Dihuni Sampah, Pasir Putih Pantai Mandala Ria Terancam Jorok

oleh -306 kali dilihat
Dihuni Sampah, Pasir Putih Pantai Mandala Ria Terancam Jorok
Sampah yang menghuni pantai Mandala Ria, Bulukumba/foto-ist
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Klikhijau.com – Kantuk masih menghuni matanya ketika kamu berjalan ke arahnya. Di tanganmu ada empat kerang berwarna putih. Kamu baru saja menemukannya di pantai Mandala Ria, Bulukumba.

“Banyak sampah,” katamu ketika jarak dengannya memungkinkan suaramu mengalahkan desau angin laut.

Ia agak terkejut mendengarnya, sebab ketika tiba, sampah tak terlihat. Mungkin karena tiba malam dan kondisi pantai tempat Panglima Mandala, Soeharto memesan perahu itu agak gelap.

“Saya bersih-bersih dulu,” lanjutmu sambil berjalan ke kamar mandi yang telah dipasangi tarif sesuai keperluan saat menggunakannya.

KLIK INI:  Soeharto, Pembebasan Irian Barat dan Cerita di Balik Penamaan Pantai Mandala Ria

Kamu berjalan ke kamar mandi, ia berjalan ke arah pantai. Di bibir pantai berpasir putih itu, ia menoleh ke kiri dan menemukan apa yang kamu katakan. Sampah berserakan yang didominasi sampah plastik dari gelas minuman.

Ia berjalan ke arah tumpukan sampah itu, tapi tak ada yang bisa dilakukannya selain hanya mengambil gambar. Rasanya tak mungkin jika yang membersihkannya hanya ia dan kamu.

Lagi pula perjalanan masih akan berlanjut pagi itu, Sabtu, 8 Juni 2019 itu ke Kecamatan Kajang. Sementara cuaca di Bulukumba hari itu lebih banyak hujannya dari pada teriknya.

Usai mengambil beberapa gambar melalui handphone, ia berjalan ke arah kedai. Itu kedai satu-satunya di pantai Mandala Ria, yang terletak di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari.

Di salah satu tempat duduk, seorang perempuan sedang mengupas bawang. Perempuan itulah pemilik kedai tersebut yang menyiapkan keperluan mendesak pengunjung, seperti minum dan kopi.

KLIK INI:  Panorama Hijau Tebing dan Pantai Marumasa di Selatan Sulsel

“Banyak sampah ya, Bu,” katanya kemudian setelah berbincang beberapa perihal.

“Iya, itu sampah kiriman,” jawab perempuan itu. Sampah kiriman yang dimaksud adalah sampah yang diantar gelombang ke pantai Mandala Ria.

“Tidak ada upaya membersihkan, Bu? tanyanya lagi.

“Tidak ada, pemerintah juga abai saja,” ungkap perempuan itu.

“Kalau pengunjung, Bu, tak pernah ada yang membersihkan?”

“Pengunjung bahkan menambah sampah” jawab perempuan itu ketus.

Jawaban itu terasa menamparnya sebagai pengunjung. Tapi tak terlalu perih, sebab ia telah berusaha berwisata ramah lingkungan, salah satunya adalah membawa tumbler sendiri dan tak membuang sampah sembarangan.

Ia tahu, persoalan sampah bukanlah persoalan individu, tapi persoalan semua orang. Pantai Mandala Ria—yang memesona itu jika sampah-sampah tak segera di tangani akan terlihat jorok dan tak menarik.

Apalagi ia hanya melihat satu tempat sampah yang disediakan. Pun sampah yang ditampung di tempat sampah itu entah dibuang ke mana. Mungkin saja hanya dibakar lalu abunya mengalir ke laut. Mungkin.

KLIK INI:  Taka Bonerate, Surga keanekaragaman Hayati di Selatan Sulsel