Skywalk Cihampelas, Destinasi Wisata Ikonik yang Pamornya Mengelupas

oleh -73 kali dilihat
Skywalk Cihampelas, Bandung-foto/Subhan Riyadi

Klikhijau.com – Mumpung sedang berada di Bandung, saya menyempatkan diri mengunjungi salah satu ikonnya. Ini  pertama kali saya menginjakkan kaki di kota kembang.

Di sela kegiatan kedinasan. Ada sesuatu yang unik. Itu membuat saya penasaran. Ada sebuah jembatan layang tepat di atas Jalan Cihampelas. Tidak jauh dari hotel tempat saya menginap pada 29 Agustus 2025 lalu.

Usai sarapan pagi, saya ingin membakar lemak dengan berjalan kaki dan menaiki tangga menuju jembatan tersebut. Dari bawah, konstruksinya tampak menjanjikan, unik, modern, dan terlihat seperti ruang publik yang semestinya nyaman untuk berjalan kaki atau sekadar menikmati suasana kota.

Sesampainya di atas, saya bertanya kepada seorang petugas kebersihan yang sedang menyapu dedaunan yang berjatuhan. Saya juga menanyakan nama tempat yang saya pijaki itu.  Dengan ramah, petugas itu menjawab, namanya Skywalk Cihampelas, yang lebih dikenal warga sebagai Teras Cihampelas.

Saya cukup terkejut dan sedikit takjub mendengar namanya.

KLIK INI:  Ratas Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas, Ini 6 Poin Arahan Presiden!

Ternyata, Teras Cihampelas dibangun pada tahun 2017 sebagai salah satu upaya inovatif Pemerintah Kota Bandung di masa kepemimpinan Ridwan Kamil dan Oded M. Danial. Tujuannya mulia, untuk mengurai kesemrawutnya ibukota.

Salah satu tujuan Teras Cihampelas adalah untuk merelokasi pedagang kaki lima (PKL) yang dahulu memadati trotoar sepanjang Jalan Cihampelas, serta menciptakan ruang publik yang nyaman, aman bagi warga, dan wisatawan.

Pernah jadi primadona

Di awal peresmiannya, tempat itu memang sempat menjadi primadona baru di Kota Bandung. Warga datang untuk berolahraga, bersantai, berfoto, berpacaran atau sekadar menikmati senja dari ketinggian.

Namun, kenyataannya hari di mana saya mengunjunginya cukup memprihatinkan. Skywalk yang dulu semarak kini tampak kotor, kumuh, sepi, dan kurang terurus.

KLIK INI:  Burung Migran, Kekebalan Tubuh, dan Ancaman yang Mengintainya

Beberapa bangunan kios terlihat kosong. Cat-cat mulai mengelupas, tanaman tidak tertata, dan minim aktivitas pengunjung. Padahal, proyek ini konon menelan biaya hingga Rp 48 miliar dari anggaran daerah.

Miris rasanya melihat potensi besar sebuah ruang publik terbuang sia-sia. Alih-alih menjadi destinasi wisata unggulan, Teras Cihampelas kini justru seperti ruang mati yang kehilangan pamornya.

Fasilitas yang dulunya menjadi daya tarik warga dan wisatawan, kini mangkrak, banyak fasilitas yang rusak dan terbengkalai.

KLIK INI:  Mari Sejenak Menikmati Keindahan Bunga Ubi Jalar

Sampah-sampah sisa air mineral maupun jenis lainnya, berserak di mana-mana, beberapa kursi beton dan kayu yang disediakan untuk pengunjung tampak usang, dengan cat mengelupas dan permukaan kasar.

Parahnya lagi, coretan grafiti terpampang nyata di depan mata. Beberapa bahkan sudah retak dan tak lagi nyaman digunakan.

Lampu-lampu hias yang dulu mempercantik suasana malam kini sebagian besar tidak berfungsi. Hal ini membuat area menjadi gelap dan terkesan tidak aman saat malam hari.

Petunjuk arah yang seharusnya membantu wisatawan menavigasi area sudah pudar atau hilang sama sekali. Ini menyulitkan pengunjung yang baru pertama kali datang.

KLIK INI:  Panorama Hijau Tebing dan Pantai Marumasa di Selatan Sulsel

Beberapa kios UMKM tutup permanen, hanya coretan-coretan seniman jalanan paling mendominasi, sementara yang lainnya tampak berkarat, tidak terawat.

Bahkan fasilitas umum, seperti toilet sangat tidak bersahabat terhadap orang yang melewatinya.

Pemandangan ini mengurangi aktivitas dan daya tarik. Permukaan lantai yang dulunya bersih kini dipenuhi retakan, bahkan lubang kecil yang bisa membahayakan pengunjung jika tidak hati-hati.

Untungnya, masih ada petugas kebersihan tetap setia membersihkan sampah-sampah sisa pesta semalam. Begitu sabar mereka menyapu dedaunan kering, memungut sampah-sampah plastik yang dibuang semaunya.

KLIK INI:  Tebing Apparalang dan ‘Kebenaran’ Lagu Nenek Moyang dari Ibu Sud
Skywalk Cihampelas, Bandung-foto/Subhan Riyadi
Perlu perawatan berkelanjutan

Sebagai wisatawan lokal, saya berharap pemerintah kota Bandung segera mengambil langkah konkret untuk revitalisasi.

Petugas kebersihan yang sempat saya ajak ngobrol menyayangkan bahwa ikon yang dulunya dibanggakan kini justru menjadi contoh ruang publik yang terlantar.

Teras Cihampelas adalah salah satu proyek yang menunjukkan bahwa kota bisa membangun ruang publik modern tanpa kehilangan karakter lokal.

Namun, proyek seperti ini tidak cukup hanya dibangun perlu juga perawatan berkelanjutan.

Pemerintah kota, komunitas warga, dan pelaku usaha setempat seharusnya dapat bergandengan tangan menjaga, merawat dan memoles fasilitas ini agar lebih eksotis bagi warga Bandung.

Tanpa itu, Teras Cihampelas hanya akan menjadi monumen gagalnya perencanaan jangka panjang dalam pengelolaan ruang publik.

KLIK INI:  6 Fungsi Bambu dalam Menyemarakkan HUT Kemerdekaan Indonesia

Padahal ketika pertama kali diresmikan, Skywalk Cihampelas hadir dengan konsep modern, jembatan pedestrian sepanjang 450 meter, lebar sekitar 7–9 meter, dan tinggi sekitar 4,6 meter membentang di atas Jalan Cihampelas.

Dilengkapi dengan taman, kursi, kios UMKM. Pencahayaan artistik di malam hari, tempat ini sempat menjadi simbol Bandung sebagai kota kreatif dan ramah pejalan kaki.

Semoga ke depan ada langkah revitalisasi dari pemerintah kota agar Teras Cihampelas tak hanya menjadi kenangan dari masa lalu, melainkan bisa kembali hidup dan menjadi contoh keberhasilan pengelolaan ruang publik yang berkelanjutan.

Apabila kamu kebetulan ke Bandung, mampirlah untuk menikmati sensasi Teras Cihampelas! Dan semoga saat kamu berkunjung, kondisinya sudah jauh lebih cantik dan seksi dari apa yang saya lihat saat mengunjunginya.

KLIK INI:  Bersama Warga, Bhabinkamtibmas Bersihkan Area Air Terjun Laliako Sinjai