Musim Salju Tak Selamanya Indah, Ia Juga Menyimpan Kecemasan

Publish by -8 kali dilihat
Penulis: Arief Balla
Musim Salju Tidak Selamanya Indah, Ia Menyimpan Kecemasan
Salju menutupi mobil/foto-Ist

Perasaan sendiri dan sendu bisa memancing perasaan stres terutama jika beban tugas kuliah yang makin berat.

Klikhijau.com – Saat akan berangkat studi ke Amerika Serikat, saya memiliki pilihan. Saya bisa memilih ke Arizona atau Illinois. Saya menghubungi seorang senior yang pernah tinggal di sana dan bertanya,

“Yang mana ada saljunya?”
“Illinois.”

Dengan keyakinan utuh, haqqul yaqin, saya mantap memilih Illinois. Illinois ini masuk daerah mid-west, yaitu bagian tengah-tengah wilayah Amrik.

Daerah bagian ini mendapat jatah salju meski tidak sebanyak di bagian East Coast (New York, Maryland dsb). Dengan kata lain, saljunya tidak terlalu banyak tetapi juga lebih dari cukup.

KLIK INI:  Bakteri Penyumbang Oksigen di Bumi Terancam Plastik di Laut

Sementara Arizona yang masuk wilayah West Coast adalah wilayah yang hampir bahkan beberapa bagian memang tidak kebagian salju, meski bagi banyak orang Indonesia, mereka mengira semua wilayah Amrik pasti mendapat salju. Ayolah, Amrik memilki luas empat kali lebih dari Indonesia.

Tetapi bagaimanapun, kurang lengkap rasanya jika ke Amrik tanpa merasakan sensasi salju. Menyaksikan butiran-butirannya menimpa kepala atau berjatuhan di balik jendela. Seperti di film-film itu.

Maka sekitar enam bulan setelah kuliah di Illinois, salju pertama turun. Saya bangun pagi-pagi dan keluar dari apartemen. Sekonyong-konyong merasakan sensasi salju. Hati berdebar seperti apakah salju itu, setelah dua puluh tahun lebih lamanya, salju sepertinya hanya ada dalam mimpi dan film-film belaka.

KLIK INI:  Ketika Perut Paus Sperma Berubah jadi Mall

Sayang, salju pertama itu tidak lebat. Pada siang, salju-salju itu sudah mencair semua dan seperti tidak meninggalkan apa. Beruntung tak lama kemudian, salju lebat turun. Seluruh halaman apartemen memutih. Mobil-mobil memutih penuh tumpukan salju yang menutupi seluruh dindingnya. Bunga-bungan seperti hamparan pasir putih di atasnya.

Jalanan pun penuh salju. Aspal yang hitam tidak kelihatan. Satu hari dua hari, musim salju seperti menyenangkan. Bukan cuma bagi seorang yang datang dari daerah tropis yang panas.

Orang-orang Amrik pun banyak yang merasa excited melihat salju turun. Ya pahami saja, meski mereka tinggal di negaranya yang punya empat musim, salju toh hanya turun pada musim dingin. Apalagi mereka yang tinggal di daerah West Coast seperti Arizona. Bahkan ada yang terbang ke wilayah Mid-West atau East-Coast yang punya stok salju.

Salju yang Merugikan

Namun, tiga hari atau lebih sesudahnya, salju seperti mulai membosankan. Setiap keluar harus menutupi tubuh dengan pakaian tebal dan hangat. Jika tidak, pipi seperti diiris-iris. Belum lagi dengan pelembab bibir agar bibir tidak semakin pecah-pecah. Saya juga harus banyak mengonsumsi Vitamin C agar tidak tumbang.

KLIK INI:  Tragis, Kepulauan Spermonde Semakin Terpuruk

Jika salju turun lagi dengan intensitas yang makin lebat, mobil-mobil pembersih salju sebesar buldoser turun tangan menyingkirkan salju yang menutupi jalanan dengan skopnya yang besar. Jalanan yang penuh salju bisa menjadi licin dan membahayakan pengendara.

Agar cepat meleleh, garam-garam ditaburkan di atas salju. Alhasil jika mobil melintas, sisa-sisa garam akan melengket pada velg mobil dan bagian lainnya. Menyebabkan bagian yang terkena bisa cepat rusak dan berkarat. Akhirnya ketika hendak dijual harganya jadi murah.

Hal lain ketika salju lama turun adalah matahari akan jarang muncul. Suasana ini bisa menghadirkan suasan sendu dan bisa berpengaruh pada psikologis. Perasaan sendiri dan sendu bisa memancing perasaan stres terutama jika beban tugas kuliah yang makin berat.

Saya bahkan sambil berharap saljunya cepat mencair dan matahari muncul lagi, terutama jika saya merasa stok foto-foto saya sudah cukup banyak.

KLIK INI:  Cerita "Manusia Rantai" di Kota Tambang yang Menyimpan Penderitaan
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!