Klikhijau.com – Siti Nur Aisyah Basri, Pengelola Toko Refill Lestari Desa Anrang, Bulukumba menceritakan jika awalnya tidak menyangka dari kegiatan toko refill yang dilakukan sejak bulan Januari 2025, ternyata bisa ikut berkontribusi mengurangi sampah sachet sebanyak 4.190 kemasan.
Pengurangan kemasan sachet yang dilakukan toko Refill Lestari yang dikelola Komunitas Masyarakat Peduli Sungai ini dari tidak disediakannya kemasan sachet dalam penjulan sabun cuci, melainkan pembeli bisa membawa wadah sendiri ketika belanja.
Saat ini toko Refill Lestari sudah memiliki 75 pelanggan tetap yang membeli produknya. Nur Aisyah mengatakan jika toko refill bukan hanya sebagai tempat berjualan, melainkan juga untuk mengedukasi masyarakat mengurangi penggunaan sachet.
“Ini kan dimulai dari langkah yang kecil, ternyata dari langkah yang kecil ini bisa berdampak besar, apalagi kalau kita bisa membuat langkah yang besar, pasti hasilnya akan jauh lebih besar. Jadi harus lebih bersemangat untuk mengembangkan refill di Bulukumba supaya penggunaan sachet bisa berkurang dan gerakan refill ini bisa menjadi kontribusi yang baik bagi lingkungan di Bulukumba,” jelas Nur Aisyah Basri.
Sementara itu, Firly Mas’ulatul Janah dari Ecoton mengatakan jika saat ini di Bulukumba sudah ada 6 penggerak green business yang fokus pada penjualan sabun tanpa sachet atau refill yang diinisiasi oleh Ecoton dan bekerjasama dengan DLHK Bukukumba.
“Selama 6 bulan terkahir kami menghitung sudah ada 233 pelanggaan di Kabupaten Bulukumba yang rutin belanja refill di toko jaringan komunitas. Setidaknya sudah ada 21.000 kemasan yang bisa kita kurangi untuk tidak menjadi beban bagi lingkungan,” ungkap Filry.
Firly juga berharap ada banyak toko refill yang bisa kita bangun bersama komunitas dan berjejaring di Bulukumba. Selain kegiatan ini bisa menjadi alternatif gerakan pengurangan sampah sachet, toko refill juga bisa menjadi sebuah bisnis yang ramah lingkungan.
Perusahaan mesti mendukung kegiatan refill
Meski begitu, Firly juga menekankan terhadap perusahaan untuk mendukung kegiatan refill komunitas dengan menyediakan produknya dalam bentuk curah, sehingga pasar refill bisa menjangkau banyak masyarakat.
Firly juga menjelaskan kenapa pengurangan sampah sachet perlu dilakukan, karena saat ini pencemaran mikroplastik sudah banyak di temukan di lingkungan kita, termasuk di air sungai, ikan dan rumput yang ada di Bulukumba. Ikan kareppe, merupakan salah satu jenis ikan lokal di sungai Bulukumba yang banyak di konsumsi oleh masyarakat, telah ditemukan kandungan mikroplastik dalam lambungnya.
“Bagi ikan, mikroplastik yang masuk ke tubuh akan mempengaruhi sistem reproduksi yang bisa menyebabkan kepunahan bagi ikan lokal sungai Bulukumba. Penemuan mikroplastik pada ikan dan rumput laut di sungai dan pantai Bulukumba menjadi bukti seriusnya pencemaran sampah plastik,” tambah Firly.
Lebih jauh, Firly menguraikan bahwa dampak pada manusia ketika manusia mengonsumsi ikan atau rumput laut yang telah terkontaminasi mikroplastik, partikel plastik dan zat kimia berbahaya yang menempel di permukaannya, seperti logam berat, pestisida, dan senyawa pengganggu hormon (endocrine disrupting chemicals seperti BPA, ftalat) berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia.
“Akumulasi mikroplastik dan zat toksik tersebut dalam jangka panjang dapat memicu gangguan hormon (endokrin), meningkatkan risiko gangguan metabolisme, berkontribusi terhadap peradangan kronis, serta berpotensi mempengaruhi fungsi organ vital seperti hati, ginjal, sistem saraf, dan sistem reproduksi,” pungkasnya.
Perlu diketahui, sebelumnya, Aliansi Komunitas Sungai (AKSI) Bulukumba melakukan brand audit sampah yang ada di 3 Sungai Bulukumba (Balantieng, Bijawang dan Bialo) dalam peringatan hari lingkungan hidup, 5 Juni 2025.
Dalam temuan Aksi Bulukumba ketika melakukan brand audit menemukan 5 merk terbanyak yang terdiri dari Wings, Indofood, Mayora, PT Mandiri Investama Sejati, dan PT Santos Jaya Abadi.








