Kabar Baik, Ditemukan 30.000 Enzim yang Dapat Mengurai Plastik

oleh -38 kali dilihat
Para Ilmuwan Ubah Botol Plastik Bekas Jadi Perasa Vanila
Ilustrasi plastik bekas -Foto/Unsplash

Klikhijau.com – Sampah plastik masih bikin puyeng. Sifat bandelnya yang tak mudah terurai jadi salah satu sebab lahirnya kepuyengan itu.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasinya. Namun, sampah plastik masalah sampah plastik tak juga berakhir.

Ancamannya bukan hanya tertuju pada manusia, tapi juga hewan, lingkungan hingga tumbuhan. Di laut dan juga di darat, sampah jenis ini mudah sekali ditemukan.

Namun demikian, selalu saja ada harapan yang bisa dipelihara. Termasuk dalam hal menangani sampah plastik.

KLIK INI:  Perihal Green Living, Cara Menerapkan, dan Manfaatnya

Pada tahun 2021 lalu, ada sebuah studi yang diterbitkan Microbial Ecology. Studi itu menemukan menemukan lebih dari 30.000 enzim yang dapat mendegradasi atau mengurai lebih dari 10 jenis plastik.

Studi skala besar itu memindai lebih dari 200 juta gen yang ditemukan dalam sampel DNA untuk sampai pada temuan.

Kesimpulan yang didapatkan, mikroba di seluruh dunia dan di lautan dapat berevolusi untuk memakan plastik.

Studi ini menetapkan bahwa satu dari setiap empat organisme yang dianalisis dapat mendegradasi plastik.

Hal yang lebih menarik adalah korelasi antara jumlah enzim pendegradasi plastik yang ditemukan di lokasi yang berbeda dan jumlah sampah plastik di area yang sama.

Para peneliti mengatakan mereka menemukan bahwa jumlah enzim pendegradasi plastik yang ditemukan berkorelasi dengan tingkat polusi suatu daerah. Para ilmuwan berpendapat bahwa mikroba berevolusi berdasarkan jenis polusi plastik yang ada di wilayah mereka.

Temuan tersebut bisa menjadi terobosan penting, yang diperlukan untuk mengembangkan cara alternatif penanganan sampah plastik.

KLIK INI:  Studi: Di Mana pun, Air Hujan Tidak Lagi Aman untuk Diminum
Jadi masalah polusi di dunia

Sampah plastik tidak terurai menjadi masalah serius, karena  berkontribusi pada masalah polusi di dunia ini.

Aleksej Zelezniak, seorang profesor di Chalmers University of Technology di Swedia dan salah satu penulis studi tersebut, mengatakan bahwa korelasi antara sampah plastik dan keberadaan enzim pengurai membuktikan bahwa alam berkembang berdasarkan aktivitas manusia.

“Kami menemukan banyak bukti yang mendukung fakta bahwa potensi pendegradasi plastik mikrobioma global berkorelasi kuat dengan pengukuran pencemaran plastik lingkungan – sebuah demonstrasi signifikan tentang bagaimana lingkungan merespons tekanan yang kami berikan padanya,” kata Zelezniak.

Para peneliti mengatakan mereka memulai penelitian dengan mengumpulkan kumpulan data dari 95 mikroba.

Mikroba tersebut  sudah diketahui dapat mendegradasi plastik. Kemudian, mereka melihat mikroba lain untuk menemukan mereka yang memiliki karakteristik mirip dengan 95.

KLIK INI:  Sensasi Menemui Kalong yang Kotorannya Membuka Pintu Jodoh

Pada akhirnya, para peneliti menemukan 12.000 enzim pengurai plastik baru di lautan dan 18.000 enzim baru di darat. Sampel tanah dikumpulkan dari lebih dari 38 negara, sedangkan sampel air dikumpulkan dari 67 lokasi unik.

Para  peneliti  juga mengatakan bahwa mereka akan melakukan tes lebih lanjut untuk mempelajari sifat enzim.

“Langkah selanjutnya adalah menguji kandidat enzim yang paling menjanjikan di laboratorium untuk menyelidiki sifat mereka dan tingkat degradasi plastik yang dapat mereka capai,” kata Zelezniak

Itu artinya, penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk memastikan keefektifan temuan tersebut. Meski begitu, temuan para peneliti adalah kabar baik dalam memerangi sampah plastik yang selalu bikin puyeng itu.

KLIK INI:  Menggali Inspirasi dari Cacing Tanah, Menebar Manfaat dari Kesenyapan

Dari Inhabitat