Sebatang Pohon Janji

Sudah lama dia susah tidur. Itu terlihat dari kantong matanya yang tebal. Ada lingkaran hitam di kelopaknya. Matanya terlihat lelah.  Sejak kepergian suaminya,  dia lupa cara tidur lelap bagaimana. Pa...

Sebatang Pohon Janji
Bacakan Artikel

Apa yang dilakukan Suardi sontak jadi perbincangan warga. Apapun itu, jika hal tak lumrah maka akan mengagetkan, meskipun mengandung kebaikan. Ritual foto bersama tak dilakukan di pelaminan, tapi di dekat pohon cengkeh yang baru ditanam.

“Mungkin pesan yang ingin disampaikan Suardi agar kita menjaga lingkungan dan bersyukur sebagai petani,” ujar Puang Hamasing di sela foto bersama.

“Anak muda sekarang  appaumba masagala ‘menciptakan sesuatu yang langka” ujar Puang Ranang sinis, diamini beberapa warga.

***

Dia masih berdiri di depan jendela kamarnya. Menatapi pohon cengkeh kenangan itu. Dia merasa sendiri setelah Suardi setahun lalu memilih ke kota dan lupa pulang. Tak ada kabar. Dia jadi perempuan dengan rindu yang menggila. Bayangan rumah tangga yang utuh dan bahagia berantakan. Pohon cengkeh yang ditanam di hari pernikahannya itu kini mulai berbuah. Dan jadi kenangan yang buat matanya selalu gerimis.

“Rawatlah pohon cengkeh ini, seperti kau merawat cintamu kepadaku,” bisikan Suardi kembali terngiang pagi ini. Dia tersenyum masam. Kehidupan seperti hilang dalam senyumnya. “Dasar pengkhianat,” umpatnya sambil mengelus perutnya. Janin yang ada di dalam sana telah hilang. Dia keguguran sebulan setelah Suardi pergi.

“Aku ingin mencari pekerjaan di kota untuk membeli bibit cengkeh sebagai bekal hidup anak kita kelak,” kata-kata itu selalu saja basah dalam ingatannya. Suardi mengatakannya sambil mengelus perutnya. Dan esoknya, Suardi benar-benar ke kota. Karena guncangan rindu yang gelitar dan susah tidur. Janin dalam kandungannya mengalah dan keluar lebih cepat. Pendarahan hebat nyaris merengkuh nyawanya.

Daeng pasti kecewa jika mendengar aku keguguran,” bisiknya risau sambil terus memandangi pohon cengkeh yang dia tanam bersama Suardi di hari pernikahannya.

Sejak setahun terakhir  berita selingkuh suaminya dengan perempuan kota hampir tiap hari didengarnya. Sejak itulah dia memilih tidak keluar rumah. Dia tak ingin mendengar berita tersebut. Tapi, gosip serupa angin pagi. Bisa menembusi celah sempit sekalipun.  Berita itu  sampai juga di telinganya. Hal itulah yang buatnya susah tidur ditambah dengan tikaman rindu yang memalut. Lelap semakin enggan sampir kepadanya.

Jelang siang Hania belum juga keluar kamar. Dia masih menatapi pohon cengkeh itu. Merasai segala sepi yang amis. Merasai rindu yang manja, merasai sentuhan romantis Suardi. Dia pejamkan mata, membayangkan suaminya pulang dengan berkarung-karung bibit cengkeh.  .

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: