Segala yang Hanyut ke Laut

Sebelum Burung Peliharaan Terbang   Bibit pohon kersen setinggi lutut  kemarin telah kutanam tepat di depan rumah, berdampingan dengan bibit pohon mangga pemberian tetangga awal kita pindah....

Segala yang Hanyut ke Laut
Bacakan Artikel

Percaya padaku sekali ini, carilah sandal jepit yang hanyut di sekitar pantai itu.

Bakarlah! Satu-satunya yang bisa kau bakar hanyalah sandal jepit itu... Kau boleh memakiku nanti, tapi kau harus menghangatkan badan ayahmu terlebih dahulu. Memakiku tak cukup mampu menghangatkan seluruh badan. Hanya sebatas telinga! Nada bicaraku mulai mengeras. Mencoba mengalahkan langitmu yang tangisannya kian deras.

Panggilan telepon terputus seiring suara gemuruh yang memekakkan telinga sampai di telingaku. Kau mengirim beberapa pesan entah berapa jam setelahnya. Alhamdulillah, terima kasih telah memberikanku pengetahuan berharga. Aku berharap, sampah apa pun yang manusia buang ke sungai, akan berenang menuju laut lalu malih rupa menjadi sandal jepit. Hanya sandal jepit lah yang mampu terbakar saat basah. Dan hanyalah kaulah yang tak terbakar oleh amarah.

Tak perlu khawatir tak menemukan sandal jepit, laut kini telah berubah tempat sampah, gumamku. Terima kasih bagi yang telah membuang sandal jepit kelaut, yang akan menyelamatkanmu dari gigil, lanjutku sebelum lelap kembali memeluki mataku.

[irp]

Sepasang Tamu yang Asing


 

Aku baru saja menyiapkan gawai untuk menuliskan satu cerita

Sebelum suara motor matic memecah kesunyian malam dan memarkirnya tepat di halaman rumahku

Malam Minggu tentu saja bagi kawula muda mempunyai janji kencan tak jadi soal

Masalahnya, aku sama sekali tak menunggu tamu dan memiliki janji temu.

Mereka membunyikan klakson, seakan memastikan aku ada di rumah.

Kujawab dengan melongok melalui jendela; siapa?

Kami, jawabnya!

Naiklah. Jawabku dengan ragu-ragu. Meskipun mereka sepasang asing

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: