Mengintip Gerakan Ekoliterasi Kaum Muda Milenial

Gerakan ekologi yang diinisiasi anak muda beberapa dekade ini menunjukkan adanya radikalisasi politik advokatif-ekologis kaum muda terhadap persoalan lingkungan hidup yang melanda di Indonesia. Par...

Mengintip Gerakan Ekoliterasi Kaum Muda Milenial
Bacakan Artikel

Keradikalan anak muda ini dikatakan oleh Adityo Nugroho (2018), aktivis muda lingkungan di Yogya khususnya ketua KOPHI bisa mengshare isu ekologi di WA nya ribuan kali, ini radikal kali, melakukan kampanye terus-terusan.

Aksi dan tindakan revolusioner itulah yang berusaha diperbanyak oleh RBK melalui sekolah pemuda ekoliterasi yang berusaha melahirkan aktor demokrasi yang pro lingkungan di kalangan anak muda.

Dalam rangka pemberdayaan generasi muda agar menjadi generasi yang mampu mereplikasi gerakan ekologi ketika mereka kembali ke daerah mereka masing-masing (Efendi, 2018).

Di dalam sekolah ini, anak muda yang menjadi peserta bersama-sama membangun ekological habitus. Dimana mereka saling menguatkan satu sama lain dengan penguatan pengetahuan tentang lingkungan.

Sharing dari aktivis yogya yang memiliki pengalaman panjang dalam melakukan perlawanan sosial terhadap kebijakan penguasa yang mengizinkan praktek ekonomi pasar beroperasi dalam mengendalikan pembangunan seperti maraknya pembangunan hotel, swalayan modern berjejaring dan lainnya, yang itu merugikan warga Yogya.

Sekolah ini memiliki komitmen politik keberpihakan sosial yang kuat secara ideologi lingkungan. Dimana pembicara betul-betul diseleksi agar tidak melahirkan paradoks.

Dalam rangka memperbanyak aktor muda pro ekologi yang dari sejak awal sekolah ini telah didesain dengan tujuan memperkuat peran anak muda dalam wilayah sosial pemberdayaan dan advokasi politik.

[irp posts="1954" name="Saat Komunitas Literasi Berkebun: Tanam Pohon Tin, Panen Rambutan"]

Revolusi Harapan

Persoalan krisis lingkungan tidak banyak dibicarakan dalam politik elektoral kita hari ini. Meskipun visi dan misi dua pasangan calon presiden dan wakilnya memiliki kepedulian akan lingkungan, namun perdebatan isu lingkungan masih tenggelam. Atau kalah oleh politik identitas (Khalisah, tirto.4 Desember 2018).

Keadaan ini sangat menyedihkan di tengah banyak konflik agraria, krisis air bersih, tercemarnya sungai. Berkurangnya keinginan generasi muda Indonesia untuk menjadi petani.

Fakta-fakta inilah yang mendorong beragam anak muda untuk berkontribusi dalam pembangunan. Melalui gerakan ekologi secara individual ataupun organisator dengan model komunitas. Memperkuat demokrasi di akar rumput.

Anak muda ini tak lelah bekerja dijalur sunyi dengan mengedukasi anak anak millenial ataupun anak-anak yang di Rumah baca komunitas dengan program ekoliterasi for kids dimana anak-anak diajak untuk menanam sekaligus merawat tanaman mereka.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: