Pohon Waru, Bahan Mesiu dari Kerajaan Gowa

oleh -391 kali dilihat
Melacak Jenis-Jenis Pohon Waru dan Perbedaannya
Pohon waru-foto/Ist
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Klikhijau.com – Pohon waru itu tumbuh liar di Kebun Denassa. Sifatnya liarnya itulah membuatnya tidak banyak diperhatikan.

Karena bisa tumbuh liar, pohon waru bukanlah pohon asing dan keberadaannya tidak mengejutkan. Sekilas tidak ada istimewa dari pohon berdaun lebar itu.

Di Kebun Denassa (nama akrab Darmawan Denassa) yang terletak di kecamatan Bonto Nompo, Gowa. Pohon itu tumbuh subur.

Waru, biasa disebut pula pohon baru memiliki nama  latin  Hibiscus tiliaceus. Pohon ini memiliki beberapa jenis (baca di SINI). Jenis-jenis pohon ini bisa diedintifikasi berdasarkan daunnya.

KLIK INI:  Hujan Bersemi, Anggrek Lagaligo pun Bersemai, Sungguh Menakjubkan!

Setiap jenisnya memiliki perbedaan dari segi daun. Di Indonesia, tanaman waru mudah ditemukan dan dapat tumbuh di segala macam lingkungan.

Pohon waru Indonesia (lokal) memiliki daun yang lebar berbentuk jantung dan berwarna hijau. Pohon ini kerap dijadikan sebagai tanaman peneduh, dan banyak pula  yang dimanfaatkan menjadi tanaman obat.

Bahan mesiu Kerajaan Gowa

Surahmaida, dkk (2020) juga mengakui jika umumnya daun waru digunakan sebagai obat tradisional. Ada beberapa jenis penyakit yang bisa ditangkal  daun pohon ini, di antaranya demam, batuk, infeksi telinga, sesak nafas, diare, randang amandel, disentri, tipus, TBC,  peradangan usus, abses, bisul , dan penyubur rambut.

Beragam khasiat waru sebagai obat itu didapatkan dari kandungan   senyawa kimia yang terkandung di dalamnya, seperti flavonoid, saponin, tannin, polifenol, alkaloid dan steroid

Pohon ini juga, khususnya di Bulukumba, Desa Kindang  dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membuat baling-baling yang biasanya banyak muncul di musim kemarau.

“Iya ini biasa dijadikan baling-baling, karena sifat kayunya ringan,” ungkap Denassa, 24 januari 2022 lalu.

Dan hal mengejutkan dari pohon waru ini, menurut Denassa, daunnya telah dimanfaatkan oleh kerajaan Gowa sebagai bahan mesiu untuk peluru meriam.

KLIK INI:  Mengenal Kadal Rumput, Fauna Pelari Cepat yang Hampir Terancam

Kerajaan Gowa, menurut Denassa memang memproduksi meriam sendiri. Bahkan meriam terbesar yang pernah dimiliki Indonesia berasalh dari kerajaan Gowa, namanya Meriam Anak Makassar.

Saking besarnya sehingga dikatakan bahwa orang paling besar sekalipun bisa mudah dapat masuk kedalamnya untuk bersembunyi.

Meriam Anak Makassar  merupakan  salah satu peninggalan Kesultanan Gowa-Tallo yang biasa pula disebut  Kerajaan Makassar  yangterdapat di Sulawesi Selatan, Indonesia. Meriam tersebut saat ini berada di Belanda.

Apa yang dikatakan Denassa tentu saja mengejutkan, sebab bukan hanya mengungkap fungsi daun waru yang “tersembunyi” sebagai bahan baku mesiu, tetapi juga menegaskan bahwa orang-orang dulu telah berkawan dengan tanaman. Pengetahuan mereka tentang fungsi tanaman sudah sangat canggih.

Pengetahuan itu pun masih terus ada dan tumbuh sekarang ini, salah satunya pengetahuan tanaman waru sebagai obat dan tanaman lainnya, pengetahuannya telah turun temurun.

KLIK INI:  Cekakak sungai, Burung yang Dijuluki Si Pembawa Rezeki
 Manfaat lain pohon waru

Daun dari pohon ini tidak hanya dijadikan sebagai bahan mesiu oleh Kerajaan Gowa tempo dulu. Manfaat lainnya pun saat ini semakin banyak ditemukan, di antaranya sebagai bahan detergen. Hal ini diungkap oleh Luciana Supandi dan Deny Ahmad Setiawan, (2019).

Daun waru dapat dimanfaatkan sebagai deterjen alami, karena memiliki kandungan saponin, tanin, flavonoid, dan polifenol.

Saponin yang dimiliki daun waru dapat menghasilkan busa. Dalam dunia cuci mencuci keberadaan busa cukup penting.

Busa bisa berfungsi sebagai bahan pencuci atau deterjen dan bertindak sebagai bahan aktif atau sufraktan.

KLIK INI:  Perihal 2 Ekor Burung Penyebab Warga Padang Pariaman Terjerat Hukum

Penggunaan daun waru sebagai detergen ini bisa mengatasi permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh detergen berbahan kimia. Karena daun waru termasuk bahan baku detergen yang ramah lingkungan.

Saponin  sendiri merupakan  senyawa bahan alam penghasil busa yang dapat dimanfaatkan pada industri deterjen, sabun dan shampoo.

Keunikan dan kelebihan lain yang dimiliki daun waru jika dibandingkan dengan sabun atau deterjen kimia karena lebih ekologis dan ekonomis.

Limbah daunnya mudah terurai sehingga tingkat pencemarannya hampir tidak ada. Air bekas cucian dari detergen daun pohon ini bisa diurai mikroorganisme. Dengan demikian  tidak mencemari lingkungan. Bahkan daunnya memiliki potensi yang bisa mengembalikan kelestarian lingkungan.

Sementara kayunya, bisa dimanfaatkan menjadi gagang kapak, parang atau perkakas lainnya dan juga bisa diukir menjadi kerajinan tangan. Sedangkan pepagan atau kulit kayunya digunakan untuk tali.

Menurut Denassa pemanfaatan kulit waru sebagai tali ini untuk menyiasati semakin minimnya produksi rotan, sehingga masyarakat banyak beralih memanfaatkan kulit waru sebagai pengikat.

KLIK INI:  Melacak Jenis-Jenis Pohon Waru dan Perbedaannya
Ciri-ciri pohon waru

Pohon waru yang tumbuh di kebun Denassa, adalah jenis yang banyak terdapat di Indonesia. Pohonnya kecil, tingginya bisa mencapai 10 hingga15 meter.

Pohon ini memiliki diameter 40 hingga 50 cm dengan tajuk rimbun dan percabangan menyebar. Ia memiliki batang lurus atau bengkok, pepagannya berwarna abu-abu kecokelatan, berlenti sel. Akar biasanya tumbuh pada cabang atau ranting yang menyentuh tanah.

Sementara daunnya penumpu bundar telur atau sekilas seperti bentuk jantung. Ukurannya  3×1,5 cm. Pada bekas daun penumpu bentuk cincin melingkar ranting.

Daunnya tunggal, tersebar spiral, dan bertangkai. Panjang daunnya bisa mencapai hingga 12 cm, tangkainya berbulu atau gundul.

Bunganya tersusun payung menggarpu,bunga besar, diameternya bisa mencapai 12 cm. warnanya kuning hingga merah oranye. Sementara untuk buahnya berbentuk kapsul (buah kapsul), bulat telur, pada ujung meruncing.

Buahnya memiliki panjang 2 hingga 2,5 cm dan berbulu kuning keemasan. Sedangkan pada biji berbentuk ginjal, halus dengan berukuran 0,4×0,3 cm.

KLIK INI:  Mengenal Burung Isap Madu Rote, ikon HCPSN 2019
 Sebaran dan klasifikasi

Pohon waru memiliki sebaran yang cukup luas, ia tersebar di daerah tropis. Dan untuk wilayah Indonesia tercinta ini, pohon waru tersebar di seluruh kepulauan Nusantara.

Ia menyukai  tumbuh di sekitar sungai, pada semak-semak, dan di sepanjang pantai. Ia juga bisa tumbuh pada daerah pasang surut dan tempat terbuka di dataran rendah.

Jika ingin memperbanyak pohon yang daunnya dimanfaatkan sebagai bahan mesiu Kerajaan Gowa ini bisa dengan dua cara, yakni generatif dengan melalui biji dan vegetatif melalui stek dan okulasi.

Pohon waru memiliki klasifikasi seperti jenis tanaman yang lain, berikut klasifikasinya:

  • Kingdom : Plantae
  • Divisi : Magnoliophyta
  • Kelas : Magnoliopsida
  • Ordo : Malvales
  • Famili : Malvaceae
  • Genus : Hibiscus
  • Spesies : Hibiscus tiliaceus L.

Demikianlah…

KLIK INI:  Panda Merah Mungil Lahir di Indonesia untuk Pertama Kali