Semangat ‘Assamaturu’ di Manyampa, Aksi River Clean Up Massal upaya Desa Bebas Banjir

oleh -195 kali dilihat
Semangat 'Assamaturu' di Manyampa, Aksi River Clean Up Massal upaya Desa Bebas Banjir
Semangat 'Assamaturu' di Manyampa, Aksi River Clean Up Massal upaya Desa Bebas Banjir. (Foto: Ist)

Klikhijau.com – Pemerintah Desa Manyampa bersama masyarakat dan multipihak bergotong royong, atau dalam bahasa Konjo disebut assamaturu’, menggelar aksi kerja bakti pembersihan aliran sungai (River Clean Up), aksi Jumat bersih, 19 Desember 2025.

Kegiatan ini menjadi salah satu pusat gerakan pencegahan bencana banjir yang dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Aksi gotong-royong ini dipusatkan di Sungai Dampang Liku (bagian dari hilir DAS Balantieng), khususnya di area penyeberangan menuju kampung Pabbulo-buloang, Dusun Dongi. Langkah ini diambil sebagai bentuk tindak lanjut dari rapat koordinasi bersama Dinas DPMD pada 17 Desember lalu guna mengantisipasi dampak musim penghujan.

Kepala Desa Manyampa, Abba Madda menyampaikan terimakasih kepada para pihak yang turut terlibat khususnya Masyarakat Manyampa, yang setiap tahunnya terkena dampak banjir. Juga kepada pihak Pemerintah Daerah (Pemda) Bulukumba, BPBD Bulukumba, Babinsa, Bhabinkambtibmas.

Tak hanya itu, Abbas, sapaan akrabnya juga menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kehadiran pihak P3MD Kabupaten Bulukumba, Satpol PP.

“Kegiatan ini tentu menjadi upaya bersama untuk memitigasi banjir yang setiap tahunnya terjadi saat musim hujan,” katanya.

KLIK INI:  Bak Avatar, Pemda Bulukumba Bentuk Tim Pengendali Banjir

Abbas Madda juga menyerukan agar kita bisa semakin massif memperhatikan sungai dari sampah khususnya tidak membuang sampah ke sungai.

“Gerakan kolektif ini juga kita harapkan melalui kesadaran bersama jika melihat sampah, apalagi seringkali batang dan ranting kayu banyak di sungai, kalau kita lewat dan melihatnya jika bisa itu di naikkan agar tidak menjadi penyumbat aliran sungai,” harap kepala desa dua periode yang telah membawa desanya meraih predikat kampung iklim dari KLHK.

Abbas tak menampik betapa besarnya kerugian dari dampak banjir, baik lahan pertanian dan perkebunan yang terendam jika banjir hingga ternak yang hanyut.

“Kita bisa belajar bersama dari kejadian sebelumnya betapa merugikannya dampak banjir, jika dikonversi ke rupiah bahkan per orangnya ada yang mengalami kerugian puluhan juta rupiah. Betapa tidak, sawah yang kadang telah ditanami, dipupuk jika terendam banjir bisa dipastikan gagal panen, ada berapa ongkos yang terbuang, belum ternak sapi dan lainnya,” pungkas Abbas mengenang.

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WITA ini dihadiri langsung oleh Pemkab, tampak hadir berbagai perwakilan dari beberapa instansi strategis.

Antusiasme Warga Melimpah Ruah

Para pihak dan warga Desa Manyampa terpantau berpartisipasi aktif melakukan pembersihan sampah dan vegetasi yang menghambat aliran sungai.

Kepala Desa Manyampa, Abbas Madda, sebelumnya memang telah mengeluarkan imbauan agar masyarakat bersinergi dalam kegiatan ini demi keamanan lingkungan dari ancaman luapan air. Bahkan gerakan Jumat bersih sedari lama dilakukan secara konsisten menanggapi kondisi desanya.

Kehadiran dinas terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum juga diharapkan dapat memberikan solusi teknis jangka panjang terhadap normalisasi sungai di wilayah tersebut.

Pemerintah Desa Manyampa berharap, dengan dibersihkannya Sungai Dampang Liku, risiko banjir di Dusun Dongi dan sekitarnya dapat diminimalisir secara signifikan.

Normalisasi Hilir, Kunci Tuntas Atasi Banjir

Bayangkan sebuah pipa raksasa yang bertugas membuang air dari atap rumah. Meskipun pipa di bagian atas sangat besar dan bersih, jika ujung pipa di bagian bawah tersumbat sampah atau menyempit, air pasti akan meluap keluar dari sambungan-sambungannya.

KLIK INI:  Rasakan 7 Khasiat Mengonsumsi Kopi Gula Aren di Festival Pinisi ke-XV Bulukumba

Logika sederhana inilah yang mendasari mengapa normalisasi sungai harus dilakukan secara tuntas hingga ke hilir, bukan setengah-setengah.

Dalam dunia rekayasa lingkungan, dikenali Hukum Kontinuitas. Prinsip ini menegaskan bahwa volume air yang masuk dari hulu harus bisa dikeluarkan dalam jumlah yang sama di hilir.

