Segala yang Hanyut ke Laut

Sebelum Burung Peliharaan Terbang   Bibit pohon kersen setinggi lutut  kemarin telah kutanam tepat di depan rumah, berdampingan dengan bibit pohon mangga pemberian tetangga awal kita pindah....

Segala yang Hanyut ke Laut
Bacakan Artikel

Begitu kalimat pembuka ketika kau mengabariku Minggu lalu. Kabar yang menjadikan kita kembali akrab ketika perselisihan tentang keputusanmu menjadi petani membuatku kecut nyali.

Begitu banyak pekerjaan di dunia ini, tapi kenapa harus jadi petani?

Ibu bapak kau menjual beberapa lahannya untuk menguliahkanmu di universitas bergengsi di kota M. Tak mampu jadi dokter, jadi perawat pun tak apa. Kenapa kau harus menyerah dan pulang sebelum ijazah kau kantongi?

Kau memilih tak menjawab dan aku memilih mengakhiri percakapan...

Tengah malam, ketika aku terlelap tidur.

Dering dari ponselku menyalak. Tertera nomormu yang memang sengaja tak lagi kusimpan sebagai kontak. Tak biasanya kau menelpon di jam-jam genting seperti itu. Genting bagi seorang penulis lepas sepertiku yang matanya baru saja diistirahatkan dari keyboard laptop.

Suara hujan telah dulu sampai tenimbang salammu. Kau berkata terjebak hujan di pinggir pantai dengan ayah dan pamanmu. Terjebak hujan saat memancing itu lebih menakutkan dari cuaca dingin yang menusuk pori-pori.

Ayah hampir mati kedinginan, lanjutmu.

Aku harus bagaimana? Tanyaku. Tak mungkin bagiku mengirim mantel hanget atau selimut di saat kita terpisah sekian pulau.

Apa saja! Lakukan sesuatu.  Katamu mulai memelas. Tak terbayang, laut telah mengambil seseorang yang kau cintai beberapa tahun silam. Kepergiannya bahkan saat anak dalam kandungan istrinya belum sempat terlahir ke dunia. Mau tak mau kau harus menjadi ayah sambungnya, mengganti posisinya hingga ibunya memutuskan untuk menikah lagi.

Bakarlah sesuatu, kataku.

Kau bercanda? Tanyamu tak percaya.

Saat hujan, tak ada apapun yang mampu dilahap api. Kau jangan membuatku lebih gila.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: