Alla’, Tempat Favorit Membuang Sampah

oleh -89 kali dilihat
Di Negara +62 Ini, Sepanjang Jalan adalah Tempat Sampah
Sampah yang menghuni pinggir jalan/foto-Ist
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Membuang sampah itu rutinitas. Tak ada orang  yang akan menyimpannya di rumah. Sebab akan melahirkan masalah, yakni bau, menyempitkan ruang, dan tentu merusak pemandangan dan mengusik kenyamanan.

Di Indonesia, aktivitas membuang sampah beragam.  Ada yang membuangnya di tempat sampah, tak sedikit pula yang membuangnya di sembarang tempat.

Tempat sampah umum dan Tempat pemrosesan Akhir (TPA) sampah dulu kepanjangan dari TPA adalah Tempat Pembuangan Akhir lalu kata pembuangan berubah jadi pemrosesan. Nah, TPA ini hanya tersedia di kota atau pinggiran kota, yang hanya mengakomodir sampah warga kota saja.

Sementara di kampung-kampung pengelolaan sampah tak ada, jangankan pengelolaannya, tempat menampungnya saja tak ada, apalagi mobil pengangkut sampah rasa-rasanya mustahil ada.

KLIK INI:  Zero Waste, Gerakan dan Sinergitas Tanpa Batas Melawan Sampah

Barangkali pemerintah mengira, hanya masyarakat kota saja yang menghasilkan sampah, masyarakat desa atau kampung tidak.

Padahal faktanya adalah setiap orang menghasilkan sampah. Tak terkecuali penduduk kampung, yang tak punya tempat pembuangan sampah secara khusus.  Jadinya, sampah di buang di sembarang tempat, selokan, sungai, belakang rumah hingga ke tanah kosong.

Perilaku membuang sampah sembarangan, sebenarnya tak hanya dianut penduduk kampung, tapi juga penduduk kota.

Karena itu, tak mengherankan jika sampah mudah ditemukan di mana-mana, bahkan hingga pinggir jalan raya yang menjadi tempat berlalu lintas kendaraan.

Perihal sampah di pinggir jalan, sepanjang pengamatan saya, semisal kemarin, 22 Juli 2022, ketika saya ke Soppeng, tumpukan sampah banyak berumah di pinggir jalan.

Ada yang aneh dan hampir sama di semua daerah, khususnya sampah yang berumah di pinggir jalan raya itu, yakni dominan terdapat di alla‘.

KLIK INI:  Limbah Pustaka, Membangun Generasi di Antara Sampah dan Buku-Buku

Alla’ merupakan bahasa Konjo yang bisa diartikan jarak, bisa pula tak ada. Kata ini lebih kerap digunakan untuk menunjukkan jalan di pinggirannya yang tak dihuni rumah penduduk.

Suasana jalan yang alla’ umumnya sepi, bahkan terkesan horor yang biasanya dihindari untuk diterabas apabila malam telah tiba.

Tempat favorit

Jika saja ada nominasi tempat favorit membuang sampah di pinggir jalan,  maka alla’ adalah yang terfavorit. Di sepanjang jalan  yang tak berpenghuni rumah penduduk itu tumpukan sampah akan sangat mudah ditemukan.

Saya menemukan fakta itu, bukan hanya di jalan ke Soppeng, tapi juga di sepanjang jalan menuju Pantai Bira, Bulukumba.

Di jalan poros Jeneponto-Makassar juga banyak terdapat sampah bertumpuk di pinggir jalan, dan tempatnya juga di alla’.

Fakta itu juga terlihat di jalan poros Makassar-Maros. Sederhananya, hampir semua jalan yang sepi atau rumah penduduk berjarak biasanya menjadi tempat sampah.

Entah kenapa alla’ menjadi tempat favorit menitip sampah. Di pingggir jalan, yang banyak rumah penduduk, tak ada sampah yang menggunung.

KLIK INI:  Malapetaka di Balik Pengolahan Sampah Popok Bayi yang Terabaikan
Penyebabnya

Dugaan sederhana saya, karena membuang sampah di tempat sepi dirasa lebih aman,  tak ada yang menegur dan juga marah.

Ditambah lagi, banyak yang menganggap membuang sampah di alla’ tak akan membahayakan, tak ada yang terusik baunya karena jauh dari jangkauan manusia.

Padahal sifat sampah bergerak, yang menggerakkannya bisa saja angin atau air saat hujan turun. Belum lagi akan mengganggu dan mengancam satwa liar, juga dapat mencemari tanah dan air.

Selanjutnya karena kesadaran yang berada di titik nol akan bahaya membuang sampah sembarangan. Dan tempat sampah di sepanjang jalan nyaris tak kita temukan. Khususnya jalan yang menghubungkan satu kota dengan kota lainnya.

Sementara di jalan-jalan di dalam kota, fenomena ini jarang kita temukan. Artinya persoalan sampah yang menumpuk bukan hanya terdapat dalam kota, tetapi juga di kampung, khususnya di pinggir jalan yang alla’, di mana rumah penduduk terentang jarak yang jauh satu sama lain.

Di tempat itulah yang berpeluang menjadi tempat sampah, entah siapa, pengendara atau penduduk sekitar?. Namun, pelakunya sudah pasti manusia. Ciptaan yang diserahkan tugas menjadi khalifah di Bumi—mewakili Tuhan untuk menjaga dan merawatnya.

Sayangnya, manusia pulalah yang paling lihai merusak Bumi dengan alasan demi kesejahteraan dan masa depan—mungkin alasan ini pulalah yang alla’ menjadi tempat favorit membuang sampah.

Hal yang pasti, tak ada orang yang menyukai sekitarnya kotor, namun tak merasa terusik jika mengotori tempat orang lain (pinggir jalan) dengan sampahnya.

KLIK INI:  Digital Decluttering, Cara Efekif Membersihkan Sampah Digital