Klikhijau.com – Sebagai tanaman dataran tinggi. Pohon puspa dapat tumbuh di lahan yang kristis. Karenanya, pohon ini mampu merestorasi hutan pegunungan yang rusak oleh aktivitas manusia seperti perambahan dan pertambangan.
Puspa adalah jenis pohon yang tergolong famili Theaceae. Famili ini sangat mendominasi kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Pohon bernama latin Schima wallichii (DC.) Korth.) ini tersebar di sebagian Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Pulau Sumatera, juga tersebar di seluruh wilayah pulau Jawa.
Hilwan dan Rahman, (2021) yang mengutip pendapat Bloembergen (1952) mengungkapkan, di tanah air (Indonesia) penyebarannya secara alami jenis pohon terdapat di Pulau Jawa, terutama di Jawa Barat.
Ia bisa tumbuh pada ketinggian 1000 hingga1500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pohon ini tumbuh secara berkelompok sehingga mampu membentuk hutan primer maupun hutan sekunder
Di Indonesia sendiri, puspa memiliki beragam nama di antaranya merang sulau, ceheru, ciru, saru, gerupal, simartolu, madang gatal, huru manuk, dan huru batu.
Sementara di Malaysia dikenal dengan nama gegatal dan medang gatal, sedangkan di Thailand, namanya lebih dikenal dengan Ta-lo, (Purnama, dkk 2016)
Hal unik dari pohon yang bisa tumbuh dengan tinggi mencapai 40 m dan diameter 130 cm ini. Adalah mampu hidup di berbagai kondisi iklim, tanah, dan habitat.
Ia bisa ditemukan tumbuh subur dan melimpah di dataran rendah hingga pegunungan. Umumnya pohon ini bisa ditemui di hutan-hutan sekunder dan wilayah yang terganggu, bahkan ia juga bisa tumbuh di padang ilalang.
Cepat tumbuh
Pohon ini termasuk tumbuhan yang cepat tumbuh atau fast growing. Proses tumbuh cepat itu didukung pula oleh sifatnya yang tidak memilih-milih kondisi tekstur dan kesuburan tanah.
Ia memiliki daya survive yang cukup tinggi dan tangguh, kulit kayunya tebal. Hal itu menjadi daya dukung dalam menahan kobaran api.
Ketika pohon dari ordo Ericales roboh, anakannya akan cepat bertumbuh saat hujan turun menyirami dan membasahi lantai hutan. Karena itu, ia bisa jadi pilihan yang baik untuk melakukan reboisasi
Pohon dari divisi Magnoliophyta ini memiliki pepagan beralur dangkal yang berwarna kemerahan hingga warna abu-abu gelap.
Ia berdaun tunggal, daunnya tersebar spiral dengan helai jorong, lonjong atau melebar. Pada tepi daunnya bergerigi dengan pertulangan daun sekunder.
Jumlah daunnya adalah 6 hingga 8 pasang. Pohon puspa berbunga tunggal. Warna bunganya berwarna putih yang saling melekat dipangkalnya. Bunganya memiliki benangsari yang banyak.
Sementara buahnya berbentuk kotak hampir bulat. Diameternya 2 hingga 3 cm. Selain di Indonesia, Malaysia, dan Thailan, pohon ini tersebar juga di India, Nepal, China, Burma, Laos, Vietnam, Brunei, Filipina dan juga di Papua Nugini.
Seperti disinggung di atas, pohon ini tumbuh di berbagai kondisi lahan, baik basah maupun kering. Ia juga mampu tumbuh pada daerah berawa hingga tepian sungai.
Cara memperbanyaknya cukup muda, karena generatifnya melalui biji. Pohon dari kelas Magnoliopsida ini mempunyai kemampuan berbuah setiap tahun, namun ia akan brbuah banyak pada bulan Agustus-November.
Manfaat dan klasifikasi
Pohon puspa kerap dijadikan sebagai pelindung dan untuk reklamasi lahan, termasuk juga reboisasi daerah tangkapan air.
Pohon ini biasa ditanam di hutan kota atau taman kota. Kayunya dapat dgunakan sebagai bahan bangunan, bahan kertas dan pulp.
Pepagan dari pohon puspa ini dapat menghasilkan zat pewarna yang biasanya digunakan untuk menyamak kulit. Bahkan di daerah Jawa Barat, dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menuba ikan.
Pohon ini memiliki klasifikasi ilmiah sebagai berikut:
- Kingdom : Plantae
- Divisi : Magnoliophyta
- Kelas : Magnoliopsida
- Ordo : Ericales
- Famili : Theaceae
- Genus : Schima
- Spesies : Schima wallichii (DC) Korth.








