Kemarau Ingatan

Kemarau Ingatan   lampu kamar padam lebih awal semalam. kantuk tiba bacai semua pikiran. ruang tamu menanti datangmu bawa bunga-bunga. “air telah kering di mataku,” katamu “dirampas kem...

Kemarau Ingatan
Bacakan Artikel

aku menulis ini tepat 17 menit setelah bangun di subuh buta
aku duduk di kursi kayu buatan ayah
kayu yang di tebang di dalam hutan sewaktu muda

merenung aku cukup lama. di luar pekat dan cahaya berkejaran
cericit burung-burung telah lama tiada
sejak hutan-hutan berubah taman bunga

sebenarnya mengisahkan pohon beringin di ujung kampung
pohon mistis yang penuh ikatan tali rafia itu
tempat menitip doa-doa
tapi semalam, angin datang menebangnya dengan paksa

setelah senja lindap itu, kau tak lagi berwajah hujan
kau antar kemarau di ingatan
kau pergi jauh, di mana sungai mengalir tak henti
padahal, aku tahu tak ada sungai di kemarau

[irp]

aku berdiri mematung, kau melangkah, pohon-pohon dalam tubuhku meranggas
pada tiadamu
kucari sendiri senyum di puntung-puntung rokok di mana saja, bahkan ke dalam kepala
kukumpulkan puntung rokok, merangkai namamu
aku bayangkan matamu yang hijau daun

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: