Kemarau Ingatan

Kemarau Ingatan   lampu kamar padam lebih awal semalam. kantuk tiba bacai semua pikiran. ruang tamu menanti datangmu bawa bunga-bunga. “air telah kering di mataku,” katamu “dirampas kem...

Kemarau Ingatan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

aku berdiri mematung, kau melangkah, pohon-pohon dalam tubuhku meranggas
pada tiadamu
kucari sendiri senyum di puntung-puntung rokok di mana saja, bahkan ke dalam kepala
kukumpulkan puntung rokok, merangkai namamu
aku bayangkan matamu yang hijau daun

di seberang jalan, reranting pohon melambai
daunnya bergugur, selembar daunnya jatuh tepat di sisi kananku
aku memungutnya lalu membayang, aku jadi daun
diterbangkan angin menuju gunung

dari gunung, aku ingin ke laut
menangkap ikan teri dan kumpulkan gelas plastik
di mana bekas bibirmu berumah

ingin kuusaikan menulis namamu, tepat di menit ke 25 setelah kumulai
sekarang tersisi lima menit, barangkali
aku malas menghitung waktu
sebenarnya, aku lebih suka menghitung berapa kali kau berkedip dalam semenit

subuh mulai menjauh. burung-burung kehilangan cericit
aku tak usaikan namamu, yang dirangkai dari puntung rokok
puntung rokok itu di terbangkan angin
menuju entah, barangkali pada kepalamu

Memanen Hujan dari Mata


 

ada pohon tumbang di tepi jalan menuju rumahmu
aku urung bertamu
meski di sakuku, telah kulipat rindu berwarna bunga mawar

aku memilih pulang
memanen hujan dari mataku saat kemarau begini
kubayangkan marahmu tumpah pada segelas kopi
pahitnya akan sampai ke langit

lalu menjadi lumut-lumut yang tak lagi disinggahi hujan.
………gersang yang rapuh…..

aku tetiba saja ingin jadi mikroplastik
menelusup ke dalam air darahmu
jadi denyut, jadi abadi
menyakiti seluruh tubuh dan pikiranmu

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2