Kemarau Ingatan

Kemarau Ingatan   lampu kamar padam lebih awal semalam. kantuk tiba bacai semua pikiran. ruang tamu menanti datangmu bawa bunga-bunga. “air telah kering di mataku,” katamu “dirampas kem...

Kemarau Ingatan
Bacakan Artikel

di seberang jalan, reranting pohon melambai
daunnya bergugur, selembar daunnya jatuh tepat di sisi kananku
aku memungutnya lalu membayang, aku jadi daun
diterbangkan angin menuju gunung

dari gunung, aku ingin ke laut
menangkap ikan teri dan kumpulkan gelas plastik
di mana bekas bibirmu berumah

ingin kuusaikan menulis namamu, tepat di menit ke 25 setelah kumulai
sekarang tersisi lima menit, barangkali
aku malas menghitung waktu
sebenarnya, aku lebih suka menghitung berapa kali kau berkedip dalam semenit

subuh mulai menjauh. burung-burung kehilangan cericit
aku tak usaikan namamu, yang dirangkai dari puntung rokok
puntung rokok itu di terbangkan angin
menuju entah, barangkali pada kepalamu

[irp]

Memanen Hujan dari Mata


 

ada pohon tumbang di tepi jalan menuju rumahmu
aku urung bertamu
meski di sakuku, telah kulipat rindu berwarna bunga mawar

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: