Neofeodelisme Hijau, Mengapa Pemimpin Inovasi Digital-Miliarder Global Kembali Bertani?

oleh -82 kali dilihat
Pemimpin Inovasi Digital dan Miliarder Global : Mark Zuckerberg-Bill Gates-Jeff Bezos
Pemimpin Inovasi Digital dan Miliarder Global - (Foto: Kolase Mark Zuckerberg, Bill Gates, Jeff Bezos/Andi Fitrah Maulana/Klikhijau)

Klikhijau.com – Mengapa pemimpin inovasi digital yang juga tercatat sebagai miliarder global kembali bertani?, hobi baru atau ambisi besar menguasai isi piring kita, sementara itu seringkali kita membaca narasi sektor pertanian kurang diminati, dengan berbagai dalih.

Dunia sedang menyaksikan sebuah anomali yang menggelitik, para titan teknologi yang dulu menghabiskan waktu di laboratorium kode dan sirkuit silikon, kini justru sibuk berinvestasi pada kotoran ternak dan bajak sawah.

Sebut saja Bill Gates, Jeff Bezos, hingga Mark Zuckerberg. Mereka, yang kekayaannya dibangun di atas awan (cloud) digital, tiba-tiba menapakkan kaki kembali ke bumi dalam arti yang sangat harfiah.

Fenomena ini bukan sekadar hobi akhir pekan bagi para pesohor, melainkan sebuah pergeseran geopolitik dan ekonomi yang sangat masif. Laporan dari The Land Report sempat mengejutkan publik ketika mengungkapkan bahwa Bill Gates telah menjadi pemilik lahan pertanian swasta terbesar di Amerika Serikat, menguasai lebih dari 269.000 hektar tanah di puluhan negara bagian.

Gaya hidup  ini dilihat sebagai “filantropi hijau”, namun kacamata kritis melihatnya sebagai langkah penguasaan aset paling vital dalam sejarah manusia, sumber pangan. Secara historis, tanah adalah aset yang tidak bisa diproduksi ulang.

Ketika inflasi menghantam dan pasar saham bergejolak, tanah tetap diam di sana, memberikan hasil yang stabil dan nilai yang terus naik. Bagi para miliarder ini, tanah pertanian adalah “emas baru” yang jauh lebih nyata daripada kripto atau saham perusahaan rintisan yang spekulatif.

KLIK INI:  Ayo Terus Menanam di Pekarangan, Ancaman Krisis Pangan di Depan Mata!

Di tengah ketidakpastian iklim dan pertumbuhan populasi yang diprediksi mencapai 10 miliar pada 2050, siapa pun yang memiliki kontrol atas produksi kalori akan menjadi pemegang otoritas global yang sesungguhnya.

Analisis mendalam terhadap tren ini menunjukkan adanya integrasi teknologi tingkat tinggi ke dalam lumpur sawah, atau yang sering disebut dengan Precision Agriculture. Namun, di balik narasi “menyelamatkan dunia dari kelaparan,” terdapat kekhawatiran mengenai konsentrasi kekuasaan.

Mengutip dari International Panel of Experts on Sustainable Food Systems (IPES-Food), akuisisi lahan skala besar oleh elit korporasi sering kali berujung pada marjinalisasi petani kecil. Ketika harga lahan melonjak karena permintaan dari para miliarder, petani lokal kehilangan kemampuan untuk membeli atau menyewa tanah di tanah kelahiran mereka sendiri.

Hal ini akan menciptakan struktur masyarakat yang sangat timpang, di mana kedaulatan pangan beralih dari komunitas lokal ke algoritma yang dikelola di Seattle atau San Francisco.

Lebih jauh lagi, kita harus melihat bagaimana Mark Zuckerberg, misalnya, yang menginvestasikan jutaan dolar untuk peternakan sapi wagyu di Kauai, Hawaii, dengan pakan yang menggunakan kacang macadamia dan bir yang diproduksi di lahannya sendiri.

Secara permukaan, ini tampak seperti eksperimen pertanian mewah. Namun, jika dilihat lebih dalam, ini adalah bentuk swasembada elit yang eksklusif. Di sisi lain, Jeff Bezos melalui Bezos Earth Fund menyuntikkan dana besar untuk pengembangan daging nabati dan restorasi lahan.

