Meneropong Artivisme Lingkungan di Indonesia

Klikhijau.com - Seni dan aktivisme lingkungan telah menjalin senyawa baru dalam mengartikulasikan dinamika dan perubahan dunia. Seni dipandang tak lagi berbicara problematika sosial, budaya, dan polit...

Meneropong Artivisme Lingkungan di Indonesia
Bacakan Artikel
Wahdyuddin Yunus

Pendiri Jurnal Warung Kopi yang aktif sebagai pemerhati lingkungan sekaligus pegiat seni

Klikhijau.com - Seni dan aktivisme lingkungan telah menjalin senyawa baru dalam mengartikulasikan dinamika dan perubahan dunia. Seni dipandang tak lagi berbicara problematika sosial, budaya, dan politik. Seni juga punya andil dan bisa memberi tawaran baru di tengah upaya untuk mengatasi kompleksitas dan desakan masalah lingkungan.

Dinamika seni yang transformatif melalui karya "The Art of Environmental Activism in Indonesia" yang monumental, dipandang menyediakan  laboratorium produktif untuk mengeksplorasi kekuatan kreativitas sebagai agen perubahan sosial,  politik, dan kebudayaan

Lewat buku karya Edwin Jurriens ini hendak meneropong sejauh mana ikatan perwujudan antara seniman dan peran aktivisme lingkungan di Indonesia. Buku ini berupaya menganalisis hubungan antara seni kontemporer dan aktivisme lingkungan di Indonesia.

Mengisi Ruang Kosong

Buku Seni Aktivisme Lingkungan di Indonesia memberi andil dalam mengisi ruang kosong dalam literatur seni dan aktivisme. Hubungan Indonesia yang kompleks dengan lingkungan alam dan budayanya, merefleksikan bab-bab awal buku ini. Potret pameran tunggal seniman Setu Legi dalam mengeksplorasi "Tanah Air" menjadi lukisan yang mewarnai isi buku yang merujuk pada tanah dan air.

Aspek gender dan agama dalam pelibatan lingkungan di Indonesia turut diangkat oleh penulis lewat kehadiran karya seniman Arahmaiani. Buku ini memberi penekanan kaitan antara fenomena alam dan budaya Indonesia yang cukup beragam. Lantas, bagaimana seni ikut mengambil peran dan berkontribusi pada kesadaran ekologis

Dalam upaya terdalam dengan jalan mengeksplorasi bagaimana seni telah mempromosikan kesadaran ekologi dari akhir 1960-an hingga awal 2020-an. Pada dasarnya buku ini hendak menunjukkan, bagaimana seni telah turut berkontribusi pada perubahan sosial dan respons publik dan politik atas masalah krisis lingkungan.

Periode ini mencakup perkembangan urban yang cepat di bawah rezim Orde Baru yang totaliter (1967-1998) serta kebebasan berekspresi yang meningkat, model pembangunan alternatif, dan masalah lingkungan di bawah pemerintahan demokratis sejak 1998.

Tawaran Konsep Artisme

Buku dengan ketebalan 250 halaman ini menerapkan konsep "artivisme" untuk merujuk pada peran penting seni dalam aktivisme.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2