Politik Kewargaan: Anak Muda dan Perubahan Iklim

Klikhijau.com - Aksi anak muda Swedia, Greta Thunberg telah mendorong anak muda di berbagai negara mengambil ‘biggest role’ dalam kontestasi politik global. Peristiwa ini menandakan persoalan iklim ad...

Politik Kewargaan: Anak Muda dan Perubahan Iklim
Bacakan Artikel

Aksi mogok sekolah anak muda menuntut komitmen pemimpin global untuk mengambil aksi darurat terhadap perubahan iklim, mempunyai makna bahwa waktu untuk sekolah akan sia-sia, kalau keadaan darurat ini kita biarkan.

Mereka yang mogok dari sekolah, ekplist atau implisit telah mengisi waktu untuk kerja kemanusian; (3) aktif dalam persoalan publik melalui partisipasi konvensional dan non-konvensional untuk mencegah sekaligus melawan para perusak lingkungan; (4) tanggungjawab kolektif akan implikasi dari tindakan kita terhadap alam, bukan pada tanggungjawab individual.

Model politik kewargaan ini perlu menjadi bagian dari design model kewargaan yang perlu dibangun di dalam sekolah melalui revolusi pembelajaran kewargaan berwatak Orde Baru menuju pembelajaran kewargaan aksiologis atau pembelajaran lapangan agar menghubungkan persoalan sosial-politik ke dalam kehidupan pelajar kita.

Pelajar atau anak muda kita disekolah menjadi sadar akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara dalam interpretasi yang lebih demokratis, progressif dan mengakar.

Garry Van Klinken (2019) mengatakan selama ini persoalan kewargaan semacam perampasan tanah itu tidak menjadi sesuatu yang dibicarakan di sekolah-sekolah kita.

[irp]

Perubahan iklim: wacana pinggiran di tengah persoalan SDA Indonesia

Pemanasan global menjadi persoalan penting bagi anak-anak muda di Eropa, mereka merasakan dampak langsung dari perubahan ini dalam kehidupan sehari-hari sehingga secara organik mereka membangun narasi perubahan iklim adalah persoalan utama yang mereka hadapi.

Namun, narasi perubahan iklim masih pinggiran dalam diskursus politik ekologi kita Gerakan ekologi anak muda Indonesia kebanyakan berfokus melawan kejahatan korporasi dalam melakukan perampasan lahan, proyek pembangunan yang meminggirkan warga miskin dan neoliberalisasi pengelolaan air yang belum terhentikan.

Lemahnya diskursus perubahan iklim dalam gerakan anak muda Indonesia disebabkan oleh beragam faktor. Faktor signifikannya adalah konteks persoalan sumber daya alam yang lebih mendesak untuk diselesaikan semacam perampasan lahan, rancangan Undang-Undang yang merugikan warga, pengelolaan air yang belum sesuai amanat konstitusi dan agenda reforma agraria yang masih jalan ditempat.

Perubahan iklim barangkali sudah dirasakan oleh banyak orang, hanya kekuatan politik alternatif akan kesulitan untuk mendorong perubahan fundamental terkait transformasi penggunaan energi: dari energi yang tak terbaharukan menuju energi terbaharukan.  Banyak aktor elite politik yang terlibat dalam bisnis energi batu bara dilingkaran kekuasaan.

Anak muda kita bisa memulai transformasi itu melalui sekolah, meradikalisasi politik ekologi dan gerakan pelajar melalui pendidikan kewargaan progressif demi membangun karakter dan corak demokrasi subtantif.

[irp]

Pilih Halaman: