Sebatang Pohon Janji

Sudah lama dia susah tidur. Itu terlihat dari kantong matanya yang tebal. Ada lingkaran hitam di kelopaknya. Matanya terlihat lelah.  Sejak kepergian suaminya,  dia lupa cara tidur lelap bagaimana. Pa...

Sebatang Pohon Janji
Bacakan Artikel

Hania kembali mengelus perutnya yang datar. Kenangan malam pertamanya  dengan Suardi melibas. Rindunya kian menggilas. Dia merasa rindu  telah mencukupkan sepinya. Melengkapinya dengan luka. Tapi dia tak menangis.

“Pulanglah, kekasihku!” bisiknya.

Reranting pohon cengkeh itu merambat ke kamarnya. Hania terkejut. Reranting tersebut mengelus wajahnya. Dia nyaris pingsan mendapati keanehan itu. Rasanya tak mungkin reranting pohon cengkeh bisa menjalar hingga ke kamarnya, dan berubah seribu sembilan puluh sembilan wajah Suardi. Dia ingin lari--menjerit ketakutan. Tapi, dedaunan cengkeh tersebut menutup mulutnya dan rerantingnya merangkulnya hangat. Serupa pelukan Suardi di tengah gerimis. Dan Hania sungguh tak mengerti. ###

Catatan:

Tersiar di buku Tetirah

Pilih Halaman: