Menarik, Emisi Karbon Dapat Disulap Jadi Bahan Bakar Berkelanjutan

oleh -42 kali dilihat
Emisi Meningkat Pasca Pandemi, Aksi Iklim Indonesia Dinilai Tidak Memadai
Iustrasi - Foto/ Anne Nygård on Unsplash

Klikhijau.com – Salah satu penyebab perubahan iklim adalah emisi karbon. Karena itu, kehadirannya mulai meresahkan dan harus dibasmi.

Emisi  menurut Cambridge Dictionary adalah sejumlah gas, panas, cahaya, dan lain-lain yang dikirimkan keluar.

Sedangkan emisi karbon bisa diartikan gas yang dikeluarkan dari hasil pembakaran senyawa. Hasil pembakaran itu mengandung karbon, misalnya CO2, LPJ, solar, serta bahan bakar lainnya.

Karena menjadi penyebab perubahan iklim dan pemanasan global bersama dengan Gas Rumah Kaca (GRK) maka emisi karbon perlu dicarikan cara agar bisa teratasi.

KLIK INI:  Tentang Negara G7 dan Cara Mengakhiri Penggunaan Energi Fosil

Jika tidak, maka kehadirannya bisa menyebabkan masalah yang buruk bagi lingkungan hidup, kesehatan manusia, bahkan dapat menciptakan ketidakstabilan ekonomi.

Di Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengesahkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK).

Indonesia  berkomitmen akan menurunkan emisi karbon 41 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2030 mendatang.

Sementara itu, belum lama ada sebuah tim peneliti dari University of Cambridge di Inggris dan Nova University Lisbon di Portugal.

Penelitian tersebut mengembangkan metode yang efisien untuk mengubah karbon dioksida menjadi bahan bakar.

Bahan bakar yang dihasilkan nantinya diklaim  bersih dan berkelanjutan tanpa produk atau limbah yang tidak diinginkan.

KLIK INI:  Tahun 2022, Indonesia Perlu Kejar Kesiapan Ekosistem Transisi Energi

Penelitian itu dipublikasikan dalam dua makalah terkait di  Nature Chemistry  and  Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Dapat diubah jadi bahan bakar

Hasil yang ditemukan menunjukkan bahwa emisi karbon yang mencemari dapat diubah menjadi bahan bakar bersih secara efisien tanpa ada energi yang terbuang.

Sebagian besar metode untuk mengubah CO 2 menjadi bahan bakar,juga menghasilkan produk sampingan yang tidak diinginkan seperti hidrogen.

Meskipun kondisi kimia dapat diubah untuk meminimalkan produksi hidrogen, proses ini mengurangi kinerja untuk konversi CO2.

Artinya, bahan bakar yang lebih bersih dapat diproduksi, tetapi hanya dengan mengorbankan efisiensi.

Sebagai bukti konsep yang baru dikembangkan ini bergantung pada enzim yang diisolasi dari bakteri untuk menggerakkan elektrolisis – reaksi kimia yang mengubah CO2 menjadi bahan bakar.

Sementara enzim lebih efisien daripada katalis lain, seperti emas, mereka sangat sensitif terhadap lingkungan kimia lokal.

KLIK INI:  8 Daun yang Paling Akrab Dijadikan Lalapan Mentah di Meja Makan
Sesuai harapan

Dengan menyempurnakan kondisi solusi untuk mengubah lingkungan lokal enzim. Para peneliti berhasil meningkatkan efisiensi produksi bahan bakar hingga 18 kali lipat, dibandingkan dengan upaya sebelumnya.

Selain itu, menambahkan enzim ekstra untuk mengendalikan lingkungan, mereka mempercepat reaksi, baik meningkatkan efisiensi dan mengurangi produk sampingan yang tidak diinginkan.

Dr. Sam Cobb, penulis pertama  makalah Nature Chemistry dan juga pakar Elektrokimia dan Bioelektrokatalisis di Universitas Cambridge mengatakan, hasil penelitian tersebut sesuai dengan yang diharapkan

“Kami berakhir hanya dengan bahan bakar yang kami inginkan, tanpa produk sampingan dan hanya kehilangan energi marginal, menghasilkan bahan bakar bersih dengan efisiensi maksimum,” katanya.

Cobb juga menambahkan bahwa dengan mengambil inspirasi dari biologi. Hal itu akan membantu mereka mengembangkan sistem katalis sintetik yang lebih baik, yang akan  diperlukan jika mereka akan menerapkan elektrolisis CO 2  dalam skala besar.

“Begitu Anda berhasil membuat katalis yang lebih baik, banyak masalah dengan  elektrolisis CO2 hilang begitu saja . Kami menunjukkan kepada komunitas ilmiah bahwa begitu kami dapat memproduksi katalis masa depan. Kami akan dapat menghapus banyak kompromi yang saat ini dibuat. Karena apa yang kami pelajari dari enzim dapat ditransfer ke katalis sintetik, ”tambahnya.

KLIK INI:  Post 2020 GBF dan Arti Pentingnya bagi Indonesia

Proses tersebut akan memainkan peran penting dalam mengurangi emisi karbon. Alih-alih menangkap dan menyimpan karbon dioksida. Upaya yang sangat intensif energi – elektrolisis dapat menangkap karbon dan mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna, dengan cara yang hemat energi.

“Di masa depan kami ingin menggunakan apa yang telah kami pelajari untuk mengatasi beberapa masalah. Masalah yang menantang, yang dihadapi oleh katalis mutakhir saat ini. Misalnya  menggunakan CO2  langsung dari udara. Karena ini adalah kondisi di mana sifat-sifat enzim sebagai katalis ideal benar-benar bisa bersinar,” pungkas Dr Cobb seperti dikutip dari Earth

Cara lain mengurangi jejak karbon

Selain cara di atas, sebenarnya telah banyak cara yang telah disiarkan untuk mengurangi emisi karbon, di antaranya lebih memilih menggunakan transportasi umum daripada transportasi pribadi, beralih ke penggunaan energi terbarukan.

Selain itu, mengerem kebiasaan konsumtif, yakni harus mengubah gaya hidup dan kebiasaan membeli. Hal lain yang perlu dilakukan adalah memperbanyak berjalan kaki, mengurangi konsumsi daging, lebih banyak mengonsumsi makanan lokal hingga mengurangi penggunaan listrik.

KLIK INI:  Pemanasan Global, Perubahan Iklim dan Krisis Iklim, Apa Makna Istilah Ini Sama?