Pantai yang Bersalin Nama

Anak-anak berhamburan ketika lelaki itu datang. Meninggalkan mainannya di Turungan Ara. Lelaki itu datang tak sendiri. Ia bersama empat temannya. Semuanya menenteng  senjata. Berseragam tentara pula....

Pantai yang Bersalin Nama
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Rahiming, adalah anak Puang Lahamu, sang panrita lopi. Ayah Rahiminglah yang dicari lelaki berseragam dan menenteng senjata itu.

Ketika mereka menuju rumah Puang Lahamu. Aku, antara senang dan takut. Senang karena jika ayah Rahiming ditangkap. Persainganku dengannya bisa berakhir.

Namun, jika Puang Lahamu ditangkap, siapa yang akan mengajariku membuat lopi  ‘perahu, kapal’. Kampungku, Ara, Bulukumba adalah kampung para panrita lopi—ahli membuat perahu—perahu pinisi.

Pembuka pintu jodoh

Malam tiba, lelaki itu tak pulang. Warga kampung Ara dipanggil ke rumah Puang Lahamu. Di sana, lelaki itu bercerita—Irian Barat berada dipusaran konflik. Belanda tak ingin menyerahkannya ke dekapan Indonesia. Padahal Indonesia telah merdeka. Tak ada alasan Belanda tak angkat dari sana.

Kebebalan Belanda mencetuskan ide Tri Komando Rakyat (Trikora) 19 Desember 1961. Diutuslah Mayjen Soeharto oleh Presiden Soekarno untuk melawan Belanda yang tak tahu diri itu.

Demi kelancaran serangan, dibentuklah Operasi Mandala. Pemimpinnya  adalah Mayjen Soeharto. Mereka bermarkas di Makassar. Jaraknya 164.15 km dari Bulukumba.

“Kami butuh perahu kecil untuk menyusup, semacam sekoci untuk pendaratan,” terang lekaki itu. Lalu ia menyesap kopinya dengan sangat nikmat. Wajahnya kini lebih ramah, meski senjata tetap dalam pangkuannya.

“Alimin ini adalah orang Bulukumba, dialah yang menunjukkan kampung pembuat perahu ini. katanya di kampung inilah pinisi dibuat,” kata lelaki itu lagi. Ia menunjuk lelaki di samping yang berambut sedikit panjang.

“Berapa banyak perahu, Pak,” tanya Puang Lahamu.

“20, ukurannya 9 x 2 x 0,90 meter. Kerjakan dalam waktu singkat, 20 hari saja. Jadi satu perahu dikerjakan satu hari,” tegas lelaki itu. Tak ada tawar menawar, termasuk upah para pekerja.

Puang Lahamu terlihat lemas. Ia menatap para tetamu malam itu di rumahnya. Meminta persetujuan. Tapi kami hanya diam saja.

Kami bersyukur, kampung kami dilirik oleh komandan Operasi Mandala, Soeharto. Kami dilibatkan dalam pembebasan Irian Barat.

Siang dan malam kami bekerja. Tak ada kata istirahat. Tak ada kata lelah. Dan ajaib, perahu pesanan Soeharto itu selesai hanya dalam waktu 18 hari saja.

Turungan Ara bersalin wajah

Lelaki itu datang lagi. Kali ini anak-anak tak lagi berhamburan lari bersembunyi. Mereka meneriakkan sumpah pemuda. Para tentara yang mengikuti lelaki itu, terlihat sangat menikmati keindahan Turungan Ara (Pantai Ara).

“Ramadding, ini upahmu, cukup untuk melamar Sukahati,” kata Puang Lahamu sambil memberikan upah membuat perahu. Aku tak pernah berharap akan diupah. Bagianku pun hanya angkut kayu dan menghaluskan.

Aku bangga ikut serta membantu membebaskan Irian Barat. Aku ingin menolak upah itu, tapi Puang Lahamu mendesakku menerimanya.

Aku melirik ke arah Rahiming. Wajahnya memerah menahan geram.

Aku tak pedulikan sikap Rahiming. Gerimis turun dan aku berlari ke Turungan Ara yang berpasir putih selumbut terigu.

Di sana, Sukahati sedang menikmati gerimis. Aku menghampirinya. Ia menghindar malu-malu.

“Ini,” kataku singkat sambil memperlihatkan upah yang kudapat dari Puang Lahamu. Suaraku bergemuruh.

Sukahati tak menyahut. Wajahnya memerah.

Suka cita kemenangan

Operasi Mandala yang dipimpinan Mayjen Soeharto berhasil. Orang-orang di kampungku bergembira. Mereka membakar semua ikan hasil tangkapan nelayan. Lalu berpesta di Turungan Ara.

Mereka bersuka cita, sebab jadi bagian dari kemenangan itu. Kemenangan bersejarah. Dan kampungku, Ara mengambil bagian dari sejarah itu.

Dan ketika aku menjadi kepala Desa Ara di tahun 1970an. Aku mengganti nama Turungan Ara  menjadi Pantai Mandala Ria. Pantai yang memiliki pasir putih menghampar indah, ombak yang bernanyi sepanjang waktu.

Nama itu untuk mengenang Pembebasan Irian Barat, agar selalu basah di ingatan. Ketika anak ketigaku lahir adalah Perempuan. Aku dan Sukahati sepakat menamainya Manda Ria. Itu tanda terima kasihku pada Mayjen Soeharto yang telah mencukupkan uang panaiku.

Resah yang menanak dirinya

Deburan ombak Pantai Mandala Ria masih sama. Di usiaku yang semakin senja. Aku dan Sukahati kerap menghabiskan waktu di pantai. Mengenang masa muda kami yang romantis.

Pantai Mandala Ria kini tak lagi sama, telah tersulap jadi tempat wisata. Orang-orang ramai berkunjung. Kunjungan yang membawa suka cita.

Sayangnya, kunjungan itu juga membawa duka cita. Pengunjung membuang sampah seenaknya.

Di usia kami yang senja, kami kerap pula membersihkan pantai Mandala Ria. Sampah-sampah plastik yang di bawa pengunjung dan ombak merampas keelokannya.

“Bukan manusia, membuang sampah sembarangan.” Umpatan itu jadi ritus Sukahati setiap kami berkunjung ke pantai.

Setiap ia mengumpat begitu, aku melihatnya jauh lebih muda dari usianya. Sukahati kembali muda. Diam-diam aku selalu berdoa, semakin banyak yang membuang sampah di Pantai Mandala Ria agar Sukahati tak pernah menua. ***

Maret 2024

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2