Mencari Akar Permasalahan Sampah di Laut Darubiah

oleh -29 kali dilihat
Mencari Akar Permasalahan Sampah di Laut Darubiah
Aksi di Darubiah - Foto: Ist
Anjar S Masiga

Klikhijau.com – Berkarung-karung sampah berhasil dikumpulkan Kolaborasi Biru X Tim Dego-dego dari perairan Desa Darubiah, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba saat aksi bersih laut, Minggu, 15 Januari 2023. Padahal hanya sejam snorkling juga melibatkan tim kecil.

Meski arus sedikit deras, sebenarnya musim sedang bersahabat untuk laut bagian timur Bontobahari. Menurut warga setempat, ini bisa terjadi antara Oktober hingga April atau awal Mei. Keadaan sisi barat tentu saja berbanding terbalik. Ombak tinggi dan angin kencang, bahkan beberapa kapal mengalami kecelakaan.

Kapal-kapal tentu saja berteduh di laut yang tenang, seperti yang tampak dari tempat wisata Dego-dego. Mungkin sudah ratusan kapal silih berganti, keluar masuk, jenis tongkang yang memuat kayu hitam juga ada di antaranya. Ada yang hanya sehari dua hari, ada juga yang sampai berminggu-minggu bahkan berbulan lamanya.

Tidak seorangpun dari pengelola tempat wisata disekitaran Darubiah ini pernah melihat mereka memuat sampah untuk dibawa ke darat. Para pelaut tersebut ke darat hanya untuk keperluan perbekalan, seperti membeli berbagai jenis bahan makanan, rokok, dan lainnya.

“Tidak jelas dimana sampah mereka buang, dan belum pernah ada satupun kapal yang membawa sampahnya saya lihat ke darat,” sesal Indish Ezza Ruterpar, pengelola Dego-dego.

KLIK INI:  Darubiah, Desa Wisata di Selatan Sulsel dengan 10 Destinasi Andalan

Keberadaan kapal-kapal tersebut menarik perhatian di malam hari, membuat suasana menjadi ramai dan indah. Saat ini ada enam kapal yang sedang parkir, tiga kapal pesiar pinisi yang salah satunya beberapa pekan lalu mengalami musibah di perairan Tanah Beru. Namun dibalik eloknya pemandangan membawa ancaman bagi biota laut disekitarnya.

Dengan kondisi tersebut, meski musim sedang bagus namun mengganggu pengunjung wisata yang ingin menikmati keindahan bawah laut. Sampah-sampah mengambang, bersama potongan-potongan tumbuhan laut. Berbagai jenis limbah yang ditemui seperti plastik, karet, styrofoam potongan kayu dan ranting.

“Hasil memulung di laut hari ini yang mendominasi sampah plastik seperti kantong kresek, kemasan dan botol,” urai Usfatul Hasnidar Fauziah dari komunitas Kolaborasi Biru.

Dari hasil tersebut, lanjut Nidar, sapaan akrab atlet panjat tebing itu, merupakan presentasi sampah terbanyak sepanjang aktivitas Kolaborasi Biru di Dego-dego. Sekedar berbagi informasi, komunitas lokal itu secara rutin melakukan aksi pengurangan sampah laut sejak awal 2022.

KLIK INI:  Hentikan Penularan Penyakit, Lebah Juga Praktikkan Jaga Jarak

“Sampah yang kita hasilkan di laut itu tidak kita timbang karena kan kondisinya basah. Biasanya kita hanya menghitung dari kantong sampah yang kita bawa masing-masing,” jelasnya.

Sebagai masyarakat lokal dan juga pemerhati lingkungan, Indish berharap kesadaran pelestarian alam dilakukan secara bersama-sama demi menghasilkan dampak positif yang juga lebih besar. Saat tim gencar melakukan pengurangan sampah, di sisi lain oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab malah sekehendak hatinya melemparkan kotoran.

“Rasanya mereka (pelaut) itu diberi pembekalan pengetahuan juga terkait lingkungan termasuk bagaimana seharusnya sampah itu berakhir. Ini mesti jadi perhatian bersama, bagaimana pemerintah juga mengambil peran dalam melihat kondisi ini, sebagai hal yang penting disikapi,” jelasnya.

Wisata Bahari Bulukumba dengan kondisi sampah yang melimpah bukanlah kabar baru. Bahkan di tempat ternama sekelas Bali menghadapi permasalahan yang sama di waktu tertentu. Namun yang pelajari dari situasi tersebut adalah gagalnya pengelolaan sampah di daratan dan kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan yang kerap terjadi.

“Berbicara kondisi lingkungan ini memang berat jika dilakukan secara individual. Ini perlu kesadaran dari dalam dan perlu dilakukan banyak pihak dan terpenting ketegasan pemangku kebijakan,” katanya.

Aktivitas Kolaborasi Biru merupakan program sosial yang digerakkan melalui pendanaan masing-masing relawan yang terlibat. Di Dego-dego sendiri memiliki program bersama selain aksi pengurangan sampah laut juga transplantasi karang yang dilakukan paling kurang sekali dalam sebulan.

KLIK INI:  Perkenalkan, Ancaman Sungai di Dunia yang Bernama Antibiotik