Cerita tentang Anak Nelayan yang Putus Sekolah di Tengah Gemerlap Kota Makassar

oleh -84 kali dilihat
Cerita tentang Anak Nelayan yang Putus Sekolah di Tengah Gemerlap Kota Makassar
Suasana di pesisir kota Makassar - Foto/Radhif
Azwar Radhif

Klikhijau.com – Langit sore di bawah jembatan Tongkonan CPI. Saat cahaya kemerah-merahan mengiringi terbenamnya matahari, Fajar terlihat sedang sibuk mengemasi peralatan mancingnya.

Setelah memastikan kapalnya telah bersih, ia menaikan satu persatu box gabus, alat pancing dan umpan ke atas kapal kecilnya. Di depannya, nampak ayahnya tengah sibuk memilah udang yang nantinya akan digunakan sebagai umpan mancing.

Ketika semuanya telah siap, mereka bergegas berangkat menuju laut lepas. Sore hari menjadi waktu yang tepat bagi mereka untuk keluar menangkap ikan.

Kala itu, air laut tengah pasang. Sehingga kapal-kapal nelayan tak lagi kandas ketika melewati bawah jembatan. Rutinitas ini mereka lakukan setiap sore hari.

Aktivitas melaut telah dilakukan Fajar sejak usia belia. Fajar yang telah menginjak usia remaja, menjadi rekan kerja ayahnya sebagai tulang punggung keluarga.

Tak seperti anak muda pada umumnya, ia lebih memilih membantu menopang kehidupan keluarga. Demi memberi uang jajan pada adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMP.

Pekerjaan sebagai nelayan telah dilakukan Fajar sejak sekolah dasar. Seingatnya, ketika itu ia masih kelas 4 SD. Ayahnya tak punya pilihan lain selain mendidik Fajar menjadi penerusnya sebagai nelayan cumi.

Kala itu, kondisi ekonomi keluarga mereka sedang memburuk, orangtuanya kesulitan untuk membiayai sekolahnya. Selain itu, Fajar juga begitu terampil memancing ikan, aktivitas yang sangat disukainya sejak kecil.

Meski begitu, selayaknya anak SD pada umumnya, ia sempat bercita-cita menjadi pilot pesawat terbang. Fajar begitu terkesima melihat bongkahan besi yang terbang diatas kepalanya.

KLIK INI:  Aksi Heroik Nelayan Sangkarrang Mengejar Kapal Boskalis di Selat Makassar

Namun impian kecilnya harus ia kubur dalam-dalam. Baginya, melihat senyuman di wajah adik kecilnya ketika diberi uang jajan menjadi anugrah tersendiri.

Tak seperti Fajar, Resmi adiknya masih bisa mengenyam pendidikan menengah. Sebuah kesyukuran tersendiri bagi Fajar dan ayahnya.

Resmi telah menginjak kelas 1 SMP di salah satu sekolah negeri dekat rumahnya. Meski menurut Ayah, Resmi kadang-kadang tak masuk sekolah.

Tetapi bagi ayahnya, Resmi masih memiliki antusias yang besar untuk bersekolah. Untungnya Resmi mendapat beasiswa sejak SD. Ayah dan Kakaknya tak terlalu memikirkan biaya sekolahnya, kecuali untuk membeli pakaian, buku dan untuk uang jajannya.

Selepas sekolah, biasanya Resmi tak langsung pulang ke rumahnya. Ia lebih memilih menemui Ayah dan Kakaknya di kolong jembatan. Menemani mereka makan siang bersama. Dengan lauk hasil tangkapan cumi semalam, mereka masih bisa tersenyum bahagia, bersyukur masih dapat berkumpul bersama. Siang hari pun dilaluinya dengan bersantai di bawah jembatan.

Tepat di bawah jembatan, ada sedikit ruang yang mereka gunakan sebagai dapur dan kamar tidur. Memanfaatkan kayu-kayu yang dipungutnya di tepi jalan, Daeng Gassing dan Fajar membuat tempat tidur sederhana, beralas tikar yang mulai lusuh.

Di tempat itu juga selepas makan, Fajar dan adiknya beristirahat, bersenda gurau.

KLIK INI:  Peran Nelayan Skala Kecil dalam Mengatasi Dampak Perubahan Iklim

Untuk naik ke kamar tidur sederhananya terlebih dahulu mereka harus menaiki anak tangga yang mulai retak. Dengan begitu berhati-hati, perlahan saya menghampiri kakak-beradik ini untuk mengobrol bersama mereka. Fajar dan Resmi begitu ramah dengan siapa saja.

