Warani

Suara ribut di ruang dapur lain dari biasanya. Serupa ada yang sedang berontak ingin lepas. Jika saja ada orang yang baru berkunjung ke rumah, ia pasti akan merinding ketakutan. Tapi, aku yang telah t...

Warani
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Dulu, dulu sekali ketika rumah masih ramai oleh suara anggota keluargaku. Ketika Ayah dan Ibu belum meninggal, ketika lima saudaraku belum menikah dan hijrah ke kampung lain. Tikus tak berani masuk ke rumah.

Apalagi ada Warani, nama kucing hitam legam yang kami punya. Tikus tak berani mendekat, sebab penciuman Warani sangat tajam. Jika ada bau tikus yang tertangkap penciumannya, ia akan bergegas mencari tikus tersebut hingga ke persembunyiannya yang paling sulit dijangkau.

Namun, nasib tragis menimpa Warani, sekumpulan kucing liar mengoroyoknya ketika ia mengejar tikus hingga  hingga keluar rumah. Tiga sampai lima ekor kucing menyerangnya  dari berbagai arah. Bukannya kucing-kucing itu membantu si Warani menangkap tikus,   justru sebaliknya, tubuh Warani dikoyak.

*****

Warani ditemukan oleh kakak pertamaku pada suatu malam  yang hujan. Hanyut di selokan depan rumah lalu tersangkut pada ranting pohon jambu biji. Warani yang masih belia meraung menyedihkan.

Kakakku tak tega mendengarnya atau karena tidurnya terusik sehingga ia memutuskan turun dari rumah panggung kami, mencari arah suara Warani, cahaya senternya ke sana kemari. Hujan diabaikan, ketika melihat tubuh mungil Warani  yang telah kuyup dan terlihat payah. Ia segera turun ke selokan—menyelamatkan kucing sial itu. Ayah datang membantunya.

Kakakku membawanya naik ke dalam rumah. Seisi rumah terbangun oleh suara Warani yang menyedihkan. Kakakku membawanya ke dapur, ia menyalakan api lalu menghangatkan tubuh belia Warani di dekat perapian.

Malam  itu jarum jam menunjukkan angka dua lewat sembilan menit di dini hari. Kami sekeluarga tak ada lagi yang tidur. Semua seakan penasaran dengan kucing yang ditemukan kakakku di selokan depan rumah di dini hari.

Pagi harinya, kucing tersebut telah bugar berlari ke sana kemari. Ia langsung menemukan tiga ekor tikus di hari pertamanya di rumah kami. Maka, ayahku kemudian memberinya nama Warani, karena memiliki sifat tak gentar menghadapi tikus. Warani jadi keluarga kami yang kedelapan dengan kepala keluarga tetaplah Ayah yang menaungi tujuh anggota keluarganya,  termasuk Warani.

Ayah sangat menyayangi Warani. Barangkali karena kucing itulah yang mencairkan kebekuan hubungan Ayah dengan kakakku. Kakakku, suatu ketika dilarang merokok oleh Ayah, tapi ia tak mau mendengar. Ia menentang Ayah—mencak-mencak dengan wajah merah darah—marah, sangat marah.

Sejak kejadian itu kakakku tak pernah lagi ke kebun dan sawah membantu Ayah. Ia jarang pulang ke rumah,  hanya sesekali saja pulang meminta uang kepada Ibu. Itupun jika Ayah tak ada.

Tapi entah kenapa, malam itu kakakku pulang dan bermalam di rumah. Ia tak bertegur sapa dengan Ayah. Tapi, suara gaduh Warani dari selokan depan rumah membuat dua lelaki itu saling membantu.

Ayah memegang senter ketika kakakku turun ke selokan yang airnya menderas karena hujan mendera untuk menyelamatkan Warani. Aku dan Ibu menyaksikannya dari selasar rumah panggung kami. Mata Ibu terlihat binar. Ia tersenyum tanpa disadari. Dua lelaki yang menyempurnakannya menjadi perempuan kembali menyatu. Kedua lelaki itu berdamai tanpa syarat.

Jika saja cahaya senter Ayah mengarah ke arah Ibu. Tentu aku akan leluasa menyaksikan air mata bahagianya. Tapi, aku gagal melihat Ibu menanngis bahagia malam itu. Namun, senyuman paling indah Ibu aku lihat saat itu. Barangkali senyum indah itulah yang membuat Ayah dulu jatuh cinta kepadanya.  Aku kembali temukan senyum semringah Ibu ketika kakak pertamaku menikah, enam bulan pasca penemuan Warani.

*****

Sebagai bungsu dari lima bersaudara. Aku paling terakhir yang akan menikah. Itu tradisi keluarga yang tak bisa diterabas. Keempat saudaraku telah memiliki rumah sehingga jarang pulang. Tugaskulah yang  mengurusi Ayah dan Ibu.  Sayangnya, ketika giliranku yang akan menikah. Kedua orang tuaku telah menghadap yang seharusnya. Sepeninggal orang tuaku,  aku mulai sendiri di rumah seperti lelaki sebatang kara. Kesepian menyergapku.

Ayah dan Ibu meninggal hampir bersamaan, hanya beda empat menit dua puluh detik saja. Dunia serasa jungkir balik saat itu. Ketika jasad Ayah terbaring kaku di ruang tamu, Ibu berkali-kali pingsan, barangkali karena tak tahan menahan dukanya yang nganga, Ibu akhirnya menyusul Ayah. Atau barangkali Ayah takut berjalan sendirian pada dunia yang entah hingga mengajak Ibu menemaninya, dan Ibu bersedia mengikuti ke mana pun lelaki yang dicintainya itu pergi.

Aku tak sanggup menangis saat itu, hanya diam saja tanpa mampu seisak pun suara tangis yang keluar. Dadaku serasa tersumbat. Kesedihan dan duka yang sangat dalam rupanya tak mampu melahirkan air mata—aku sulit bernapas ditetak kesedihan.

Sebulan pasca  pasca pemakaman Ayah dan Ibu. Warani juga menyusul, tubuhnya dikoyak kucing liar ketika keluar rumah mengejar tikus buruannya.  Aku yang penakut harus tinggal sendirian di rumah. Karena tak punya pilihan lain, aku yang awalnya penakut menjelma menjadi pemberani memilih tinggal sendirian di rumah peninggalan orang tuaku. Bertahun-tahun aku tinggal sendiri, tak pernah ada suara segaduh malam ini, yang hanya  disebabkan seekor yang tidak terlalu besar. Aku terjaga tengah malam dengan sedikit gemetar. Bayangan keluargaku terbayar tunai.

*****

Aku bayangkan jika pencuri yang masuk ke rumah karena mengira masih ada cengkeh yang belum kujual akan kecewa. Dan kekecewaannya dilampiaskan kepadaku, aku yang tinggal sendiri akan dengan mudah akan dibunuh oleh pencuri tersebut.

Pasti tak akan ada tetanggaku yang tahu nyawaku telah tiada, karena sejak orang tuaku meninggal sangat jarang ada orang yang berkunjung ke rumah. Satu-satunya yang akan mengabarkan  kepada tetanggaku jika aku telah meninggal dunia hanyalah bau jasadku yang membusuk.

Jika aku terbunuh malam ini, tentu keempat kakakku akan kembali bereuni di rumah panggung ini. Mereka akan datang menangisi jasadku yang tak lagi utuh karena membusuk. Untungnya yang membuat gaduh malam ini hanyalah seekor tikus, bayangkan hanya seekor saja, tapi seisi rumah serasa diobrak-abrik.

Bagaimana kalau lusinan tikus yang menyerbu rumah? Pasti seluruh penghuni kampung akan terusik dan berhamburan ke rumahku karena penasaran ingin tahu apa yang terjadi.

Setelah melihat dengan pasti jika hanya tikus yang buat gaduh, aku merasa lega. Aku kemudian membuang tikus itu ke kloset—menyiramnya hingga tak lagi terlihat, biar saja tikus itu bercampur dengan kotoran di bak penampungan bagian belakang rumah. Tapi, aku tak bisa lagi tidur malam ini.

Aku tiba-tiba rindu Ayah dan Ibu, aku juga rindu memiliki kucing seperti Warani yang bisa memberantas tikus di rumahku—sungguh, aku sangat rindu. ###

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2