Pertanian tanpa Petani adalah Mimpi Buruk

Pertanyaan lainnya adalah, apakah solusi yang ditawarkan oleh para miliarder ini bersifat demokratis? Ataukah mereka sedang membangun “benteng pangan” pribadi sembari menerapkan model pertanian industri yang sebenarnya merupakan penyumbang emisi karbon terbesar?

KLIK INI:  Penuh Inspirasi dan Motivasi, Ini 7 Film tentang Pertanian yang Mesti Ditonton

Kritik tajam sering kali datang dari aktivis agraria seperti Vandana Shiva, yang dalam berbagai esainya menekankan bahwa “Pertanian tanpa Petani” adalah mimpi buruk ekologis.

Model yang dibawa oleh para miliarder ini cenderung bersifat padat modal dan otomatisasi. Penggunaan drone, sensor tanah, dan traktor otonom mungkin efisien secara statistik, tetapi ia menghapus aspek sosial-budaya dari pertanian itu sendiri.

Pertanian tradisional bukan hanya soal memproduksi komoditas, melainkan menjaga keseimbangan ekosistem dan ikatan komunitas. Ketika tanah dikelola sebagai portofolio investasi murni oleh pemilik yang bahkan mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di sana, hubungan emosional dan tanggung jawab ekologis terhadap tanah tersebut berisiko memudar.

Dampak ekonomi dari fenomena “miliarder bertani” ini juga akan sangat terasa pada rantai pasok global. Ketika aset tanah terkonsentrasi di tangan sedikit orang, kontrol atas harga pangan menjadi sangat rentan terhadap keputusan satu atau dua individu.

Bayangkan sebuah dunia di mana akses kita terhadap gandum atau jagung bergantung pada kebijakan operasional perusahaan milik satu orang terkaya di dunia. Ini bukan lagi soal pasar bebas, melainkan neofeodalisme digital yang berbalut kerah hijau.

Food and Agriculture Organization (FAO) terus mengingatkan pentingnya keragaman kepemilikan lahan untuk menjamin resiliensi pangan. Diversitas (keberagaman) bukan hanya soal jenis tanaman, tapi juga soal siapa yang mengelola tanah tersebut.

Namun, tidak adil jika kita tidak melihat sisi argumen dari para inovator ini. Mereka berargumen bahwa pertanian tradisional terlalu lambat untuk beradaptasi dengan perubahan iklim yang ekstrem. Mereka membawa modal besar yang diperlukan untuk penelitian benih yang tahan kekeringan dan sistem irigasi yang sangat hemat air.

KLIK INI:  Lahirnya Koperasi Pemasaran DMT: Mendukung Petani Aren dan Pemulihan DAS Balangtieng

Misalnya, Bill Gates melalui yayasannya menekankan pentingnya produktivitas lahan di Afrika dan Asia untuk mencegah kelaparan massal. Masalahnya, solusi yang ditawarkan sering kali bersifat “top-down” dan sangat bergantung pada input kimia atau paten benih yang dimiliki oleh perusahaan besar. Ini menciptakan ketergantungan baru bagi petani di negara berkembang terhadap teknologi yang dimiliki oleh para miliarder tersebut.

Kembalinya para miliarder global ke sektor pertanian adalah sebuah paradoks modern. Di satu sisi, investasi mereka membawa angin segar bagi inovasi teknologi pertanian yang selama ini mungkin kekurangan dana. Namun di sisi lain, konsentrasi lahan yang luar biasa luas di tangan segelintir orang mengancam hak-hak dasar petani kecil dan merusak tatanan kedaulatan pangan rakyat.

Kita perlu menelaahnya lebih dalam, apakah kita sedang menuju masa depan di mana pangan menjadi lebih murah dan tersedia bagi semua, ataukah kita sedang menyaksikan babak baru di mana perut manusia menjadi sandera dari akumulasi kekayaan yang tak terbatas?. Pangan adalah hak asasi, dan tanah adalah warisan bersama umat manusia.

Ketika ia berubah menjadi sekadar deretan angka di aplikasi investasi seorang miliarder, maka di situlah kita harus mulai merasa cemas. Semua hal ini mengingatkan kita bahwa meskipun teknologi melesat ke luar angkasa, kehidupan kita tetap bermula dan berakhir dari apa yang tumbuh di atas tanah.