Gas Amonia, Sumber Masalah yang Tidak Berwarna

oleh -12 kali dilihat
Gas Amonia, Sumber Masalah yang Tidak Berwarna
Ilustrasi gas beracun-foto/Shutterstock

Klikhijau.com – Gas amonia tidak memiliki warna (tidak berwarna). Meski begitu ia memiliki ciri khas, yakni baunya yang menyengat.

Gas ini mampu bertahan hingga lebih dari satu minggu di udara. Amonia terpajan atau diekspos melalui pernapasan. Ia dapat dapat memicu iritasi yang kuat terhadap sistem pernapasan kita.

Amonia memiliki  sifat yang iritasi, sehingga menjadikannya polutan yang  dapat merangsang proses peradangan pada saluran pernapasan.

Gas ini menyerang pernapasan bagian atas, yaitu saluran pernapasan mulai dari hidung hingga tenggorokan.

KLIK INI:  Kolaborasi Pengelolaan Kawasan TNGGP bersama Masyarakat, Begini Targetnya!

Jika ada yang terpapar gas ini pada  tingkatan tertentu, akan dapat menyebabkan gangguan pada fungsi paru-paru dan sensitivitas pada indera penciuman.

Itu karena menurut Andi Saputra dkk, (2018) amonia adalah telah dinobatkan sebagai  zat yang beracun. Ia memiliki bau yang khas atau menyengat. Zat ini dapat  menimbulkan keresahan dan resistensi dari masyarakat sekitarnya.

Zat atau gas amonia  termasuk ke dalam polusi udara yang berbahaya. Polusi udara sendiri  Menurut World Health Organization (WHO) telah membunuh membunuh hingga  tujuh juta orang setahun di seluruh dunia.

Selain menggangu kesehatan, zat kimia ini juga  sangat mengganggu lingkungan. apalagi ia bisa berubah wujud dalam bentuk bebas berupa gas NH3 atau terlarut dalam air sebagai larutan amonium hidroksida (NH4OH).

Zat ini adalah  toksik yang dapat  merasuk ke dalam tubuh. Cara masuknya dengan melalui jalur ingesti, inhalasi, dan dermal.

Jika ia berhasil masuk saat bernapas, maka separuh dari gas ini merasuk ke dalam tubuh. Jika sudah masuk makan akan diserap oleh paru-paru.

Setelah itu akan berikatan dengan darah yang ada di dalam paru-paru. Nah, darah yang berasal dari paru-paru kemudian diedarkan ke jantung melalui pembuluh darah vena pulmonalis.

Kemudian darah tersebut diedarkan ke seluruh tubuh dan masuk ke dalam hati melalui pembuluh darah arteri hepatika dan vena sehingga bisa menimbulkan penyakit berbahaya.

KLIK INI:  Deasy, Perempuan yang Mencintai Sampah dengan Cara Elegan
Sumber zat amonia

Selama ini, gas amonia diklaim dihasilkan dari aktivitas pertanian. Namun, klaim itu terbantahkan oleh hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh jurnal ACS Environmental Science & Technology Letters  

Menurut studi tersebut berdasarkan analisis citra satelit perkotaan California. Sebagaimana dilansir dari earth bahwa kini para ahli telah menemukan sumber utama polusi amonia adalah emisi kendaraan. Padahal sebelumnya diyakini bahwa sumber emisi amonia terbesar adalah pertanian.

Sebagai gas yang beracun, mmonia di udara (NH3) dapat menyebabkan masalah kesehatan manusia. Di tingkat global dan nasional, tampaknya sebagian besar amonia diproduksi oleh pertanian dari sumber seperti kotoran ternak. Kendaraan bermotor pembakaran internal juga berkontribusi terhadap emisi amonia karena catalytic converter mereka mengurangi oksida nitrat dan membuat amonia.

Di kota-kota, sulit untuk menentukan mana yang merupakan penyumbang terbesar polusi amonia. Karena pada umumnya diasumsikan bahwa pertanian berkontribusi paling besar. Namun, beberapa penelitian menyatakan sebaliknya.

KLIK INI:  Hal-Hal Kecil Pemacu Global Warming, Salah Satunya Mungkin Sering Anda Lakukan

Daven K. Henze memimpin tim peneliti untuk menyelidiki apakah pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan menggunakan citra satelit, terutama karena metode tersebut dapat digunakan di mana saja di dunia.

Para ilmuwan melihat ke daerah Los Angeles, di mana penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa emisi amonia kendaraan diabaikan.

Para ahli mengukur kadar amonia dan nitro oksida. Karena oksida nitrat hanya dibuat oleh emisi kendaraan dan bukan pertanian.

Ini merupakan indikator yang baik untuk peningkatan atau penurunan lalu lintas motor. Rasio kedua bahan kimia tersebut menunjukkan berapa banyak amonia yang dihasilkan oleh kendaraan dibandingkan dengan pertanian. Efek meteorologi juga diperhitungkan dalam perhitungan.

Hasilnya sangat mencolok. Para ilmuwan menemukan bahwa 60 hingga 84 persen amonia di atmosfer berasal dari kendaraan, angka yang sesuai dengan prediksi dari pemodelan.

Perhitungan ini sangat berbeda dengan estimasi 13 hingga 22 persen yang digunakan oleh instansi pemerintah. Masalahnya adalah sumber pencemaran amonia ini tidak diperhitungkan dan tidak diatur dengan baik.

Padahal gas jenis ini perlu mendapat perhatian yang serius, karena bisa menyebabkan berbagai penyakit dan masalah lingkungan.

KLIK INI:  Mengejutkan, Penerbangan Bakal Ditinggalkan Demi Lingkungan?