Jika bagian hilir sungai mengalami pendangkalan akibat sedimen atau penyempitan karena berbagai faktor termasuk sampah buangan atau sisa dari alam, maka terciptalah fenomena bottleneck atau leher botol.

Di sinilah bencana bermula, air yang seharusnya mengalir lancar terpaksa “mengantre”, menciptakan tekanan balik yang kita kenal sebagai efek backwater. Alhasil, air yang tidak tertampung ini akan mencari jalan keluar lain, yaitu meluap ke pemukiman warga sebelum ia sempat menyentuh laut.

Selain masalah ruang, kecepatan aliran air juga sangat bergantung pada kondisi fisik saluran di bagian hilir. Menggunakan pendekatan hidrolika, dari situ dipertegas perlunya memastikan bahwa hambatan di sepanjang sungai seminim mungkin.

Hilir sungai sering kali menjadi “tempat sampah” alami bagi sedimen dan lumpur yang terbawa dari gunung. Jika tumpukan lumpur ini tidak dikeruk melalui normalisasi, dasar sungai akan terus naik.

Kondisi ini sangat berbahaya karena bisa membuat dasar sungai lebih tinggi daripada saluran drainase di lingkungan warga. Akibatnya, air dari selokan tidak bisa masuk ke sungai dan justru berbalik menggenangi jalanan.

Urgensi di bagian hilir menjadi kian krusial saat kita bicara tentang penurunan muka tanah (land subsidence). Di banyak kota pesisir, daratan perlahan tenggelam sementara permukaan air laut naik. Dalam kondisi ini, air sungai tidak lagi bisa mengalir ke laut hanya dengan mengandalkan gravitasi.

Tanpa normalisasi hingga ke ujung, sistem pompa secanggih apa pun tidak akan bekerja maksimal karena ruang penampung air di hulu pompa sudah terlampau sempit.
Secara teknis, mengelola sungai adalah tentang mengelola energi dan ruang. Normalisasi yang menyeluruh hingga ke hilir memastikan bahwa energi aliran air tetap terjaga dan ruang tampungnya memadai dari titik awal hingga pembuangan akhir. Tanpa konsistensi pengerjaan hingga ke muara, upaya pengendalian banjir di bagian tengah atau hulu hanya akan memindahkan titik bencana tanpa pernah benar-benar menyelesaikannya.

Riwayat Banjir di Manyampa

Berdasarkan data historis yang dihimpun dalam tiga tahun terakhir, Desa Manyampa telah mengalami beberapa kali banjir besar yang sangat berdampak pada ekonomi warga:

  1. Mei 2023, Intensitas hujan yang sangat tinggi menyebabkan air sungai meluap ke permukiman, terutama di Dusun Dongi. Sekitar 29 rumah dan Masjid Miftahuddin Manyampa terendam dengan ketinggian air mencapai 1 meter.
  2. Juni 2023, hanya berselang satu bulan, banjir kembali melanda. Laporan mencatat ini adalah banjir ketiga dalam musim hujan tahun tersebut. Dampaknya meluas hingga merusak 300 hektare sawah dan 900 area tambak.
  3. Mei 2024, hujan deras di seluruh Kabupaten Bulukumba kembali merendam Manyampa.
  4. Mei danJuli 2025, pada Mei 2025, area tambak kembali terendam parah, menyebabkan kerugian besar bagi petani udang dan ikan. Puncaknya pada Juli 2025, Manyampa menjadi salah satu wilayah terdampak dari total 1.800 rumah yang terendam di seluruh Bulukumba akibat meluapnya Sungai Bialo.
Penyebab Utama Banjir Berulang

Penyebabnya bukan sekadar intensitas hujan yang tinggi, namun oleh kombinasi faktor alam dan infrastruktur, luapan sungaibdi deesa ini berada di daerah aliran sungai yang seringkali tidak mampu menampung debit air kiriman dari hulu saat intensitas hujan tinggi. Sehingga aksi River Clean Up menjadi salah satu upaya nyata dalam mitigasi banjir.

Selanjutnya pendangkalan sungai yang mengalami sedimentasi atau pendangkalan, sehingga air tidak bisa mengalir lancar ke laut.

Lalu kondisi pasang air laut, lokasi sebagian area Manyampa yang dekat dengan pesisir juga membuatnya rentan terhadap fenomena banjir rob yang memperparah luapan air sungai.

Dampak Ekonomi yang Signifikan

Manyampa dikenal sebagai salah satu sentra perikanan budidaya (tambak) di Bulukumba. Rentetan banjir ini menyebabkan, gagal panen tambak ikan dan udang hanyut terbawa arus, menyebabkan kerugian materiil.

Kerusakan lahan pertanian, ratusan hektare sawah terendam lumpur dan air, mengancam ketahanan pangan warga lokal.

Dari infrastruktur seperti jembatan kecil dan akses jalan desa seringkali rusak atau terputus akibat gerusan arus banjir bandang.