Meski Fajar nampak sedikit pendiam dari adiknya, namun tak pernah sedikitpun senyum luluh dari wajahnya. Resmi begitu bersemangat menceritakan pengalaman sekolahnya.

Seolah tak ingin bernasib sama seperti kakaknya yang putus sekolah, Resmi kecil berniat untuk menyelesaikan sekolahnya, hingga menjadi mahasiswa. Katanya ingin seperti saya.

Tanpa disadarinya, Resmi telah tumbuh menjadi harapan keluarga. Daeng Gassing nampak begitu menaruh perhatian yang besar pada anak perempuannya ini. Cukup Fajar saja yang menjadi pelanjutnya, menjadi penangkap cumi-cumi. Terlebih lagi, dari beberapa  anaknya, hanya Resmi seorang yang berhasil ia sekolahkan hingga SMP.

Meski begitu, stagnasi kemiskinan yang dialami Daeng Gassing mengancam masa depan Resmi. Keinginannya untuk berkuliah bisa saja runtuh jika kehidupan keluarga mereka tak kunjung membaik.

Beasiswa yang diterima Resmi memang sangat membantu meringankan beban pembayaran sekolah. Tetapi tidak dengan biaya-biaya lain seperti pakaian, buku dan uang saku yang masih menjadi tanggungan Daeng Gassing dan Fajar. Kemungkinan terburuknya ialah kesulitan ekonomi mereka akan membuat Resmi berhenti sekolah.

KLIK INI:  Tawa Ceria Anak Pesisir Pantai Kalumeme di Tengah Abrasi

Resmi menjadi satu dari puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan anak nelayan yang masa depannya terhambat himpitan ekonomi.

Jerat kemiskinan struktural yang menimpa keluarga mereka seolah membentuk pola lingkaran setan, bernama kemiskinan. Berbeda dengan anak laki-laki putus sekolah yang masih memiliki harapan kecil menjadi nelayan, anak perempuan putus sekolah dalam keluarga nelayan nyaris tak memiliki pekerjaan publik, selain bekerja serabutan dengan gaji dibawah rata-rata.

Mereka dengan terpaksa menjual tenaga kerjanya dengan harga murah sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Nasib buruk bagi mereka yang tak punya pilihan lain selain turun ke jalan, menjadi anak jalanan.

Ancaman lain yang mengintai perempuan kecil putus sekolah adalah pernikahan anak dibawah umur. Pernikahan anak seolah menjadi cara untuk melepas beban keluarga dengan memberikan kemandirian bagi mereka.

Terlebih lagi di beberapa masyarakat Indonesia, anak perempuan tak memiliki kesempatan untuk memilih kehidupannya sendiri. Alhasil, di usia remajanya, anak perempuan putus sekolah telah menjadi seorang istri sekalligus ibu.

Meski merupakan kodrat bagi perempuan untuk menjadi ibu,hal yang perlu menjadi perhatian adalah kesiapan psikis dan fisik perempuan kecil ini.

Di beberapa kasus contohnya, pernikahan dini kerap tak berujung harmonis. Perempuan sangat rentan menjadi korban kekerasan rumah tangga. Selain itu, perlu juga diliat kesiapan biologis untuk melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka. Untuk menghindari kematian ibu pasca melahirkan.

Anak-anak nelayan mestinya memiliki hak yang sama seperti anak-anak pada umumnya. Mereka memiliki kesempatan untuk bermain, bercanda, dan belajar mengembangkan potensi minat dan bakatnya.

Kemiskinan struktural yang menimpa keluarga Daeng Gassing dan nelayan lainnya merupakan dampak dari pembangunan kota yang tak memperhatikan kehidupan masyarakat pinggiran.

Akibatnya terjadi stagnasi kehidupan yang terpola dimana anak-anak nelayan menjadi korban konsekuensi pembangunan kota.

Cerita Fajar dan Resmi menjadi satu ironi tersendiri melihat gemerlapnya pembangunan Kota Makassar dengan visinya menjadi kota dunia.

KLIK INI:  Nasib Pilu Nelayan di Kalukubodoa, WALHI Sulsel: Harus Ada Pemulihan Lingkungan