- Walisongo, Tanaman yang Menawarkan Keindahan Sekaligus Keunikan pada Daunnya - 26/03/2026
- Ketika Cengkeh dan Kunyit Tak Sekadar Rempah, tapi Peta Pulang kepada Kekasih - 24/02/2026
- Hujan Lale - 22/02/2026
Klikhijau.com – Tutup matamu! Bayangkan warna putih, kuning gading (krem), dan hijau tua bertemu pada selembar daun. Ketiganya bukan bercampur menjadi satu, tapi masing-masing mengambil tempat pada selembar daun yang berukuran kecil.
Ketiganya seolah berlomba menempati daun itu. Putih dan krem seakan tak memiliki tempat. Jadi, keduanya menyatu sehingga menghadirkan warna yang unik (selanjutnya penyatuan dua warna itu kita sebut saja warna krem). Kedua warna itu melawan warna hijau tua.
Apa yang terjadi kemudian dari perebutan ruang itu? Yang terjadi adalah kelahiran corak yang eksotis. Memanjakan mata. Melahirkan visual yang memukau.
Setelah putih dan krem menyatu jadi satu, jadinya hanya dua warna yang berebutan ruang. Namun, mereka tidak saling merecoki. Keduanya membagi tugas mengisi selembar daun. Jika warna krem menempati sebelah kiri, maka warna hijau tua menempati sayap kanan. Atau kadang, kedua warna itu seolah berebutan menempati sisi tertentu, sehingga coraknya tidak beraturan.
Ketika melihatnya, kadang warna krem mendapat tempat sedikit saja, seperti sebuah tanda baca, titik, koma atau terkadang seperti lingkaran. Atau kadang-kadang mengepung warna hijau, bahkan kadang warna hijau tidak mendapatkan ruang.
Terkadang pula, warna hijau tidak memberi kesempatan pada si krem untuk menempati daun. Perpaduan keduanya memberi pesona yang indah pada tanaman yang bernama walisongo itu.
Tanaman ini, kerap dijadikan tanaman hias atau bahkan tanaman pagar hidup. Rantingnya akan saling bertaut satu sama lain, sehingga akan sulit untuk diterobos. Sedangkan akarnya akan menancap tajam ke dalam tanah. Mencengkeramnya.
Saat mulai tumbuh dan akarnya mencengkram tanah, akan sangat sulit mencabutnya. Saya pernah mencoba melakukannya. Namun, gagal. Padahal saya telah menggunakan parang dan linggis. Perakaran yang kuat itu, memungkinkan tanaman ini cocok sebagai pencegah longsor.
Perawatan mudah dan gampang tumbuh
Iya, kita sedang membahas tanaman Walisongo. Tanaman yang memiliki nama ilmiah yang keren Schefflera actinophylla.
Di Desa Kindang, tidak banyak menanam tanaman ini, padahal corak daunnya memiliki keindahan yang membuat jatuh cinta.
Tanaman walisongo merupakan jenis tanaman semak perdu. Di Indonesia tanaman ini acap digunakan sebagai komponen taman. Ia biasa ditempatkan pada suhu panas yang ekstrim halaman rumah atau trotoar. Ia bisa tumbuh pada daerah gersang dan basah.
Ada hal yang menarik dari tanaman ini, bukan hanya mudah dirawat, tetapi juga gampang tumbuh. Cukup ambil rantingnya, lalu tancapkan ke tanah. Tunggulah beberapa waktu saja, ia akan tumbuh.
Tanaman ini mudah dikenali mulai dari corak daun hingga bentuknya yang unik. Daunnya berbentuk jari tangan pada batang utamanya. Sedangkan corak daunnya, seperti yang dbahas pada awal tulisan ini.
Tanaman dari Ordo rosales ini memiliki daun yang tebal, bentuknya bergelombang, lonjong, ramping, runcing bahkan mirip daun ubi kayu. Sekilas daunnya seperti plastik. Licin dan mengkilap.
Sebagai tanaman hias, walisongo mampu membuat suasana halaman rumah tampak hidup dan segar. Tidak hanya itu, ada setumpuk manfaat yang dikandungnya pula, dari hasil penelitian tanaman ini ternyata mampu menyerap racun dursila. Manfaat lainnya adalah dapat digunakan sebagai penetralisir udara di smoking area.
Sebagai tanaman yang memiliki keindahan dan daya pikat, tanaman ini layak untuk diberi ruang, baik dalam ruangan maupun luar ruangan untuk tumbuh. Memberi manfaat visual yang memanjakan.
Saya telah menanamnya di tandabaca Kindang, cukup banyak. Sebagai pagar hidup sekaligus pencegah longsor.







