Kriminal Perdagangan Satwa Liar Makin Gacor, Ekosistem Kian Getir

Klikhijau.com โ€“ Berita kriminal melintas setiap hari di layar kecil smartphone kita, begitu deras menderu-deru. Beragam jenisnya. Tak sedikit, terbilang tak biasa. Aksi-aksi kriminalitas itu, sebagian...

Kriminal Perdagangan Satwa Liar Makin Gacor, Ekosistem Kian Getir
Bacakan Artikel

Pada Maret 2026 lalu ada kasus perdangan satwa liar yang tak lazim yakni perdagangan semut di Kenya. Jika lazimnya, kasus perdagangan satwa menyasar spesies ikonik seperti orangutan, harimau, gajah dan lainnya, kali ini sudah menyasar semut. Spesies yang mungkin tak terpikirkan bakal jadi objek perdagangan ilegal.

Ada lebih dari 5.000 ekor semut berhasil disita petugas. Nilainya ditaksir lebuh dari seratus juta rupiah. Otoritas di Kenya menyebut, jenis semut yang disita tergolong spesies semut pemanen raksasa (Messor cephalotes) yang perannya sangat vital di alam. Semut-semut tersebut kabarnya akan dipasarkan di Asia dan Eropa. Wow! Itu tandanya, kolektor โ€œhewan mikroโ€ sekaliber semut pun sudah menggurita. Ini jelas ancaman serius di masa depan.

Untuk diketahui, semut pemanen raksasa merupakan spesies asli Afrika Timur yang dijuluki artitek ekosistem paling kece. Di alam raya, spesies ini hidup berkoloni. Peran ekologisnya begitu mencengankan sebagai penebar benih dan pelakon kunci yang menjaga kualitas tanah di hutan.

Barangkali tidak sedikit warga net melihat peristiwa kejahatan perdagangan semut ini sebagai sesuatu yang biasa saja. Tentulah tidak seheboh pemberitaan kriminalitas umum. Namun, perlu diketahui bahwa kerusakan spesies kaliber semut akan merusak tatanan ekosistem. Dilansir ForestDigest, semut yang berpindah habitat akan menyisakan tragedi ekosistem, dimana ia akan menjelma sebagai hama invasive di area baru.

[irp]

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: