Antara Patroli, Penyadartahuan, dan Durian

Klikhijau.com - Bulan Februari 2024, hujan masih sering turun dengan lembut, menyiram tanah. Sementara matahari kadang-kadang muncul, menghangatkan bumi yang masih dingin setelah diselimuti rinai. Di...

Antara Patroli, Penyadartahuan, dan Durian
Bacakan Artikel
Ramli

Menjaga Hutan dan Mengamati Burung

Pak Adnan dan istri adalah sosok pekerja keras. Sekali waktu pernah merantau ke negeri jiran, Malaysia, untuk mencari sumber penghidupan. Hanya beberapa tahun di negeri orang, keduanya kemudian kembali ke kampung halaman. Ciptakan kehidupan baru dengan sedikit pendapatan dan pengalaman merantau.

Secara otodidak, Pak Adnan mulai mengembangkan budidaya tanaman stroberi. Meskipun usahanya tidak selalu mulus dan banyak menghadapi rintangan, namun baginya hasilnya cukup memuaskan. Keduanya pernah membudidayakan stroberi hingga 10.000 pohon, hasil panen mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Setelah mengobrol cukup lama, saya meminta izin untuk melihat kebun stroberi miliknya. Beruntung, saat itu masih ada buahnya. Saya pun merasa senang bisa memetik dan menikmati stroberi langsung dari pohonnya. Sensasi asam manis dan segar stroberi, begitu memikat lidah kami.

Sebelum meninggalkan kebun pasangan suami istri ini, kami melakukan sosialisasi dan penyadartahuan kepada Pak Adnan tentang pentingnya menjaga kawasan hutan sebagai paru-paru bumi dan penyedia air. Kami juga menjelaskan larangan melakukan penebangan liar dan aktivitas merusak hutan.


Perjalanan kami terus berlanjut menuju Kampung Galung-Galung di zona khusus taman nasional. Warga setempat menyambut kami dengan ramah. Dengan suka rela mempersilahkan kami untuk beristirahat sejenak di teras mereka.

Patroli kali ini membawa kami menembus perbatasan dua desa, dua kabupaten, dan dua resor. Desa Rompegading, Camba, Maros, adalah wilayah kerja Resor Camba, sementara Desa Tompobulu, Balocci, Pangkep, berada di bawah pengawasan Resor Balocci. Akses antara kedua desa ini masih menggunakan jalan pengerasan, setidaknya memudah kendaraan roda dua warga lalu lalang.

Sungai menjadi batas alam antara dua desa. Warga pun dengan mudah mengenali batas ini. Jalan yang kami lalui merupakan jalur penghubung antara dua desa. Dahulu, wilayah ini adalah zona inti dan zona rimba, namun berdasarkan kajian kemudian diturunkan statusnya menjadi zona khusus. Memberikan akses yang lebih mudah bagi masyarakat setempat.

Saat melintasi Kampung Galung-Galung, saya mengamati kehidupan sehari-hari warga setempat. Nampak sebagian besar mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian. Warga terlihat sibuk bekerja di sawah, bercocok tanam palawija, dan merawat kebun kopi milik mereka.

Ketika hendak pulang, kami melihat buah durian yang menggelantungan. Salah satu kawan berani diri bertanya kepada pemilik kebun. “Apakah ada durian yang sudah matang?” Paisal dengan spontan melayangkan tanya.

Dengan senang hati pemilik kebun pun mengunduhkan beberapa durian yang matang. Kami pun bersantap ria dengan hati yang berbunga. Memproleh durian gratis dari warga pinggir hutan. Saya pun dengan lahap menikmatinya.

Perjalanan patroli kali ini memberi banyak makna. Tak hanya memantau keamanan hutan, tetapi juga memberikan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat. Memahami lebih dalam kehidupan mereka. Melalui sosialisasi dan penyadartahuan, kami berharap dapat memberi pemahaman dan kesadaran akan pentingnya menjaga alam bagi keberlangsungan hidup bersama.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2