Ketika Cengkeh dan Kunyit Tak Sekadar Rempah, tapi Peta Pulang kepada Kekasih

Klikhijau.com - ‎Lalu siapa yang cukup gila menyimpan cengkeh dan kunyit dalam stoples. Bukan untuk digunakan di dapur sebagai bumbu, bukan. Hanya untuk dipajang saja. Seolah jika memandangnya semua k...

Ketika Cengkeh dan Kunyit Tak Sekadar Rempah, tapi Peta Pulang kepada Kekasih
Bacakan Artikel

‎Dan untuk menutup ruang kosong itu, maka cengkeh dan kunyitlah yang menjadi penutup untuk sementara. Bahkan menjadi isinya. Ketika cengkeh dan kunyit mulai kehilangan daya pikat melalui aromanya, Dimas akan segera menggantinya. Membelinya dari Belanda yang harganya cukup mahal atau mendatangkannya langsung dari Indonesia yang butuh waktu lama proses pengirimannya ke Prancis.

‎Sebagai eksil politik, yang tak bisa pulang ke negara asalnya, Indonesia, rempah, kenangan dan suratlah yang menghubungkan Dimas bersama tiga temannya (Nugroho Dewantoro, Tjai Sin Soe, Risjaf) dengan tanah air yang dicintainya. Ingatan mereka tentang Indonesia berhenti di tahun 1965.

[irp]  ‎

‎Semuanya bermula ketika Dimas menghadiri acara di luar negeri di tahun 1965. Tahun yang penuh gejolak, darah, dan air mata bagi Indonesia. Mereka secara terpaksa menjadi tapol atau tahanan politik di negara orang. Mereka dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diduga kuat sebagai dalang dari gerakan 30 September 1965.

Setelah peristiwa 30 September 1965 itu. Wajah indonesia berubah. Siapa pun yang diduga memiliki hubungan dengan PKI harus disingkirkan. Termasuk Dimas dkk.

Kisah Dimas dan petualangannya di Eropa, juga kekuatan kunyit dan cengkeh sebagai penjaga kenangan, identitas, dan peta pulang itu terdapat dalam novel Pulang, karya Leila S. Chudori. Sebuah novel yang sangat vokal memberi suara para eksil politik, yang bahkan banyak di antara mereka yang tak tahu letak kesalahannya di mana. Ini diwakili oleh empat sekawan itu. Mereka merupakan wartawan di sebuah media

[irp]

‎Dimas misalnya, yang menjadi tokoh penting dalam novel itu, ia digambarkan tak memihak pihak mana pun alias netral. Harus menghadapi kenyataan mengerikan. Hidup di negara orang dengan harga yang sangat mahal, sebab tak memiliki tenggat waktu, kapan bisa pulang ke Indonesia.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: