Kumpulkan 139 Kg Sampah dalam 1 Km, HLH di Makassar Jadi Bahan Evaluasi

Jika setiap 1 km jalan di Makassar tercemar 139 kg sampah, maka dengan total panjang jalan 768 km, Kota Makassar dipastikan menanggung beban mengerikan sebesar 106,75 ton sampah yang merusak lingk...

Kumpulkan 139 Kg Sampah dalam 1 Km, HLH di Makassar Jadi Bahan Evaluasi
Bacakan Artikel

Jika setiap 1 km jalan di Makassar tercemar 139 kg sampah, maka dengan total panjang jalan 768 km, Kota Makassar dipastikan menanggung beban mengerikan sebesar 106,75 ton sampah yang merusak lingkungan kita.

Klikhijau.com - Kalender Ekologi menunjukkan 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia, pagi di Kota Makassar masih terasa segar ketika ratusan pasang kaki mulai memadati halaman Kantor Balai Kota Makassar pada Sabtu, 6 Juni 2026. Di tengah keriuhan fajar, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, tampak santai dengan pakaian olahraganya, melebur bersama warga tanpa sekat keprotokoleran yang kaku. Akhir pekan yang bisa menjadi titik awal baru untuk didukung bersama.

Berbekal kantong sampah di tangan, mereka memimpin sebuah aksi nyata bernama plogging alias berjalan kaki sambil memungut dan memilah sampah. Langkah kaki rombongan bergerak kompak sejauh satu kilometer menuju Jalan Nusantara, mengubah jalanan kota menjadi ruang gotong royong yang hangat.

Aksi edukasi langsung di lapangan bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama, dimulai dari memilah sampah sejak dari sumbernya.

Suasana cair kian terasa saat Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham, Sekda Andi Zulkifli Nanda, dan Kepala DLH Helmy Budiman tak ragu untuk ikut membungkuk. Bersama jajaran ASN, pelajar, dan komunitas lokal, tenaga kebersihan, duta lingkungan, perwakilan sekolah, komunitas, hingga elemen masyarakat umum turut memadati jalur plogging, mereka bergerak layaknya pasukan semut, memungut helai demi helai plastik, kertas, hingga puntung rokok demi mengembalikan kesegaran wajah Kota Makassar di Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Di tengah aksi, Munafri mengingatkan bahwa perubahan besar untuk menyelamatkan bumi selalu lahir dari unit sosial terkecil, yaitu rumah tangga. Kebiasaan baik yang terbangun dari rumah akan membentuk budaya peduli lingkungan yang kuat di tengah masyarakat. Oleh karena itu, dalam aksi kali ini, pemerintah memberikan tanggung jawab kepada setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk memilah sampah berdasarkan kategorinya sebagai bentuk edukasi langsung mengenai pentingnya pemisahan sampah demi mempermudah proses daur ulang. Langkah kaki peserta akhirnya menyentuh garis finis di Makassar Creative Hub (MCH). Di lokasi ini, ketegangan otot setelah berjalan satu kilometer mencair saat seluruh peserta menyaksikan peluncuran (launching) mesin Plastik Heroes. Program peringatan kemudian berlanjut dengan aksi pemilahan sampah secara virtual yang berlangsung serentak, peluncuran Gerakan Nasional Indonesia Asri, serta talkshow lingkungan yang menghadirkan perspektif menarik dari berbagai sektor. Talkshow tersebut menghadirkan dua narasumber yang mengupas tuntas urusan sampah dari sudut pandang berbeda. Natalia Tanyadji, pemilik usaha Kue Mama yang eksis sejak tahun 1999, membagikan kisahnya mengenai tantangan dan proses pengolahan sampah di lingkup industri Food and Beverage (FnB). Sementara itu, Kepala Bidang Wilayah II Pusdal LH Suma, Arnianah Alwi, S.Si, membedah regulasi dan mekanisme pengolahan sampah dalam ruang lingkup kebijakan pemerintahan. Seluruh rangkaian acara di Makassar kemudian terhubung secara nasional melalui teleconference langsung dengan Presiden Republik Indonesia. Di sela-sela acara, Munafri sempat melontarkan apresiasi khusus kepada para ketua RT dan RW yang menjadi ujung tombak edukasi warga. Ia mencontohkan sosok salah satu ketua RT di Kecamatan Rappocini yang tanpa lelah terus mengajak warganya mengelola sampah dengan benar. Di bawah panji tema #NowForClimate (Saatnya Kita Kerja untuk Iklim), Munafri menegaskan bahwa isu pemulihan lingkungan, pengurangan emisi karbon, dan adaptasi perubahan iklim sudah bukan lagi sekadar target di atas kertas, melainkan sebuah gerakan bersama yang bernilai ibadah. Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, pemerintah kota juga berencana memberikan penghargaan tahunan bagi komunitas, kelompok, maupun warga yang konsisten menjaga kelestarian lingkungan. Senada dengan Wali Kota, Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham mengajak seluruh warga untuk mengubah pola pikir dan menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Dirinya menyatakan bahwa tantangan lingkungan yang kian kompleks membutuhkan penguatan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan warga demi mewujudkan Kota Makassar yang lebih hijau dan berkelanjutan. Pemerintah Kota Makassar pun terus berupaya menghadirkan program pendukung, seperti peningkatan sistem pengelolaan sampah dan perluasan ruang terbuka hijau. Aksi nyata di lapangan ini melahirkan data yang cukup mengejutkan sekaligus menjadi bahan evaluasi penting. Dari hasil penimbangan sampah yang terkumpul sepanjang rute satu kilometer, petugas mencatat volume sampah organik mencapai 35,12 kilogram, sampah anorganik sebanyak 30,34 kilogram, sampah residu mendominasi di angka 69,43 kilogram, serta sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) sebanyak 4,10 kilogram. Angka-angka ini menjadi bukti autentik bahwa ruang publik masih memerlukan perhatian serius dan keterlibatan aktif semua pihak dalam mengurangi plastik sekali pakai. Antusiasme dan harapan besar juga terpancar dari wajah generasi muda yang hadir. Ulil Abshar, perwakilan Putra Putri Bumi Sulawesi Selatan 2026, mengungkapkan rasa kagumnya terhadap semangat warga yang ikut serta. Ia berharap aksi seperti ini mampu memicu kesadaran anak muda di Makassar agar lebih bijak mengelola sampah sejak dari sumbernya. Melalui kolaborasi nyata pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, Kota Makassar sedang berikhtiar mewariskan lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas polusi untuk generasi masa depan.