Menjejaki Budaya Masyarakat Buang Sampah di Halaman Belakang

Klikhijau.com โ€“ Nyaris tak ada anak-anak suka bermain di halaman belakang rumah. Pun orang akan menghindari mengunjunginya. Halaman belakang rumah bukan hanya tempat yang agak privasi. Namun, juga...

Menjejaki Budaya Masyarakat Buang Sampah di Halaman Belakang
Bacakan Artikel

Namun yang memiliki halamamn belakang rumah pas-pasan, jadi persoalan tersendiri. Simalakama menggali tempat sampah bukan tanahnya, membuangnya pun akan mencemari tanah orang lain.

Namun, pilihan kedua ini banyak yang dipilih. Sebab masih mengira bahwa sampah tidaklah membahayakan.

Jika ada saluran air, dengan mudah pula kita akan menemukan sampah di sana. Ini menggambarkan persoalan sampah bukan hanya persoalan yang menimpah perkotaan, tapi juga kampung.

Jadi pekerjaan rumah

[irp]

Tentu ini jadi pekerjaan rumah (PR) banyak pihak, tak hanya pemerintah, tapi juga masyarakat itu sendiri. Bagaimana caranya, saya kira sangat perlu adanya edukasi kepada masyarakat bagaimana cara mengelola sampah.

Sampah adalah persoalan krusial Indonesia. Banyak orang menganggap jika telah membuang sampahnya persoalan telah selesai. Namun sebenarnya tak demikian. Begitu sampah dibuang apalagi dibuang di sembarang tempat maka persoalan sesungguhnya baru saja dimulai.

Apalagi jika sampah plastik, sampah yang bandel karena sulit terurai. Juga bisa menghambat air terserap lebih cepat ke dalam tanah danย  bisa menjadi penyebab pemanasan global.

Halaman belakang rumah, khususnya di kampung saya, nyaris tak ada anak-anak yang rela bermain di sana. Juga orang akan berpikir untuk melewati apalagi mengunjunginya.

Di halaman belakang rumah, seperti sebuah panggung sandiwara. Di depan layar tampak bersih, di mana aktor memainkan peran dengan sangat baik untuk penonton, tapi di belakang layar berantakan penuh properti dan sampah.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: