Matamu Sungai Kecil

Warna Hujan   kubisikan padamu sekali lagi dan terakhir, wanaria warna hujan selalu sama? entah kau sedang sendiri atau berada pada sebuah pesta atau dalam pelukku sekalipun begitu kau l...

Matamu Sungai Kecil
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Redaktur Klikhijau.com, aktif menulis buku, puisi dan menyukai kopi ditengah kesibukannya mengaktivasi taman baca masyarakat.

Warna Hujan


 

kubisikan padamu sekali lagi dan terakhir, wanaria
warna hujan selalu sama? entah kau sedang sendiri atau berada pada sebuah pesta
atau dalam pelukku sekalipun

begitu kau lepas, hujan akan menyapa kepala dan semua hangat dalam tubuh
aku tahu, kau selalu menyukai hujan, seperti kau selalu menyukai mataku
ada persamaan, antara hujan dan mataku

sama-sama membawa petaka rindu, katamu

aku selalu pura-pura membersihkan kukuku yang tak kotor, setiap kau berucap begitu.
dan pipiku, barangkali memerah pagi

seminggu terakhir, langit terlalu banyak ngopi
langit begadang dan dalam begadangnya itu
ia terus saja menangis
melepas rindunya pada bumi

betapa air mata dan hujan hanya beda jumlah saja
warnanya tetap sama, wajahnya tetap serupa

Kindang, 17 Mei 2026

Matamu Sungai Kecil


 

sabtu pagi, dua bulan lalu. kau tetiba datang. matamu penuh kopi dan aku tak menyiapkan gula
kau terus bercerita tentang sampah-sampah yang menghuni kepalamu
aku hanya jadi pendengar saja. matamu menjadi sungai kecil yang disinggahi duddu pedo'

aku ingin bergegas lari. meninggalkanmu di sabtu pagi itu. tapi sungai kecil di matamu membanjiri, sampah berhamburan keluar dan aku tertimbun

tak bisa ke mana-mana
selain rebah ke pelukmu

Mei 2026

[irp]

Cahaya yang Merampas


 

malam tiba lebih lambat di bukit kecil belakang rumah. tempat kau merawat waktu yang abu-abu. melepas yang tak ingin pergi, menahan yang tergesa berlari

lampu-lampu menyala ramai. sekumpulan paconro terbangun, beterbangan mencari pisang yang hampir masak di pohonnya

lampu yang ramai itu, tak hanya merampas tidur paconro, tapi juga burung pipit, sriti, bangau, cui-cui didi, cui-cui padoleng hingga teo dan ku dan mu

dan kita menertawai mereka, sebab terbangun malam dan terbang lingu mencari makan

Tb, Mei 2026

[irp]