

Setelah benturan tatapan kami berakhir, aku melangkah ke kebunโ€”menebang pisang dengan tergesa kemudian pulang. Aku ingin kembali melihat perempuan itu. Tapi, ketika aku sampai di sumur, perempuan tersebut telah tiada. Bahkan bekas memandikan bayinya pun hilang. Aku merinding dan berlari secepat mungkin. Ketakutan memberiku kekuatan yang tak biasa.

Memekarkan gelisah

Sejak kejadian di pagi yang gerimis itu. Aku selalu gelisah, tak bisa tidur, seakan ada rindu yang menyanggahku untuk tetap terjaga. Setiap pagiโ€”selama berbulan-bulan aku selalu bergegas ke sumur tersebut untuk mencari perempuan itu. Tapi, aku tak pernah lagi melihatnya. Perempuan-perempuan di kampung itu pun sering kuperhatikan, tapi tak ada wajah perempuan tersebut.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: