Warani

Suara ribut di ruang dapur lain dari biasanya. Serupa ada yang sedang berontak ingin lepas. Jika saja ada orang yang baru berkunjung ke rumah, ia pasti akan merinding ketakutan. Tapi, aku yang telah t...

Warani
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Suara ribut di ruang dapur lain dari biasanya. Serupa ada yang sedang berontak ingin lepas. Jika saja ada orang yang baru berkunjung ke rumah, ia pasti akan merinding ketakutan. Tapi, aku yang telah terbiasa mencoba mengabaikannya. Meski pikiran aneh juga merasuk ke pikiranku. Bahkan, aku gentar keluar kamar.

Suara gaduh kian menjadi-jadi di ruang dapur. Rasa penasaran memenuhiku. Aku memberanikan diri keluar kamar sambil membawa badik warisan leluhur yang terkenal moso atau beracun.  Berjaga-jaga itu penting, apalagi suara gaduh tersebut   mencurigakan.

Aku khawatir pencuri yang masuk ke rumah atau parakang yang berniat memangsaku karena tahu aku sedang sendiri. Parakang adalah manusia jadi-jadian, makhluk mistis  yang bisa menjelma jadi apa saja yang diinginkan, suka memakan orang.  Mengerikan.

Di tepi senja tadi, aku memasang perangkap  tikus  dengan umpan ikan kering. Namun, Jika hanya tikus  terperangkap, tak mungkin segadu itu. Atau jangan-jangan tikusnya sangat besar, hingga kekuatannya juga besar untuk lepas dari perangkap yang aku pasang. Aku melangkah keluar kamar sepelan mungkin—pintu kamar tak mengeluarkan derit.

Lampu sengaja tak kunyalakan, cahaya lampu dari jalan dan juga lampu tetangga menerabas masuk ke rumah.  Aku tak ingin ketika menyalakan lampu penyebab suara gaduh tersebut akan menghilang.

Apakah benar tikus membuat gaduh atau bukan? Jika tikus bagaimana besarnya? Rasa penasaran membuat takutku meluruh. Badik kuhunus dan mata tetap awas. Langkahku kupelankan, sepelan mungkin.

Setelah dekat, jantungku berdebar melebihi batas normalnya. Suara gaduh itu kian menjadi. Aku melangkah kian dekat ke arah suara tersebut. Badik di tanganku telah sangat awas untuk menikam jika ada hal yang tak diinginkan.

Perangkap tikus yang kupasang telah terseret jauh. Rupanya benar, hanya suara dari perangkap itu. Aku kian penasaran, bagaimana besarnya tikus tersebut? Segera saja kunyalakan lampu di ruang dapur.

“Sial,” umpatku ketika melihat seekor tikus berusaha kabur dari perangkapnya. Tikus itu tak terlalu besar, tapi  gesit dan  matanya liar menatapku.

*****

Jika saja tidurku tidak terusik malam ini, maka persoalan tikus adalah hal sepele. Tak perlu diumbar. Tak usah membuat kaget. Apalagi di rumahku yang rumah panggung, terletak di pinggir jalan dengan selokan  tak terurus. Kolong rumah terbaikan, plafon yang bocor, dinding papan yang telah banyak berlubang. Jendela  yang kadang tetap nganga membuat tikus leluasa main petak umpet. Tapi, malam ini berbeda.

Kotorannya tiap pagi berserakan di lantai. Penutup makanan yang terbuat dari plastik akan koyak, semua perabot rumah berhamburan. Binatang pengerat itu sangat usil. Tak jarang sisa makanan berhamburan pula di lantai. Rasanya menyebalkan, tapi aku suka atraksi tikus yang berhamburan ketika aku masuk ke rumah. Puluhan tikus akan berhamburan menyelamatkan diri, tak jarang ada yang lari ke arahku. Menabrak kakiku yang telanjang.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2