Menjejaki Budaya Masyarakat Buang Sampah di Halaman Belakang

Klikhijau.com โ€“ Nyaris tak ada anak-anak suka bermain di halaman belakang rumah. Pun orang akan menghindari mengunjunginya. Halaman belakang rumah bukan hanya tempat yang agak privasi. Namun, juga...

Menjejaki Budaya Masyarakat Buang Sampah di Halaman Belakang
Bacakan Artikel

Klikhijau.com โ€“ Nyaris tak ada anak-anak suka bermain di halaman belakang rumah. Pun orang akan menghindari mengunjunginya.

Halaman belakang rumah bukan hanya tempat yang agak privasi. Namun, juga bisanya menjadi lumbung pembuangan sampah. Tempat menimbun barang-barang yang tak lagi digunakan.

Halaman belakang biasanya pula menjadi tempat beternak ayam. Juga menjadi tempat membuang air limbah dari kamar mandi.

Maka bermain atau mengunjungi halaman belakang rumah, khususnya di kampung-kampung adalah hal yang agak โ€œmenjijikkanโ€™.

[irp]

Di kampung saya misalnya, Kindang, Bulukumba. Halaman belakang adalah tempat terindah membuang mantan (baca sampah). Selain tersembunyi, juga dianggap lebih aman.

Masyarakat tentu saja tak bisa dilarang, bukan karena tanah di halaman belakang rumahnya adalah milik sendiri. Namun, di kampung atau desa tak ada tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang disediakan pemerintah. Pun tak ada armada pengangkut sampah yang bisa menyelamatkan sampah dari rumah-rumah masyarakat.

Jika di kota, setiap sampah dengan enteng saja diletakkan di pinggir jalan, dan tak lama kemudian akan ada petugas kebersihan datang mengambilnya. Di kampung-kampung hal serupa itu tak ditemukan. Sampah jika diletakkan di depan rumah akan dihambur ayam atau anjing.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: