Pantai yang Bersalin Nama

Anak-anak berhamburan ketika lelaki itu datang. Meninggalkan mainannya di Turungan Ara. Lelaki itu datang tak sendiri. Ia bersama empat temannya. Semuanya menenteng  senjata. Berseragam tentara pula....

Pantai yang Bersalin Nama
Bacakan Artikel

“Ramadding, ini upahmu, cukup untuk melamar Sukahati,” kata Puang Lahamu sambil memberikan upah membuat perahu. Aku tak pernah berharap akan diupah. Bagianku pun hanya angkut kayu dan menghaluskan.

Aku bangga ikut serta membantu membebaskan Irian Barat. Aku ingin menolak upah itu, tapi Puang Lahamu mendesakku menerimanya.

Aku melirik ke arah Rahiming. Wajahnya memerah menahan geram.

[irp]

Aku tak pedulikan sikap Rahiming. Gerimis turun dan aku berlari ke Turungan Ara yang berpasir putih selumbut terigu.

Di sana, Sukahati sedang menikmati gerimis. Aku menghampirinya. Ia menghindar malu-malu.

“Ini,” kataku singkat sambil memperlihatkan upah yang kudapat dari Puang Lahamu. Suaraku bergemuruh.

Sukahati tak menyahut. Wajahnya memerah.

Suka cita kemenangan

Operasi Mandala yang dipimpinan Mayjen Soeharto berhasil. Orang-orang di kampungku bergembira. Mereka membakar semua ikan hasil tangkapan nelayan. Lalu berpesta di Turungan Ara.

Mereka bersuka cita, sebab jadi bagian dari kemenangan itu. Kemenangan bersejarah. Dan kampungku, Ara mengambil bagian dari sejarah itu.

Dan ketika aku menjadi kepala Desa Ara di tahun 1970an. Aku mengganti nama Turungan Ara  menjadi Pantai Mandala Ria. Pantai yang memiliki pasir putih menghampar indah, ombak yang bernanyi sepanjang waktu.

Nama itu untuk mengenang Pembebasan Irian Barat, agar selalu basah di ingatan. Ketika anak ketigaku lahir adalah Perempuan. Aku dan Sukahati sepakat menamainya Manda Ria. Itu tanda terima kasihku pada Mayjen Soeharto yang telah mencukupkan uang panaiku.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: