Politik Kewargaan: Anak Muda dan Perubahan Iklim

Klikhijau.com - Aksi anak muda Swedia, Greta Thunberg telah mendorong anak muda di berbagai negara mengambil ‘biggest role’ dalam kontestasi politik global. Peristiwa ini menandakan persoalan iklim ad...

Politik Kewargaan: Anak Muda dan Perubahan Iklim
Bacakan Artikel

[irp]

Di dalam perjuangan akan hak-hak kewargaan ini, anak muda Indonesia membangun gerakan sosial baik berupa komunitas maupun organisasi pemuda lingkungan berbasis identitas keagamaan yang secara keanggotaan terbuka bagi umum.

Arena perjuangan ini telah membangun karakter sekaligus corak kewargaan anak muda Indonesa yang saya sebut sebagai ‘citizen of the planet’. Anak muda Indonesia menjadi bagian dari warga global yang ikut berkontribusi dalam mendorong perubahan iklim maupun menegakkan kedaulatan pengelolaan sumber daya alam.

Di Yogyakarta, komunitas anak muda membangun kampanye menggunakan sepeda untuk mengurangi dampak prilaku mereka pada pemanasan global. Keadaan ini disebabkan oleh digunakan energi fossil yang masih menjadi sumber energi utama transportasi yang memiliki dampak negatif bagi lapisan ozon.

Transportasi ini bukan kendaraan umum, tetapi kendaraan pribadi yang mayoritas dipakai masyakat Indonesia. Kampanye sepeda menjadi bagian hidup ini hanya langkah kecil yang ditempuh komunitas atau organisasi anak muda.

Anak muda yang menjadikan gaya hidup ramah lingkungan sebagai bagian ekspresi perlawanan sehari-sehari (daily resistance) dan juga terlibat dalam melawan persoalan struktur kekuasaan oligarki dan kapitalis yang merusak lingkungan dalam skala besar maka itu menjadi karakter dasar ‘citizen of the planet’.

[irp]

Karakter kewargaan ini menyetubuhnya praktek ramah lingkungan sehari-hari dan perlawanan melawan para perusak ekologi melalui jalur politik-ekonomi. Politik ‘Citizen of the planet’ menjadi praksis yang melampaui sekat-sekat negara bangsa.

Johanna Wolf dan dkk, (2009) mengatakan ada tanggungjawab universal setiap individu bagi generasi masa mendatang dan anak-anak mereka akan planet bumi ini, setiap tindakan warga negara tidak ramah lingkungan berimplikasi terhadap warga lainnya, dimanapun ia berada.

Di dunia yang semakin terkoneksi melalui globalisasi membuat tindakan individu secara privatpun mempunyai dampak besar bagi kehidupan publik, oleh karena itu persoalan krisis ekologi adalah persoalan semua warga negara (Dobson, 2003).

‘Citizen of the planet’ adalah model politik kewargaan yang perlu terus diperluas dalam warga Indonesia, tidak sebatas praktek yang dilakukan oleh anak muda yang berbasis organisasi keagamaan semacam NU dan MU serta aksi anak muda ‘school strike’ di banyak negara.

Model politik ‘citizen of the planet’ ini memiliki empat karakteristik mendasar yaitu, (1) Non- territorial atau Cosmopolitan (Dobson, 2003); (2) memahami waktu bukan sebagai uang sebagaimana paradigma liberal-kapitalitik tetapi waktu sebagai bagian untuk melakukan kerja membangun peradaban ekologis.

[irp]

Azaki Khoirudin (2015) mengatakan waktu menjadi hal fundamental bagi masyarakat modern untuk melakukan amal sholih yang memiliki dampak saat ini, dan masa depan. Mereka yang menggunakan waktu untuk keburukan akan dalam kesia-sian, mereka yang berbuat kebaikan akan menyebar kemajuan.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: