Astronomi Lokal Kewalahan Memprediksi Musim, Perubahan Iklim Didorong oleh Aktivitas Manusia?

oleh -61 kali dilihat
Astronomi Lokal Kewalahan Memprediksi Musim, Perubahan Iklim Didorong oleh Aktivitas Manusia
Ilustrasi - Foto/ Markus Spiske on Unsplash
Irfan Palippui

Klikhijau.com – Belakangan, orang-orang tua kita di kampung semakin kewalahan menghadapi musim tanam untuk memulai aktivitas mereka di sawah maupun di kebun.

Astronomi lokal kian kesulitan melakukan prediksi. Kadangkala cuaca cerah, namun di luar dugaan hujan disertai angin kencang tiba-tiba menyerobot begitu saja.

Untuk wilayah Selatan Sulawesi Selatan, misalnya, kebanyakan warga meyakini  hujan sudah menipis di bulan Juli.  Namun, pengalaman terhadap musim itu terbantahkan tatkala dini hari (Rabu, 8/7/2021) hujan deras tiba-tiba mengguyur empat wilayah di Selatan Sulawesi Selatan dengan intensitas tinggi, hingga bencana tak dapat dielak.

Kejadian ini tentu saja menyisakan pilu terhadap warga terdampak. Betapa tidak, dari kejadian tersebut tidak sedikit rumah tenggelam di Bantaeng, puluhan ternak terbawa arus di Bulukumba, satu warga meninggal di Jeneponto, longsor di Sinjai, serta beberapa jembatan yang roboh.

Tampaknya, hujan memang agak lebih panjang di tahun 2021 ini. Pengetahuan astronomi warga lokal sekali lagi mendapat tantangan, untuk tidak mengatakan perlu melakukan analisa ulang serta penajamanan pengalaman atas perubahan-perubahan siklus alam yang bisa berubah seketika.

KLIK INI:  Caleg Boleh Gagal, Tapi Tancapan Paku APK di Pepohonan, Jangan

Tidak hanya itu, para petani juga sudah selayaknya dapat mengakses dan memahami informasi-informasi lembaga sekelas BMKG agar kejadian seperti di atas tidak terulang kembali.

Pada bulan April 2021, misalnya, BMKG[1] telah memperingatkan agar mewaspadai datangnya siklon tropis seroja yang bermula di Nusa Tenggara Timur. Siklon Tropis Seroja tersebut berdampak signifikan di seluruh Indonesia, dan khususnya di Sulawesi berpotensi tebalnya curah hujan, petir dan angin kencang.

Bahkan, hingga bulan mei pemberitaan di media-media sudah mewanti-wanti akan adanya hujan disertai angin kencang melanda Sulawesi Selatan. Dalam rilisnya, BMKG[2] sudah menunjukkan pergerakan La Nina hingga Mei 2021 yang dapat memicu perubahan dan perbedaan cuaca secara global: dapat lebih basah atau kering, hangat atau dingin di seluruh dunia.

Artinya, warga sudah harusnya tahu lewat pengalaman menghadapi La Nina sebelumnya (atau melalui keseriusan pemerintah daerah masing-masing mengatasi potensi angin kencang disertai curah hujan tinggi itu), sehingga  tak ada lagi dampak signifikan yang diakibatkan oleh fenomena alam tersebut.

Akan tetapi, apakah perubahan cuaca ekstrim di atas hanya cukup di tengarai oleh siklus fenomena alam saja?

KLIK INI:  Menelusuri Dugaan Korupsi Megaproyek Makassar New Port
Perubahan iklim dan aktivitas manusia

Berdasarkan hasil penelitian mutakhir, pertanyaan di atas tentu saja tidak cukup menjawab pertanyaan ini. Baru-baru ini, hasil studi yang dipublikasikan di Nature Communication[3] melihat bahwa kecederungan kelembaban planet bumi tidak hanya melulu diakibatkan oleh siklus alam.

Para ilmuawan bumi mulai mengungkapkan bahwa perubahan iklim justru banyak disebabkan oleh aktivitas manusia. Menurut tulisan tersebut, aktivitas dan dorongan manusia itu potensinya lebih berbahaya. Dan itu telah membuat bumi lebih lembab: lebih sering hujan dan bersalju.

Untuk membuktikan pernyataan itu, ilmuwan bumi dari University of California, Los Angeles, menggunakan Machine learning-based methods untuk menunjukkan bahwa perubahan iklim yang didorong oleh aktivitas manusia memberi dampak signifikan terhadap  perubahan iklim.

Studi ini menemukan bahwa beberapa dekade terakhir, aktivitas manusia yang menyebabkan pemanasan global mendorong tingginya intensitas curah hujan dan salju ekstrem. Jika dibiarkan, kemungkinan besar aktivitas manusia itu akan terus berkontribusi pada cuaca ekstrem di masa depan.

KLIK INI:  Malam Ini, Yuk Padamkan Lampu Sejenak demi Bumi Kita!

Para ilmuwan telah lama khawatir tentang bagaimana kenaikan suhu menyebabkan intensitas hujan lebat di seluruh dunia. Saat dunia serasa panas, sesungguhnya baik air laut, danau, serta tanah akan menguap dan berakhir di atmosfer bumi.

Atmosfer yang lebih panas  inilah yang menahan lebih banyak kelembapan, dengan uap air global meningkat sekitar 7 persen untuk setiap 1°C pemanasan. Dampaknya akan sering terjadi hujan maupun salju, sebab kelembaban tadi menyediakan potensi hujan lebih deras.

Ini tidak hanya berarti perubahan iklim menyebabkan lebih banyak awan dan menyebabkan hujan setiap harinya – meskipun itu mungkin salah satu aspek masalahnya.

Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian lain, intensifikasi curah hujan tentulah berpotensi menelan korban jiwa sebab frekuensi atau keparahan banjir serta tanah longsor juga sewaktu-waktu dapat terjadi.

Beberapa minggu lalu misalnya, hujan deras memicu tanah longsor salah satu tepi pantai di Jepang, Atami, dan menewaskan dua orang dan 20 lainnya dinyatakan hilang.

Meski terlalu dini untuk mengatakan bencana ini terkait dengan perubahan iklim, tetapi jelas bahwa peristiwa semacam ini lebih mungkin terjadi karena pemanasan global dan peningkatan curah hujan.

Para peneliti sebelumnya juga telah mencoba memahami bagaimana perubahan iklim memengaruhi curah hujan. Hanya saja, hasil penelitian tersebut tekesan lemah karena   variabilitas alami dan pengamatan yang terbatas.

KLIK INI:  Dilema Privatisasi Air, Kuasa Rakyat atau Kuasa Korporasi?

Untuk mengatasi masalah tersebut, studi baru menggunakan bantuan Machine learning-based methods  dapat menjelaskan masalah ini.

Dengan metode tersebut ditemukan bahwa pengaruh yang jelas dari  perubahan iklim adalah dorongan manusia. Hal itu dapat dideteksi di semua kumpulan data pengamatan global.

Machine learning secara efisien menghasilkan banyak bukti yang mendukung deteksi sinyal antropogenik dalam curah hujan ekstrem global,” tulis studi tersebut.[4]

Beberapa daerah dengan pengaruh perubahan iklim yang paling jelas mempengaruhi curah hujan adalah wilayah monsun Asia Timur dan Afrika, serta jalur badai Pasifik Utara dan Atlantik.

Di sisi lain, tidak ada pengaruh perubahan iklim terhadap curah hujan yang ditemukan di zona subtropis kering dan semi-kering seperti gurun Afrika Utara dan Timur Tengah, Afrika Selatan, wilayah kering dan semi-kering Australia, serta wilayah basah seperti bagian tengah dan barat laut Amerika Selatan.

Seperti yang ditunjukkan, perubahan curah hujan tidak akan seragam di seluruh planet ini dan beberapa wilayah akan mengalami kekeringan yang lebih intens dan lebih lama.

Catatan:

Data diramu dari beberapa sumber. Khusus mengenai perubahan iklim yang didorong oleh aktivitas manusia diterjemahkan langsung (dengan beberapa perubahan redaksi) dari https://www.iflscience.com/environment/humandriven-climate-change-has-already-increased-extreme-rain-and-snow/

[1] https://www.bmkg.go.id/press-release/?p=siaran-pers-update-perkembangan-siklon-tropis-seroja-dan-pertumbuhan-siklon-tropis-odette&tag=press-release&lang=ID

[2] https://www.bmkg.go.id/press-release/?p=la-nina-bertahan-hingga-mei-2021-58-wilayah-zona-musim-terlambat-masuk-musim-kemarau&lang=ID

[3] https://www.nature.com/articles/s41467-021-24262-x

[4] https://www.iflscience.com/environment/humandriven-climate-change-has-already-increased-extreme-rain-and-snow/

KLIK INI:  Akibat Perubahan Iklim, Gunung Denali Terancam Dibanjiri 60 Ton Tinja Manusia