Siarkan Keindahan Alam Lewat Media Sosial, Kenapa Tidak?

Klikhijau.com - Keindahan alam memang amat menarik dibagikan melalui media sosial. Ini satu strategi komunikasi yang menginspirasi banyak orang. Sobat Hijau pernah dengar strategi komunikasi? Jika bel...

Siarkan Keindahan Alam Lewat Media Sosial, Kenapa Tidak?
Bacakan Artikel

Pada akhirnya 40 peserta telah mampu menyelesaikan pelatihan selama sepuluh hari itu. Peserta berasal dari unit pelaksana teknis balai taman nasional, balai konservasi sumber daya alam, balai diklat LHK, widyaiswara Pusdiklat, hingga staf Direktorat PJLHK. Peserta tersebar mulai Sumatera hingga Papua.

Evaluasi

Setelah beberapa bulan berlalu. Ditjen KSDAE bekerjasama dengan USAID BIJAK dan Pusdiklat SDM LHK melakukan evaluasi pasca pelaksanaan pelatihan. Rencana aksi menjadi fokus evaluasi. Peserta telah menyusun rencana aksi strategi komunikasi saat pelatihan berlangsung.

Mengevaluasi progres penerapan pasca pelatihan. Evaluasi peserta kemudian berfokus pada sepuluh peserta pilihan. Surat rencana evaluasi pun dilayangkan Ditjen KSDAE melalui Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK). Meminta sepuluh peserta terpilih menyusun bahan presentasi untuk pemaparan pada tanggal 10 s.d 11 Februari 2021.

Peserta terpilih berasal dariย  Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Balai Besar KSDA Papua Barat, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Balai Taman Nasional Bunaken, dan Balai Besar Bromo Tengger Semeru.

[irp]

Saya mewakili Balai Taman Nasional Bantiurung Bulusaraung. Kelima peserta pertama melakukan presentasi pada tanggal 10 Februari 2021.

Lima lainnya berasal dari Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Balai Taman Nasional Bali Barat, Balai Besar KSDA Sumatra Utara, Balai Taman Nasional Gunung Palung, dan Balai Taman Nasional Bukit Dua Belas.

Mereka melakukan presentasi progres rencana aksinya pada tanggal 11 Februari 2021.

Pertemuan daring pada Rabu (10/2), berlangsung melalui aplikasi virtual. Peserta yang hadir mencapai 26 orang. Sedikit ramai karena setiap peserta hadir bersama seorang mentor. Mentor umumnya kepala unit pelaksana teknis (UPT). Saya sendiri dimentori kepala balai taman nasional saya.

Hadir juga beberapa pemateri, widyaiswara dan panitia Pusdiklat SDM LHK, USAID BIJAK, dan PJLHK.

Pertemuan dalam jaringan hari itu dimulai dengan sambutan. Kemudian berlanjut dengan materi kesetaraan gender. Chitra Hariyadi, pembawa materi dari USAID BIJAK, mencerahkan tentang stereotip gender.

[irp]

Pengalaman peserta

Sesi selanjutnya adalah paparan lima peserta pelatihan. Kelima peserta memaparkan progres pencapaian rencana aksinya. Materi mereka sajikan dengan power point yang menarik. Tak hanya itu penjelasan setiap materi pun sangat jelas dan detail.

Pengajar yang berasal dari praktisi pun menanggapi. Novianto Bambang, Widyaiswara Pudiklat SDM LHK, menjadi moderator. Menjadi pengatur jalannya diskusi.

Adalah Hasudungan Sirait, pengajar materi komunikasi, menggantikan Feby Siahaan karena berhalangan hadir. Has,ย  sapaan akrabnya kemudian mulai mengenalkan diri. Menceritakan perjalanannya menjejaki beberapa taman nasional di nusantara. Taman Nasional Bunaken dan Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat adalah beberapa di antaranya.

Menurut Has, komunikasi itu adalah bagaimana menyampaikan pesan. Lebih jauh ia menjelaskan bahwa prinsip menyampaikan pesan itu mengandung prinsip 5W1H. "Paling tidak mengandung 3W. What, Who, dan Why."

Ia kemudian menjelaskan satu per satu. What, berarti apa yang akan kita sampaikan ajakan, bantahan ataukah koreksi. Who, berarti siapa yang berbicara dan siapakah yang diajak bicara. Sedangkan Why, mengandung makna: mengapa perlu berpesan? Apa tujuannya?

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: