Ditetak Ayah

“Ini kedua kalinya gagal panen,” kataku dengan mata yang mulai dijenguki gerimis. Jika pun mataku berubah hujan deras tak ada yang lihat—termasuk kamu. “Menangislah!” bisikmu lembut. Tapi, terdenga...

Ditetak Ayah
Bacakan Artikel

“Ini kedua kalinya gagal panen,” kataku dengan mata yang mulai dijenguki gerimis. Jika pun mataku berubah hujan deras tak ada yang lihat—termasuk kamu.

“Menangislah!” bisikmu lembut. Tapi, terdengar nyaring di speaker gawaiku. Gawai yang kubeli dua tahun lalu dari hasil panen jagung.

Tahun ini, aku berencana menggantinya, tepatnya menambahnya. Aku telah lelah bertengkar dengan Binar. Benar-benar lelah.

Sejak ia belajar online karena pandemi. Aku tak pernah akur dengannya perihal gawai. Ia lebih menyukai memakai gawaiku belajar online ketimbang milik ibu atau ayahnya.

[irp]

Sejak nenek menyusul ibu ke ruang jauh. Aku mulai belajar lebih mandiri dari biasanya. Tepatnya aku terjebak di dalam kemandirianku yang terpaksa.

Aku harus terjun ke kebun. Menanam jagung, merawat, dan memanennya. Jika tak demikian—aku harus rela berpuasa dari memenuhi segala kebutuhanku.

Meski kakakku tak membiarkanku bekerja di kebun karena fisikku lemah. Tapi, aku tak enak jika hanya tinggal di rumah—di rumahnya tanpa melakukan apa-apa.

Aku memang memiliki ayah, sebagai anak perempuan dan bungsu pula. Harusnya aku jadi kebanggaannya. Namun, tak demikian adanya. Aku dipaksa oleh ayah untuk mandiri dengan cara yang kejam—diusir dari rumah demi istri barunya. Perempuan yang membuat lidahku gatal jika harus kupanggil ibu.

Perempuan itu—istri kedua ayah, aku tahu ia tak  benar-benar mencintai ayah. Ia hanya mengincar hartanya—termasuk rumah di mana aku terusir dan harus mengungsi ke rumah kakak. Entah sampai kapan. Mungkin aku akan meninggalkan rumah kakakku ketika kamu datang membawa mahar dan membawaku ke kampungmu yang jauh.

Dahaga yang ingin tunai

Di kampungmu, seperti sering kau ceritakan di telepon atau di chat—berhawa dingin. Aku tak tahu apa bisa bertahan di sana atau tidak. Aku alergi dingin.

Namun, kamu berjanji akan menyelimutiku dengan dua tanganmu—mendekapku di pelukmu hingga gigil tak berani menyentuh tubuhku. Aku percaya saja, meski aku tahu—tak ada pasangan yang benar-benar bisa bersama selama 24 jam dalam sehari. Tak ada.

Namun, aku juga tahu di kampungmu, aku bisa menuntaskan dan menunaikan segala dahagaku perihal buku. Kamu juga menyukai buku dan sedang merintis perpustakaan alam. Para pembaca tak salah baca pembaca, perpustakaan alam—di alam terbuka di atas sebuah bukit. Itu keren, bukan?.

[irp]

Entahlah apa motivasimu, padahal aku yakin kamu juga tahu, sangat tahu jika buku tak begitu menarik sekarang ini. Sejak kelahiran gawai, gawai lebih menggoda untuk dilototi. Itu pula yang membuat aku dan Binar—ponakanku itu yang baru kelas empat Sekolah Dasar membuat kami acap bertengkar—memperebutkan satu gawai yang kubeli dari hasil panen jagung dua tahun lalu.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: