Seperti Pernah

Rumpun bambu itu telah ada, jauh sebelum Puang Lamintang lahir, lelaki paling tua di kampung itu. Tak ada yang tahu sejak kapan tumbuh. Tak ada juga saksi mata yang melihat siapa yang menanamnya atau...

Seperti Pernah
Bacakan Artikel

Rumpun bambu itu telah ada, jauh sebelum Puang Lamintang lahir, lelaki paling tua di kampung itu. Tak ada yang tahu sejak kapan tumbuh. Tak ada juga saksi mata yang melihat siapa yang menanamnya atau tahu siapa pemilik pertamanya.

Bambu tersebut berada di kebun kopi seluas setengah hektar yang telah tujuh kali berpindah pemilik tanpa sertifikat. Hanya kesepakatan lisan saja antara penjual dan pembeli. Tapi, bambu yang terletak di sebelah utara, yang di bawahnya terdapat sumur tak pernah masuk dalam transaksi jual beli. Padahal posisinya terdapat dalam kebun kopi tersebut.

Walaupun tak jelas siapa pemiliknya, setiap musim cengkih atau ada orang yang perlu selalu saja datang ke rumah pemilik kebun meminta bambu. Entah sebagai tangga untuk memetik cengkeh atau walasuji di pesta pernikahan atau untuk keperluan apa saja. Karenanya pula tak ada warga yang rela mengambil rebungnya.

Menurut cerita warga ketika aku pertama datang ke kampung itu. Bambu tersebut sering mengeluarkan jerit serupa bayi menangis. Selalu seperti itu ketika ada yang akan membeli kebun kopi itu. Seakan tak tega memiliki tuan. Pernah saat pembeli ketiga memasukkannya ke dalam daftar jual beli. Rumpun bambu itu aโ€™rekuq, (berderit) setiap malam, sehingga tak ada warga yang bisa tidur. Teror ketakutan menyebar ke mana-mana.

[irp]

Saat itu warga percaya jika ada perbuatan amoral terjadi dalam kampung menyebabkan bambu itu menangis. Warga saling tuduh, nyaris terjadi pertumpahan darah. Ketika kondisi kian cekam, Puang Kamaruddin ย didatangi seorang perempuan yang menggendong anaknya, memohon agar bambu itu tak dijual.

Bambu pengusir penjajah

Puang Kamaruddin menceritakan kisah itu, hingga warga beramai-ramai protes. Hasilnya bambu tersebut tak masuk transaksi jual beli, dan semuanya kembali normal. Bambu tersebut tak pernah tega dijual, harus dalam status bebas pemilik.

Bambu itu tumbuh untuk keperluan orang banyak, hingga tak bisa diperjual belikan. Dan anehnya, sebanyak apapun ditebang, seperti tak pernah berkurang. Berbagai mitos berkembang mengenainya.

โ€œKonon, bambu runcing pertama yang digunakan para pejuang di kampung ini mengusir penjajah berasal dari bambu itu,โ€ jelas Puang Kamaruddin ketika kutanyakan perihal pohon bambu itu saat aku hendak membeli kebuh tersebut darinya.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: