Meneropong Artivisme Lingkungan di Indonesia

Klikhijau.com - Seni dan aktivisme lingkungan telah menjalin senyawa baru dalam mengartikulasikan dinamika dan perubahan dunia. Seni dipandang tak lagi berbicara problematika sosial, budaya, dan polit...

Meneropong Artivisme Lingkungan di Indonesia
Bacakan Artikel
Wahdyuddin Yunus

Pendiri Jurnal Warung Kopi yang aktif sebagai pemerhati lingkungan sekaligus pegiat seni

Buku ini berusaha untuk mengidentifikasi dan mengkontekstualisasikan potensi dan batasan artivisme lingkungan di Indonesia, sebuah negara yang memiliki panggung adegan dan pertunjukan seni yang ikut berkontribusi pada masalah-masalah lingkungan.

Dalam merespons dampak lingkungan, jebakan politisasi, isu-isu ekologi yang menyejarah, seniman modern dan kontemporer bermunculan.

Konsep "Artivisme" diperkenalkan dalam buku ini dalam penekanan peran seni  yang menghubungkan masyarakat dengan aspek kepedulian terhadap lingkungan. Konsep ini juga menginspirasi hubungan keberlanjutan antara manusia dan alam.

Kedalaman buku ini juga memberikan gambaran komprehensif tentang seni kontemporer dari Indonesia, dengan analisis mendalam tentang artivis yang berusaha untuk mengatasi dan menemukan solusi untuk beberapa masalah lingkungan yang paling mendesak di zaman kita.

Melalui pendekatan empiris yang rinci tentang seni lingkungan di Asia Tenggara, proyek ini mengisi celah penting dalam literatur tentang seni dan aktivisme.

Kehadiran buku ini ditujukan untuk akademisi, mahasiswa, seniman, kurator, pembuat kebijakan, aktivis, dan pembaca umum yang tertarik dengan lingkungan, sejarah seni, dan budaya, masyarakat, dan politik Indonesia.

Catatan Kritis

Beberapa catatan kritis untuk buku ini antara lain :


  1. Gelora aktivisme lingkungan masih dalam ruang lingkup menyoroti bagaimana faktor politik dalam rezim orde baru yang berdampak lingkungan dan kebebasan pendapat yang terbatas.

  2. Dalam menyoroti program pembangunan era Soeharto tersebut, dipandang problem lingkungan masih sebatas pulau-pulau di Jawa dan berdampak secara lokal.

  3. Lalu pembangunan ekonomi yang terjadi digambarkan lebih memprioritaskan daerah-daerah di pusat yang berimplikasi lahirnya kesenjangan ekonomi dan eksploitasi lingkungan.

  4. Sehingga amatan atas kesenjangan ekonomi sebagai alasan untuk melakukan penetrasi terhadap lingkungan. Eksploitasi lingkungan menjadi gejala umum yang lahir dalam pemanfaatan dan pendayagunaan yang semakin terbatas.


Tentang Penulis

Edwin Jurriëns adalah penulis tergabung dalam Associate Professor dan Koordinator Program Studi Indonesia di Asia Institute, Fakultas Seni, Universitas Melbourne, Australia.

Beliau merupakan penulis dengan tiga buku solo, 1). Visual Media in Indonesia: Video Vanguard (Routledge, 2017),  2). From Monologue to Dialogue: Radio and Reform in Indonesia (2009), dan 3). Cultural Travel and Migracy: The Artistic Representation of Globalization in the Electronic Media of West Java (2004).

Selain itu beliau juga merupakan editor bersama beberapa buku yang diedit, salah satunya Disaster Relief in the Asia-Pacific: Agency and Resilience (Routledge, 2014).

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2